Gara-Gara Cincin

51 0 0
                                        

Oleh Yogatriana

Bobo No. 47/XXIX/02


Wajah Rini tampak lesu, kurang bersemangat. Kemurungan sedang melandanya. Buku pelajaran di hadapannya ditatap dengan pandangan kosong. Ini membuat Santi, teman sebangkunya, heran.

"Ada apa, Rin? Dari tadi kamu melamun terus. Apa kamu sedang tidak enak badan?" tanyanya penuh kecemasan.

Rini terhentak. "Ah, tidak apa-apa, San."

"Yang benar?" Santi kurang percaya.

"Benar, benar kok, San," Rini tetap tak mau berterus-terang.

Pulang sekolah, Rini melangkah dengan gontai. Wajahnya semakin kelihatan murung terkena sinar matahari terik. Ia pusing memikirkan mama papanya yang sudah dua hari ini tak mau bertegur sapa. Entah apa penyebabnya, Rini tak tahu. Ia ingin tanya, tapi tidak berani.

Sampai di depan rumah, Rini tak langsung masuk. Ia berdiri terpaku. Ditatapnya sekeliling rumah, yang seperti asing di matanya. Tak ada keceriaan di dalamnya. Begitu masuk, keadaan begitu hening. Mama yang biasanya langsung menyambut pun tidak ada. Rini menengok ke kamar Mama. Ah, ternyata Mama sedang tergolek.

"Eh, sudah pulang, Rin?" Hanya itu yang keluar dari mulutnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Eh, sudah pulang, Rin?" Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Terasa hambar di telinga Rini.

Setelah ganti pakaian dan makan siang, Rini mengambil sapu. Maksudnya ia mau beres-beres rumah, karena kelihatan banyak debu.

Ketika itu, datang Papa pulang dari kantor.

"Sedang menyapu, Rin?" tanya Papa. Ini juga terasa hambar di telinga Rini. Papa masuk ke kamar depan. Tidak mau ke kamar tengah karena ada Mama. Sudah dua hari mereka tak sekamar.

Semua itu membuat kepala Rini pening. Ia merasa tidak diacuhkan. Menyapu pun jadi kurang bertenaga. Rini beralih membersihkan guci-guci kecil koleksi mamanya. Memang Mama punya hobi mengoleksi guci. Ketika mengangkat guci yang keenam, terdengar bunyi sesuatu di dalam guci. Ada sebuah benda. Rini penasaran. Ia membuka tutup guci itu dan mengambil benda di dalamnya.

"Haa?!" Rini melongo. "Ini kan cincin Mama!" gumamnya. "Kenapa disimpan di sini?"

Dengan tergesa Rini menemui mamanya. Melihat cincin itu, Mama tersentak. Wajah murungnya sirna. Dengan gembira Mama menyambar cincin itu, kemudian setengah berlari menuju kamar depan. "Pa, ketemu! Akhirnya ketemu, Pa!" serunya.

"Apa? Ketemu?" Yang benar, Ma?" seru Papa.

Aneh, keadaan yang tadinya murung kini berubah ceria sekali. Rini bengong melihat semua itu.

"Syukurlah bisa ketemu lagi!" kata Papa.

"Iya, Pa. Benda bersejarah ini kita dapatkan kembali," sahut Mama tak kalah gembiranya.

"Bersejarah?" desis Rini tak mengerti.

Setelah beberapa saat lamanya, barulah Papa dan Mama melirik dirinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah beberapa saat lamanya, barulah Papa dan Mama melirik dirinya.

"Kamu temukan di mana, Rin?" tanya Mama.

"Di dalam guci," jawab Rini.

"Oooh, ya ampuun! Waktu membersihkan guci-guci, Mama lupa telah membuka cincin dan menyimpan di salah satu guci itu!"

"Ooh ... jadi Mama dan Papa marahan cuma gara-gara cincin ini hilang?" timpal Rini.

Mama dan Papa saling pandang malu-malu.

"Bagi Mama dan Papa cincin ini amat berharga. Bukan karena mahal harganya tapi karena sejarahnya," kata Mama kemudian.

"Sejarah?" Rini belum mengerti.

"Iya. Cincin ini hadiah dari Papa untuk Mama waktu pesta pernikahan dulu, sebagai tanda kasih sayang," sambung Papa.

"Ooooh ..." Rini manggut-manggut.

Kemudian, Papa memasangkan cincin itu di jari manis Mama. Lantas mengecup mesra kening Mama. Setelah itu keduanya menoleh sambil tersenyum ke arah anak kesayangannya. Rini tersipu malu. Sambil tersenyum ia keluar dari kamar. Hatinya lega dan bahagia seperti kedua orang tuanya.

"Gara-gara cincin, jadi mogok bicara. Gara-gara cincin itu juga bisa romantis seperti di film. Hi hi hi ..." desis Rini sambil tersenyum geli. Kini ia meneruskan beres-beres rumah. Kali ini penuh semangat. ***

Kumpulan Cerpen dan Dongeng Bobo 2002Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang