Hoki Anak Baru

48 0 0
                                        

Oleh Paulus Subiyanto

Bobo No. 47/XXIX/02


Ada anak baru di kelasku. Namanya Hoki. Ia pindahan dari Jakarta. Menurut Pak Guru, Hoki menderita cacat bawaan pada syarafnya, namanya Cerebral Palsy. Akibatnya, cara berjalannya agak terganggu. Kaki kanannya terseret dan tangannya menggantung di depan dada. Cara berbicaranya juga sangat gagap. Misalnya, waktu pertama kali Pak Guru meminta Hoki maju ke depan untuk memperkenalkan diri. Ia begitu sulit walau hanya untuk mengucapkan namanya sendiri.

"Nnn ... nam ... nam ... m ... m ... ma ... ma ... sa ... sa ... ya ... Hokkk ... ki!"

Serentak teman-teman sekelas tertawa mendengar ucapan Hoki itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Serentak teman-teman sekelas tertawa mendengar ucapan Hoki itu. Aku jadi sedih dan jengkel. Apalagi mereka kemudian menirukan juga cara Hoki berjalan sambil tertawa-tawa mengejek. Pikirku, apanya yang lucu? Bagi kita yang normal memang tidak ada masalah kalau hanya sekadar mengucapkan nama. Namun bagi Hoki itu merupakan perjuangan yang sulit. Mestinya kita justru menghargai usahanya.

Walaupun cacat, Hoki ternyata tabah, ramah, dan baik hati. Ia selalu tersenyum dan berusaha menegur siapa saja yang dijumpainya. Ia juga rajin sehingga pelajarannya tidak ketinggalan dibanding dengan anak-anak yang normal. Melihat itu, aku sering malu pada diriku sendiri. Tuhan sudah memberiku tubuh yang normal namun aku kurang sungguh-sungguh belajar. Aku semakin kagum pada Hoki.

Toni adalah anak paling nakal di kelasku. Ia tak bosan-bosannya mengolok-ngolok Hoki. Ketika sedang istirahat, Toni berjalan di belakang Hoki. Ia meniru gerakan Hoki dengan menyeret kaki dan mengangkat tangannya. Tentu saja ini memancing tawa teman-teman yang melihatnya. Kemarahanku langsung naik ke kepala. Aku tidak tahan lagi. Kudekati Toni dan langsung kutonjok mulutnya yang sedang terkekeh-kekeh.

 Kudekati Toni dan langsung kutonjok mulutnya yang sedang terkekeh-kekeh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Toni roboh dan mulutnya berdarah. Kami pun bergelut sampai akhirnya Pak Guru melerai. Karena aku yang memukul duluan, aku dihukum membersihkan WC selama tiga hari.

Tadinya aku jengkel karena dihukum. Namun aku kemudian bersyukur. Karena, melalui hukuman itu, aku jadi tahu lebih banyak tentang kebaikan Hoki. Bayangkan saja. Yang dihukum itu aku. Tapi ternyata Hoki selalu datang lebih awal dariku dan membantuku membersihkan WC. Selama tiga hari kami berdua mengerjakannya. Kata Hoki, ia ingin juga memikul hukumanku. Ia juga berterima kasih padaku karena aku telah membelanya. Namun Hoki meminta supaya lain kali aku tidak perlu memukul kalau ada teman yang mengejek.

"Bbbbbi ... b ... bi ... arrrkan ... aaajjjaa!" katanya sambil tersenyum tabah.

Semenjak peristiwa itu tidak ada lagi anak yang berani mengejek Hoki. Bahkan Hoki membuat kelasku menjadi lebih semarak. Bayangkan, setiap kali guru mengajukan pertanyaan atau meminta murid maju. Hoki selalu mengacungkan jarinya pertama kali. Ini mendorong kami yang normal untuk lebih berani.

Hari-hari yang ceria bersama Hoki di kelas berlangsung beberapa saat. Hingga tibalah pada suatu hari, orang tua Hoki dan Ibu Kepala Sekolah masuk ke kelas kami. Hatiku berdebar. Ada apa ini?

"Tante sangat berterima kasih, karena anak-anak semua telah menerima Hoki di kelas ini. Hoki sebenarnya sangat bahagia sekolah di sini," ujar Ibu Hoki dengan suara penuh haru.

Ibu Kepala Sekolah lalu memberi tahu kami bahwa Hoki akan pindah sekolah. Ia diterima di sekolah khusus untuk anak-anak yang menderita cacat seperti Hoki di luar negeri. Kami semua terdiam. Hoki lalu maju ke depan. Dengan terbata-bata, ia berkata,

"Ak ... kk ... ku ... cinnn ... ttta ... kaaalllian ... semmm ... mua!"

Kali ini tidak ada yang menertawakannya. Justru isak tangis memenuhi kelas kami. Tanpa diduga, Toni maju dan langsung memeluk Hoki. Ia berkata lantang sambil menjabat tangan Hoki,

"Selamat berjuang kawan! Kami semua mencintaimu."

***

Kumpulan Cerpen dan Dongeng Bobo 2002Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang