Sebuah Pelukan Buat Dian

110 2 0
                                        

Oleh Lili Ahmad .S

Bobo Nomor 19 Tahun XXX 8 Agustus 2002


Rini memeluk dan mencium ibunya. Lalu berpamitan untuk pergi ke sekolah. Dian, sahabatnya, sudah menunggu di pintu pagar. Dian dan Rini memang sudah lama bersahabat. Sejak kelas empat dulu mereka selalu duduk sebangku. Bahkan sampai kelas lima ini mereka selalu berangkat sekolah bersama. Kemarin Rini yang menjemput Dian. Hari ini Dian yang menjemput Rini. Begitulah silih berganti setiap hari. Sekolah mereka tidak jauh dari rumah.

"Selamat pagi anak-anak," Bu Yanti, guru IPA, masuk ke dalam kelas. Lalu mulai mengabsen murid-murid.

"Agus!"

"Hadir, Bu."

"Dian!"

Dian gelagapan kaget. Sejak tadi dia memang melamun.

"Ha ... hadir, Bu," serunya cepat-cepat sambil mengacungkan telunjuknya.

Selesai mengabsen, Bu Yanti memulai pelajaran. Akan tetapi, tiba-tiba,

BRUKKK!

Lagi-lagi Dian sadar dari lamunannya. Buku yang sedang dipegangnya terjatuh.

"Ada apa, Dian?" tanya Bu Yanti lembut.

"Eh ... ng ... tidak apa-apa, Bu!" jawab Dian terbata. Rini melihat ada yang aneh pada Dian dan ia mulai curiga.

"Dian, kamu kenapa? Sakit, ya?" tanya Rini penuh perhatian.

"Tidak apa-apa, kok, Rini!" ujar Dian sambil tersenyum dipaksa.

Saat istirahat pun tiba. Rini mengajak Dian ke kantin. Namun Dian menggeleng lesu. Sepanjang waktu istirahat, ia duduk di dalam kelas mencorat-coret sesuatu di kertas. Dian menggambar seorang wanita yang sedang memeluk seorang anak. Selesai menggambar, mata Dian berkaca-kaca menatap gambar tersebut. Tanpa sadar air matanya mulai jatuh membasahi pipi. Ketika bel masuk berbunyi, Dian cepat-cepat menghapus air matanya. Lalu segera menyimpan gambar tersebut ke dalam tasnya.

 Lalu segera menyimpan gambar tersebut ke dalam tasnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Usai sekolah, Dian bergegas pulang. Setibanya di rumah, ia mengeluarkan gambar yang dibuatnya di sekolah tadi. Gambar itu lalu ditempelnya di dinding kamarnya. Dipandanginya dalam-dalam gambar tersebut.

"Neng, makan siangnya sudah siap," tiba-tiba terdengar suara Bi Inah.

"Nanti saja, Bi. Dian masih capek," kata Dian sambil berbaring di tempat tidurnya. Bi Inah tak berani memaksa.

Tak lama kemudian, Dian pun tertidur tanpa makan siang. Sore harinya, ayahnya membangunkannya.

"Dian, kata Bi Inah kamu belum makan sejak pulang sekolah tadi."

"Eh, Ayah sudah pulang," Dian menggosok-gosok matanya.

"Ada apa? Kenapa kamu tidak selera makan?" Ayah membelai rambut Dian. "Kalau ada masalah, coba ceritakan pada Ayah. Siapa tahu Ayah bisa bantu," kata Ayah bijak.

Mata Dian kembali berkaca-kaca. Bibirnya terlihat bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi ia ragu. Air matanya tak tertahankan lagi, dan mengguyur pipinya serta pundak Ayah.

"Dian .... Dian rindu Mama," Dian menangis tersedu-sedu di pelukan Ayah.

Ayah mencium kepala Dian, berulang-ulang. "Ayah juga rindu Mama. Tapi Mama kan sudah senang di sorga. Jadi kita tak perlu sedih," hibur Ayah.

Akan tetapi, tangisan Dian semakin menjadi. Dian memang tak pernah merasakan kasih sayang dari ibunya. Setelah melahirkan Dian, Mama Dian meninggal. Dian tidak sempat melihat wajah mamanya. Sejak itu Dian diasuh neneknya. Saat berumur tujuh tahun, barulah ia tinggal bersama ayahnya.

"Neng Dian, ada telepon dari Neng Rini," suara Bi Inah memecah suasana haru.

Dian segera menghapus air matanya. Lalu bergegas menerima telepon sahabatnya.

"Hallo ..." kata Dian pelan.

"Dian, kamu tidak apa-apa, kan? Kok, pulang duluan? Kamu ada masalah apa sih? Cerita dong ke aku!" tanya Rini.

Sesaat Dini terdiam. "Iya ... aku lagi sedih, Rin," suara Dian pelan.

"Sedih kenapa?" tanya Rini penasaran.

"Aku juga tak tahu. Setiap kali aku melihat kamu dipeluk dan dicium ibumu, aku merasa iri. Aku juga ingin merasakan hangatnya pelukan Mama. Tapi ... aku sudah tak punya Mama. Melihat langsung wajahnya pun belum pernah ..." Dian kembali menangis. "Rin, aku rindu pelukan Mama. Aku berkhayal bisa pergi ke sorga. Agar bisa bertemu Mama, dan memeluknya erat-erat," sambung Dian di sela sesenggukan.

"Dian, kamu adalah sahabatku. Bahkan sudah kuanggap saudaraku sendiri. Milikku adalah milikmu juga. Jadi, mamamu adalah mamamu juga. Kamu boleh dipeluk dan dicium mamaku. Kamu juga boleh mencium dan memeluk mamaku. Anggap saja mamaku adalah mamaku. Kamu pasti tak akan sedih lagi."

"Benarkah itu ... Rin!" suara Dian kini terdengar riang. Kata-kata Rini seperti obat mujarab. Kesedihannya benar-benar sirna.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Dian sudah sangat rapi dengan seragam sekolah. Sesampainya di rumah Rini, Dian disambut oleh Rini dan mamanya. Rini sudah bercerita pada mamanya tentang kesedihan Dian. Jadi, begitu melihat Dian, Mama Rini langsung mengampiri Dian.

Mama Rini lalu memeluk Dian dengan penuh kasih sayang. Betapa bahagianya Dian dengan pelukan itu. Pelukan seorang mama memang hangat dan indah. Rini pun lalu ikut dipeluk mamanya. Rini dan Dian merasa sebagai anak yang paling berbahagia di dunia pada hari itu. ***

 ***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Hai! Terima kasih telah membaca kliping cerita ini. Kalaukamu tertarik membaca kliping sejarah juga, silakan berkunjung ke http://klipingsejarahku.blogspot.com/.

Kumpulan Cerpen dan Dongeng Bobo 2002Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang