Inung itu persis si kancil. Kancil yang suka mencuri ketimun itu. Ya, Inung memang nakal seperti kancil. Dia memang tidak mencuri ketimun. Tapi jambu atau mangga ... wah, Inung suka sekali. Apalagi kalau dimakan langsung di pohon. Hmmm!
Brak! Ow, Inung membanting pintu keras-keras. Ia lalu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, dan menangis sesenggukan. Setelah itu ... astaga! Inung bangun, dan mengobrak-abrik seluruh kamar. Berantakan. Inung ngamuk!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hmmm, rupanya tadi siang Inung ketahuan mencuri lagi. Sudah tiga kali ini Inung ketahuan. Ayahnya sangat malu dan marah. Kaki Inung sampai dipukul pakai gulungan koran.
"Ayah tidak mau punya anak pencuri!" seru Ayah keras. "Sudah tiga kali kamu ketahuan. Kamu kok, tidak jera. Ayah tidak akan beri uang jajan setengah bulan ini. Kamu juga tidak boleh keluar main. Dan harus membersihkan kamar mandi tiap sore! Kalau ketahuan mencuri lagi, hukumanmu akan lebih berat!"
Nah, itu sebabnya Inung ngamuk. Tidak diberi uang jajan, tidak masalah buat Inung. Sebab di rumah selalu ada makanan kecil buatan Ibu. Tapi tidak boleh keluar main dan membersihkan kamar mandi tiap sore? Huh, Ayah kejam, gerutu Inung di dalam hati.
Seminggu penuh Inung bisa menjalani hukuman dari Ayah. Tapi di hari kedelapan, Inung tidak tahan lagi. Kamar mandi dibersihkannya asal-asalan. Inung juga mulai menyelinap keluar ketika Ayah dan Ibu pergi.
Setelah dua minggu berlalu, semua kembali seperti semula. Inung sangat lega. Ia mendapat uang jajan lagi. Dan bisa main tanpa sembunyi-sembunyi lagi.
Suatu sore, "Buuu, Inung ke rempat Kelik, ya!" teriak Inung sambil berlari keluar rumah. Ibu Inung tidak melihat, kalau Inung ternyata membawa sarung.
Tak lama kemudian, dua teman Inung tampak sedang memegangi sarung. Sarung itu dibentangkan di bawah pohon mangga Pak Sulis. Dan Inung? Ow, ia ada di atas, bertengger di cabang pohon yang besar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rumah Pak Sulis yang berhalaman luas itu memang sepi. Penghuninya hanya Pak Sulis sendiri. Istrinya sudah meninggal dan anak satu-satunya bekerja di kota lain. Pak Sulis yang sudah tua itu setiap hari pergi ke kebunnya di seberang desa.
"Ayo, Nung! Ambil yang banyak! Mangga itu pasti segar dan manis!" seru Kelik kegirangan.
"Iya, sabar, sabar!" jawab Inung sambil berpindah ke dahan lain. Sudah terbayang olehnya berpesta mangga di tepi kolam pinggir desa.
"Nah, begitu dong anak-anak! Bantu Bapak, ya!" tiba-tiba terdengar suara berat Pak Sulis. Wuaah, betapa kagetnya anak-anak! Rasanya seperti disengat kalajengking. Kaki-kaki mereka jadi lemas seketika. Wajah Inung memucat. Dia tak berani membayangkan betapa marahnya Ayah nanti.
"Bapak memang belum sempat memanen mangga ini. Apalagi Bapak sudah tidak kuat memanjat sendiri." Pak Sulis melongok mangga yang berhamburan di bentangan sarung.
Anak-anak tertunduk diam, tak berani memandang.
"Nanti habis pohon ini, lanjutkan ke pohon yang dekat rumah itu, ya," kata Pak Sulis santai. Pak Sulis sebenarnya tahu mereka sedang mencuri. Tapi Pak Sulis ingin memberi pelajaran yang agak berbeda pada anak-anak ini.
Inung dan teman-temannya tak bisa berkata apa-apa. Dengan takut-takut mereka menuruti permintaan Pak Sulis. Rasanya capek juga memanen dua pohon mangga. Apalagi dengan perasaan was-was, membayangkan hukuman yang akan mereka terima.
Pak Sulis menyuruh membawa masuk mangga-mangga yang sudah dipetik. Setelah itu Inung dan kedua temannya disuruh menunggu di ruang tamu. Pak Sulis masuk ke dalam. Detik demi detik berlalu. Mereka menunggu dengan tegang. Jangan-jangan Pak Sulis sedang menyiapkan hukuman untuk mereka.
Srek srek srek ....
Anak-anak itu mendengar suara sandal Pak Sulis yang mendekat. Tiba-tiba saja perut mereka jadi mulas dan keringat dingin menitik. Dengan wajah pucat mereka menoleh ke arah Pak Sulis. Lo ... Pak Sulis membawa ... membawa ... es sirop!
Es sirop? Anak-anak saling berpandangan.
"Habis minum es sirop ini, kalian boleh bawa pulang mangga-mangga itu. Pokoknya sebanyak yang kalian mau.
Hah? Inung dan kedua temannya terheran-heran. Apa mereka tidak akan dihukum? Tidak dilaporkan ke orang tua?
"Eh, malah pada bengong," Pak Sulis memandang mereka penuh arti. "Ayo, esnya diminum dulu."
Ketika pulang, ketiga anak itu membawa pulang mangga. Tapi tentu saja mereka tidak berani mengambil banyak-banyak. Tak lupa mereka meminta maaf dan berterima kasih pada Pak Sulis.
Di perjalanan pulang, Inung dan kedua temannya tak banyak bicara. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Mengapa Pak Sulis tidak menghukum mereka? Malah menghadiahkan mangga dan bonus es sirop? Inung merasa malu. Begitu juga kedua temannya. Kebaikan Pak Sulis malah membuat mereka jera mencuri. Ah, hukuman Pak Sulis memang aneh! Tapi manjur!
Hai! Terima kasih telah membaca kliping cerita ini. Kalaukamu tertarik membaca kliping sejarah juga, silakan berkunjung ke http://klipingsejarahku.blogspot.com/.