Dahulu, kanguru hanya ada seekor. Namanya Borah. Cara berjalannya sangat bebeda dengan cara kanguru sekarang berjalan. Borah berjalan dengan empat kaki, sama seperti kucing atau kambing.
Suatu hari, Borah merasa jenuh tinggal di hutan belantara. Ia ingin berkelana, melihat tempat-tempat lain. Tetapi Borah merasa was-was. Siapa tahu ada bahaya menghadang di perjalanan. Itu sebabnya, Borah rajin bertanya.
Binatang pertama yang ditemuinya adalah seekor koala bernama Dingo.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hai Dingo, apa kau pernah keluar hutan?"
Dingo menjawab, "Ya, sudah beberapa kali. Memang kenapa?"
"Aku bosan di sini. Pemandangannya hanya pepohonan," keluh Borah.
"Benar! Tapi kalau tinggal di antara manusia, ngeri juga," ujar Dingo. "Manusia suka sekali memakan segala yang bukan kaumnya."
"Maksudmu, kalau bertemu manusia, mereka akan menyantapku?"
"Benar sekali," kata Dingo sambil tertawa meninggalkan Borah.
Borah mengira Dingo hanya menakut-nakuti. Ia lalu mendatangi Kookaburra, burung molek yang memiliki suara cerecet yang khas. Kookaburra sering pergi lama meninggalkan sarangnya. Pasti ia punya banyak cerita, pikir Borah. "Kooka, apakah enak kehidupan di luar hutan?" tanya Borah.
"Ah, batalkan saja niatmu untuk pergi. Kau bisa bertemu manusia yang ganas. Mereka menangkap binatang buruan, membunuh, menguliti, dan menyantap dagingnya. Hii, ngeri ...."
Namun niat Borah sudah membara. "Apapun yang akan terjadi, aku tak peduli. Aku sudah bosan sekali di sini!" Ia lalu melangkah keluar dari hutan.
Akhirnya tibalah Borah di tepi hutan. Ia merasa lelah sekali. Itulah perjalanan panjang pertama yang dilakukannya. Ia lalu tertidur di bawah pohon.
Ketika Borah terbangun, hari sudah malam. Di kejauhan tampak kepulan api, berasal dari api unggun. Percik-percik api bertebaran. Baru kali ini ia melihat warna-warni indah. Borah juga mendengar suara ramai yang sayup.
Borah mendekati api unggun itu. Suara samar-samar tadi kini jelas terdengar. Dari balik semak Borah mengintip. Tampak sekelompok makhluk aneh sedang menari-nari mengelilingi api unggun. Tak henti-henti mereka menggumamkan kata-kata yang diulang-ulang. Makhluk aneh itu bertubuh tegap.
"Pasti ini yang namanya manusia. Seperti yang diceritakan Dingo dan Kookaburra," tebak Borah.
Borah tertarik pada gerak-gerik tari para manusia itu. Ia mencoba mengikuti setiap gerakan mereka dari balik semak-semak. Tapi ia agak kesulitan, karena ia tak bisa berdiri dengan dua kaki. Tapi bukan Borah namanya kalau ia gampang menyerah! Sekali lagi dicobanya berdiri dengan dua kaki. Rasanya kikuk. Diulang-ulangnya, dan akhirnya berhasil juga.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Keberanian Borah timbul. Ia segera bergabung dengan para manusia menari-nari. Sebentar saja Borah sudah bisa mengikuti gerakan mereka. Mereka tidak sadar ada seekor kanguru yang bergabung dengan mereka.
Kepala Suku memerintahkan menambah kayu bakar. Nyala api unggun makin membesar. Nah, pada saat itu, seorang perempuan melihat Borah.
"Berhenti!" teriaknya panik.
Para penari pria menghentikan langkah tarian. "Ada apa?"
Perempuan itu menunjuk ke arah Borah yang sedang menari-nari.
"Lihat, itu ada hewan aneh!" katanya. Api unggun yang besar membuat Borah tampak jelas.
Borah sadar kalau kini ia menjadi pusat perhatian. Tiba-tiba ia menjadi takut. Ia teringat kembali kata-kata Dingo dan Kookaburra. Tentang manusia yang kejam pada makhluk yang bukan kaumnya.
Kumpulan manusia itu berteriak ribut, "Bunuh saja hewan itu! Dia telah merusak keasyikan kita menari!" cetus seorang di antaranya.
Manusia yang lainnya serempak mengurung Borah. Tapi ketika mereka akan menangkap Borah, Kepala Suku berseru, "Jangan bunuh dia! Biarkan ia menari. Caranya menari lucu sekali. Aku suka padanya!"
Manusia-manusia itu mematuhi perintah Kepala Suku. Acara tari-tarian dilanjutkan kembali. Borah diberi kesempatan menari, sampai akhirnya ia mahir berdiri dengan dua kaki. Gerakan kedua kaki belakangnya sudah mulai lincah.
Tanpa terasa fajar mulai menyingsing. Acara pesta tari dan nyanyi dihentikan. Manusia-manusia itu meninggalkan padang rumput. Kembali ke gubuk mereka masin-masing. Borah sebenarnya ingin ikut, tapi Kepala Suku tidak memberi izin. "Kami memang telah memberimu kesempatan menari. Tapi kau bukan manusia. Jadi, kembalilah kau pada teman-temanmu," ujar Kepala Suku.
Borah baru merasa tubuhnya letih. Tulang-tulangnya ngilu. Otot-ototnya kejang. Ia merasa tak bisa berjalan lebih jauh lagi. Maka ia berbalik untuk kembali ke hutan tempat tinggalnya. Tapi ketika hendak melangkah, ia tak bisa menurunkan kedua kaki depannya! Berulang kali ia mencoba, tapi gagal. Terpaksa ia melompat-lompat dengan kedua kaki belakangnya. Gaya jalannya ini persis seperti saat ia sedang melakukan gerakan tari. Tadinya Borah merasa kikuk. Tapi lama-lama terbiasa. Dan ia malah merasa senang, karena dengan melompat-lompat ia lebih cepat sampai ke tujuan.
Kebiasaan ini berlanjut sampai sekarang. Borah dan kanguru-kanguru lain berjalan dengan melompat-lompat. Bahkan, karena tak pernah dipakai untuk berjalan lagi, kedua kaki depannya menjadi kecil dan pendek. Kegunaannya jadi sama dengan tangan manusia. (Dongeng Australia, diterjemahkan oleh Kadir Wong)