Papa Baru

44 0 0
                                        

Oleh Nando

Bobo No. 47/XXIX/02


Papa baru?

Adib kontan menggeleng tegas. "Tidak mau! Adib tidak mau Papa baru!" tukasnya.

"Iya, tapi kenapa?" tanya Mama dengan sabar.

"Kata teman-teman Adib, papa baru itu pasti galak!" alasan Adib. "Adib kan tidak mau dimarah-marahi, Ma?"

"Lo, Om Sofwan kan, tidak galak," Mama tersenyum, lalu memperlihatkan sebuah kado pada Adib. "Ini, Om Sofwan membelikan Adib mobil Tamiya."

"Tidak mau!" Adib menolak kado itu. "Mobil-mobilan Adib sudah banyak."

"Jangan begitu dong. Masa' Mama harus mengembalikannya?"

"Kembalikan saja. Adib kan tidak minta."

Mama menggeleng-geleng kepala. "Ya sudah. Kadonya Mama kembalikan lagi. Tapi Adib tidak boleh ngambek lagi. Adib harus makan."

"Tapi Mama janji dulu," pinta Adib.

"Janji apa?"

"Tidak boleh ada papa baru!"

Mama tertawa mendengarnya. "Iya deh, Mama janji," katanya sambil mengambil piring makan Adib. "Nah, sekarang Adib makan, ya?"

Barulah Adib tersenyum. Ia kemudian mengunyah makannya dengan cepat. Kemudian,

"Ma, kenapa sih Mama ingin papa baru?" tanya Adib tiba-tiba.

Mama berpikir sejenak. "Kenapa, ya?" katanya sedikit bingung. Kemudian Mama tersenyum. "Mau tahu kenapa? Karena Mama takut kalau tiba-tiba ada pencuri yang masuk ke rumah."

"Kan ada Adib, Ma!"

"Memangnya Adib tidak takut pada pencuri?"

"Tidak! Adib akan pukul mereka dengan tangkai sapu!"

Mama tertawa. "Iya deh, Adib memang jagoan Mama!" pujinya membuat Adib tersenyum senang.

Malam itu hujan sangat lebat. Adib sampai terbangun mendengar deru hujan. Ia kemudian mendengar suara gaduh di ruang tengah.

Pencurikah itu? batin Adib was-was.

Dibukanya pintu kamar pelan-pelan. Adib mengintip. Ternyata bukan pencuri, tapi Mama.

Adib segera keluar menemuinya.

"Mama sedang apa?" tanya Adib sambil menahan kantuknya.

Mama sampai kaget. "Aduh Adib, Mama pikir siapa," ujar Mama, kemudian turun dari atas kursi setelah meletakkan baskom kecil di atas lemari. "Kenapa Adib bangun? Mama bikin ribut, ya?"

 "Kenapa Adib bangun? Mama bikin ribut, ya?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Adib menggeleng. "Tidak, Adib bangun karena hujan," jawab Adib. "Kenapa, Ma, gentengnya bocor, ya?" tanyanya kemudian.

"Iya, untung Mama tahu. Kalau tidak, lemari ini pasti sudah basah," ucap Mama sambil memperhatikan langit-langit rumah. "Kenapa ya Dib, padahal baru sebulan lalu gentengnya diperbaiki. Kok bisa bocor lagi? Pasti gara-gara kucing-kucing itu, ya?"

Adib tidak mendengarnya. Ia tertegun. Biasanya Papa yang selalu memperbaiki genteng itu kalau bocor. Itu dulu, tapi sekarang .... Sayang Papa telah tiada, batin Adib sedih.

"Adib, kok bengong?" tanya Mama heran. "Adib ngantuk, ya?"

"Kalau bocornya tambah besar, bagaimana, Ma? Rumah kita bisa banjir dong!" kata Adib khawatir.

Mama tersenyum. "Ya tidak, Dib," kata Mama. "Besok Mama akan cari tukang untuk membetulkannya. Jadi Adib tidak usah takut rumah kita kebanjiran."

Barulah Adib lega.

"Tuh Adib nguap lagi," tunjuk Mama. "Ayo ke kamar, besok pagi Adib kan harus sekolah!"

Adib menurut. Tapi ia sempat berpikir. Ternyata ada pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh Mama. Seorang papa lah yang bisa melakukannya.

Keesokan sorenya ....

Adib menyambut Mama yang baru pulang kerja dengan riang.

"Ada apa, nih?" tanya Mama sedikit curiga.

"Adib mau memperlihatkan sesuatu ke Mama," kata Adib dengan senyum nakalnya. Kemudian ia mengeluarkan buku gambarnya dari tas. "Coba tebak, Adib menggambar apa hari ini?"

"Pasti gambar mobil!" sahut Mama yakin.

"Uh, salah!" seru Adib. Dibukanya lembaran buku gambar, lalu diperlihatkannya ke Mama. "Adib menggambar Mama, Adib dan ...."

"Nah, yang satu ini siapa?" tanya Mama terheran-heran.

"Gambar Om Sofwan!" seru Adib tampak malu.

Mama mengernyitkan keningnya.

"Tadi Bu Guru minta kami menggambar keluarga," cerita Adib kemudian. "Kata Bu Guru gambarnya harus lengkap. Ada anak, ibu, dan ayah. Adib kan tidak punya papa. Tiba-tiba Adib ingat pada Om Sofwan. Ya sudah, Adib gambar saja."

Mama sampai terharu mendengarnya.

"Ma," tegur Adib kemudian. "Om Sofwan masih mau jadi papa Adib tidak, Ma?"

Mama tersenyum, kemudian mengangguk.

"Tapi Om Sofwan bisa memperbaiki genteng bocor kan, Ma?"

Mama jadi tertawa mendengarnya. "Tentu sayang," kata Mama sambil membelai lembut rambut Adib. Om Sofwan bisa mengerjakan pekerjaan yang tidak bisa Mama kerjakan."

Adib tersenyum. Hatinya kini lega. ***

 ***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kumpulan Cerpen dan Dongeng Bobo 2002Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang