Hmm, seram juga memandang tetanggaku yang baru. Orangnya tinggi besar. Brewok dan cambangnya seperti hutan belantara. Melihat tampangnya saja sudah bisa ditebak kalau orangnya tidak ramah. Pernah tanpa sengaja aku bertatap pandang dengannya. Sinar matanya tajam sekali, setajam pedang. Buru-buru aku membuang pandangan.
Paling repot kalau aku sendirian di rumah. Aku sering ketakutan sendiri. Bagaimana kalau tetangga baruku itu mau berbuat jahat? Aku tidak akan kuat melawan dia. Maka, setiap Ayah dan Ibu pergi, pintu dan jendela kututup rapat-rapat. Kukunci dari dalam. Aku juga tidak berani keluar dari rumah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dari cerita Ayah, aku tahu nama tetangga baruku, Om Pur. Dia pernah sekali bertandang ke rumahku. Terpaksa aku bersembunyi di kamar. Dari dalam kamar aku mendengar suaranya yang besar dan serak. Suara itu mengingatkan aku akan tokoh-tokoh jahat dalam film-film yang pernah kulihat.
"Arman, ini Om Pur mau kenalan," suara Ayah terdengar dari kamar tamu.
Aku pura-pura tak mendengar. Aku pura-pura tertidur pulas. Aku ngeri membayangkan menjabat tangannya. Wajahnya yang menyeramkan itu akan terlihat dari dekat sekali. Belum lagi jari tangannya yang besar-besar itu akan meremas jari tanganku. Uff, betapa sakitnya. Tidak ah, lebih baik tetap tiduran. Lebih tenang dan aman.
Pernah juga Om Pur menawariku mangga Manalagi. Pohon mangga itu tumbuh ranum di halaman belakang rumahnya. Mangga Manalagi yang manis. Andai yang punya itu bukan Om Pur, tentu aku sudah berlari, memanjat dan mengambil sebanyak-banyaknya. Tapi yang punya ini kali adalah Om Pur, aku mesti hati-hati. Siapa tahu ini hanya taktiknya saja, biar aku dekat dan akrab. Setelah itu dia akan bertindak jahat padaku.
Sayang, mangga Manalagi yang menerbitkan air liur itu tak pernah singgah di lidahku. Mangga Manalagi, aku hanya sanggup membayangkan rasanya yang manis itu.
Sore itu aku diajak pergi ke toko elektronik. Ayah ingin membeli televisi berwarna. Senangnya hatiku. Selama ini, aku hanya menikmati televisi hitam putih yang sudah kuno. Televisi peninggalan Kakek dulu yang tetap saja dipelihara Ayah. Mungkin Ayah bosan juga karena televisi itu sering rusak.
Sore itu aku dan Ayah naik bus kota. Tak banyak penumpang yang berada dalam bus itu. Tak seperti kalau pas pagi hari. Aku bisa duduk dengan nyaman. Ayah bisa terkantuk-kantuk dibuai angin sore yang sepoi-sepoi menelusup lewat kaca yang sedikit terbuka.
Ketika sedang asyik melamun, aku terkejut. Seorang lelaki berjaket, tahu-tahu mendekat ke arah kami. Tangannya yang ditutupi buku bergerak ke saku celana Ayah. Copet! Tenggorokanku tercekat. Apalagi copet itu memandangku tajam-tajam. Matanya merah mengerikan.
Uang untuk membeli televisi pasti akan hilang kalau aku tak segera bertindak. Kukumpulkan keberanian. Aku menahan napas untuk mengumpulkan kekuatan. Aku hanya membutuhkan satu kata untuk menggagalkan aksi lelaki jahat itu.
"Copeeet!" teriakku dengan setengah takut masih menguasaiku.
Copet itu nampak terburu-buru ingin meninggalkan tempat setelah berhasil menyambar dompet Ayah. Sebuah tangan yang cekatan meraih leher copet itu.
"Kembalikan dompet itu atau kupukul kau!" ancam lelaki yang bersuara besar dan serak. Aku seperti mengenal suara lelaki itu. Om Pur! Aku tanpa sadar hampir bersorak.
Ayah bangun nampak kebingungan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dompet Ayah sudah berada dalam genggaman tangan Om Pur.
"Terima kasih Om," ucapku malu-malu. Jika tak ada Om Pur aku tak tahu nasib dompet Ayah.
"Sekarang tidak takut dengan Om Pur lagi kan," Om Pur tersenyum kepadaku. Aku jadi salah tingkah dibuatnya.
"Om Pur mau ke mana?" tanya Ayah.
"Mau beli setrika," kata Om Pur. Ternyata Om Pur tidak sejahat dan semenyeramkan bayanganku. Maafkan aku Om, kataku dalam hati.
"Kalau begitu kita bisa sama-sama pergi ke toko elektronik," kata Ayah sambil menerima dompet itu kembali.
Dari kaca bus, aku melihat copet tadi lari ketakutan. Mungkin ngeri seperti aku melihat perawakan Om Pur yang tinggi besar. ***