Seandainya Ada Kak Bondan

77 1 0
                                        

Oleh Djoni

Bobo Nomor 42 Tahun XXIX 17 Januari 2002


Bobby bersorak gembira. Sangat gembira. Tapi kegembiraannya itu disimpan rapi di dalam hatinya. Ia tidak ingin Ayah dan Ibu mengetahuinya. Biarlah ia sendiri saja yang menikmati kegembiraannya itu.

Yang membuat Bobby sangat gembira adalah keberangkatan Bondan, kakaknya. Kak Bondan berangkat ke tempat Tante Mia untuk melanjutkan sekolahnya di sana. Ketika mengantar Kak Bondan ke stasiun, ia terpaksa membuat wajahnya semurung mungkin. Seolah ia merasa sangat kehilangan atas kepergian Kak Bondan itu.

"Ingat-ingat Bobby di sini, ya, Kak!" ucap Bobby saat menyalami kakaknya. Namun begitu tiba di rumah, ia langsung berlari ke kamar. Dengan riang ia bersorak. "Aku bebas!" Dan ia pun menari-nari dengan riang di dalam kamar.

"Kamar ini sekarang menjadi milikku sendiri," gumam Bobby. Ia mengembangkan kedua tangannya dan berputar-putar di dalam kamar. "Cihuy," ia membantingkan tubuhnya ke atas ranjang. Oh, senangnya. Ranjang ini kini juga menjadi miliknya sendiri. Tidak perlu lagi tidur berdua dengan Kak Bondan.

Diraihnya setumpuk majalah anak-anak dari atas meja belajar. Lalu ia membaca dengan posisi tidur telentang. Asyik! Tidak ada lagi yang akan menegurnya, "Bobby, jangan baca sambil tiduran. Nanti matamu bisa rusak."

Ih, sebal. Sok nasihat segala. Dan yang lebih sebal lagi kalau mereka bertengkar. Ibu pasti akan membenarkan Kak Bondan.

 Ibu pasti akan membenarkan Kak Bondan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aha, tapi semua itu telah berlalu. Kini ia bisa membaca sampai sepuas-puasnya. Mau dalam posisi telungkup, telentang, duduk ataupun berdiri, tak ada lagi orang yang akan menegurnya. Pengusiknya telah pergi ke rumah Tante Mia. Dan satu hal lagi yang membuat Bobby lega. Mulai saat ini, tidak ada lagi orang yang akan memaksanya belajar setiap jam tujuh malam. Kini ia bisa bermain atau nonton TV sampai bosan sendiri. Asyik. Pokoknya ia jadi bebas sekarang. M e r d e k a ! seru Bobby dalam hati.

Sebulan telah berlalu.

Bobby duduk termenung di meja belajarnya. Buku PR matematika masih terbuka di hadapannya sejak satu jam lalu. Tangannya sebentar-sebentar mengusap wajahnya. Keningnya sering mengernyit berpikir keras.

"Aah ..." Bobby menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya kuat-kuat. Ditatapnya lagi buku PR matematika itu. Ia membaca ulang pertanyaan-pertanyaan tertulis di sana. Entah sudah berapa kali ia membacanya, tapi hasilnya tetap saja sama. Ia tidak bisa menjawabnya.

"Aah ..." Bobby menghela napas panjang lagi. "Kalau saja ada Kak Bondan," gumam Bobby, "Semuanya pasti beres."

Namun hal itu tak mungkin terjadi sekarang. Karena Kak Bondan berada jauh di rumah Tante Mia. "Sedang apa, ya, Kak Bondan di sana?" tanya Bobby pada dirinya sendiri. "Ah, pasti sedang belajar."

Bobby masih ingat kebiasaan Kak Bondan selama ini. Setiap jam tujuh sampai sembilan malam, Kak Bondan pasti akan duduk di meja belajarnya. Baik besok ada ujian atau tidak, ia tetap akan menekuni buku-buku pelajarannya. Tidak heran jika setiap tahun ia meraih juara pertama di kelas. Bahkan tidak jarang ia menyabet juara umum di sekolah.

Dan yang menjengkelkan Bobby kala itu, setiap kali akan belajar, Kak Bondan pasti akan menyeretnya juga untuk belajar bersama. Tidak peduli waktu itu Bobby sedang bermain atau nonton TV. Pokoknya kalau sudah jam tujuh, harus belajar. Karena kebiasaannya itulah tidak jarang Bobby ribut dengannya. Dan setiap kali bertengkar, Ibu pasti akan membenarkan Kak Bondan. Jadi mau tak mau, Bobby harus duduk di meja belajar bersama Kak Bondan.

Namun saat ini Bobby duduk sendirian di meja belajar itu. Tidak ada lagi Kak Bondan. Tidak ada lagi guru privat yang selalu menanyakan kesulitan pelajarannya dan siap membantunya.

 Tidak ada lagi guru privat yang selalu menanyakan kesulitan pelajarannya dan siap membantunya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ah, tiba-tiba Bobby merasa amat rindu akan mulut cerewet Kak Bondan. Mulut cerewet yang selalu menyuruhnya belajar. Sekali kali Bobby menatap buku PR matematika yang masih terbuka itu. Namun karena tetap tak bisa mengerjakannya, ia menutup buku itu. Terpaksa ia harus menunggu Ibu pulang dari pesta pernikahan.

Dengan langkah gontai Bobby melangkah masuk ke kamarnya. Ditatapnya majalah-majalah yang berserakan di atas ranjang. Seprei kusut, bantal guling yang berhamburan di bawah ranjang .... Ah, kalau ada Kak Bondan, ia pasti sudah ribut dan memaksa Bobby untuk beres-beres.

Bobby menatap lemari pakaian, hiasan dinding, alas kaki, kaca nako di jendela .... Ah, semua ini membuat ia semakin rindu pada Kak Bondan. Setelah termenung beberapa saat, akhirnya Bobby memutuskan untuk menulis surat kepada Kak Bondan.

"Kak Bondan," demikian tulisnya. "Bobby rindu sekali pada Kak Bondan. Kalau nanti Bobby sudah tamat SD, Bobby pindah juga ya ke rumah Tante Mia? Biar kita bisa bersama-sama lagi."

Bobby melipat kertas surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop. ***

Kumpulan Cerpen dan Dongeng Bobo 2002Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang