Hari ini kakek berkunjung ke rumahku. Sebab adikku baru disunat. Aku dan adikku sangat gembira. Kakek membawa buah-buhan segar dari desa. Ada rambutan, pisang, durian. Kakek juga membawa ikan mas goreng yang besar.
Keesokan harinya, aku terbangun pagi-pagi sekali. Saat menuju teras, aku mendengar suara Kakek dan Dian, adikku. Mulanya aku ingin bergabung dengan mereka. Tapi ketika mendengar adikku menyebut-nyebut namaku, aku langsung bersembunyi di balik tembok. Lalu menguping pembicaraan mereka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jangan bohong, ya, Kek," suara adikku terdengar jelas di telingaku.
"Kakek janji!"
"Kak Anto jangan dibelikan, ya!"
Kulihat Kakek diam sejenak, tapi kemudian mengangguk mantap. Aku menebak-nebak, Kakek mau membelikan apa buat Dian? Kue, mobil-mobilan, balon? Aku jadi berdebar-debar memikirkannya.
"Yang totol-totol seperti anjing Dalmatians, ya, Kek!"
"Wah, kalau itu kan mahal!"
"Tapi Dian mau yang ikut!" rengek adikku.
Di persembunyianku aku keheranan. Dalmation? Apa Kakek mau membelikan Dian seekor anjing?
"Baiklah. Tapi Dian harus menepati janji, ya!" kata Kakek seperti mengabulkan permintaan Dian. Seketika terdengar sorak kegirangan Dian. Aku hanya diam merenung. Walau cuma seekor anjing, hatiku merasa tak senang. Kakek mulai tak adil terhadap aku.
"Sekarang minum obat dulu, ya!" Kakek menuangkan obat sirup ke sendok teh. Adikku mengangguk. Ia tak rewel lagi untuk minum obat. Aku mencibir sambil membatin; tentu saja adikku tak rewel. Kakek kan, mau membelikan anjing!
Setelah memberi obat buat Dian, Kakek pergi berolahraga. Aku menunggu sampai Kakek benar-benar jauh. Baru aku keluar dari persembunyianku. Aku langsung menemui Dian di teras. Kulihat Dian tersenyum-senyum sendiri. Ketika melihatku datang, senyumnya semakin lebar. Aku pura-pura tak tahu.
Ah, rupanya Kakek benar-benar tak adil terhadapku!
"Kata Kakek, cuma aku yang dibelikan sepeda!"
"Iya! Aku tahu!" sungutku tersinggung.
"Kakak ..." Dian merasa takut dengan sikapku. Aku cepat-cepat memasang senyum manis walau hatiku sangat marah.
"Kata Kakek, Kakak sudah punya sepeda, jadi tidak dibelikan," jelasnya mengungkit-ungkit hal itu lagi.
"Iya! Iya!" pekikku tak tahan. Tanganku mengepal kuat saking kesalnya.
"Kak!"
"Apa?!" sahutku ketus sekali.
"Nanti Kakak ajar Dian naik sepeda, ya!"
"Tidak mau!"
"Oh, iya! Kakak juga belum bisa, ya?" katanya menambah kejengkelanku.
"Siapa bilang!?"
"Kemarin Kakak jatuh dari sepeda sampai berdarah ..." ujar Dian, benar-benar tidak mengerti kalau aku sedang marah. Aku mulai menghitung dari satu sampai sepuluh di dalam hati. Agar amarahku tidak meledak.
"Kak! Kata Kakek, cuma Dian yang mau dibelikan sepeda baru!"
"Aduh, Diaaan ..." marahku tak tertahan lagi. Tanganku langsung mencubit lengannya. Seketika adikku menjerit menangis.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku jadi kaget sendiri. Segera aku berusaha mendiamkan tangisnya. Takut kalau terdengar Ibu.
"Aduh ... sayang, sayang! Cep cep cep!" bisikku cepat-cepat mendekap Dian. Kepalanya kuusap-usap. Namun Dian tidak juga mau berhenti menangis.
Tiba-tiba aku teringat pada permen di saku bajuku. Kuberikan permen itu sambil merayunya untuk diam. Ah, untunglah aku berhasil! Aku langsung mengajaknya mengobrol supaya ia tak ingat lagi dengan tangisnya.
"Dian mau dibelikan sepeda baru, ya?"
Adikku mengangguk. Seperti anak kecil lainnya ia langsung cepat ceria. Aku menarik napas lega.
"Yang kayak di TV, ya?"
"Iya, Kak. Kata Kakek, cuma Dian yang dibelikan sepeda baru!" katanya masih agak sesenggukan.
"Iya? Nanti Kakak boleh pinjam dong?" kataku, tidak kesal lagi mendengar kalimat yang menyinggung itu.
Dian mengangguk.
"Tapi nanti, kalau sudah dibelikan Kakek!"
"Kapan dibelikannya?"
"Nanti kalau Dian sudah sekolah ...."
Aku tercekat. Dadaku berdebar cepat. Berarti masih dua tahun lagi, gumamku merasa malu pada diriku sendiri. Ya ampun!
Aku makin mendekap adikku.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Apanya, Kak!" tanya adikku keheranan.
"Oh, tidak apa-apa!" bisikku lalu mencium kepalanya berkali-kali. Bodohnya aku!
Aku jadi berjanji pada diriku sendiri untuk tidak iri lagi. Dan tidak menguping pembicaraan orang lain. Ah, untunglah peristiwa memalukan ini tidak diketahui orang lain. Yang tahu, cukuplah Tuhan, aku, dan ... kalian! ***
Hai! Terima kasih telah membaca kliping cerita ini. Kalaukamu tertarik membaca kliping sejarah juga, silakan berkunjung ke http://klipingsejarahku.blogspot.com/.