Surat Tantangan

109 1 0
                                        

Oleh Andri

Bobo Nomor 40 Tahun XXIX 3 Januari 2002


Permusuhan antara anak-anak Kampung Cipinang dan Kebonsayur semakin meruncing. Semua itu gara-gara permainan bola yang menghebohkan. Anak-anak Kampung Kebonsayur dikalahkan oleh anak-anak Kampung Cipinang.

"Kita sudah dipermalukan," kata Amin, salah satu anak Kebonsayur.

"Ya, sekali-kali mereka harus diberi pelajaran," kata Danu.

"Kita tantang saja mereka main sekali lagi di tanah lapang kita," usul Natan.

"Ah, lebih baik kita tantang mereka berkelahi di kuburan. Itu baru jantan namanya," sambung Rahmat.

"Ah, usulmu itu tidak sportif," bantah Amin.

"Apanya yang tidak sportif? Di pertandingan bola kemarin itu pun kita sudah berkelahi, kan. Dan mereka yang memulai," Rahmat tetap ngotot.

"Ya, aku setuju dengan usul Rahmat. Daripada pura-pura tanding bola, lebih baik kita berkelahi sekalian. Itu jujur namanya," bela Hasan.

Mereka akhirnya membuat surat tantangan untuk berkelahi. Lokasinya adalah di kuburan yang terletak di antara kedua kampung mereka. Dalam surat tantangan dikatakan mereka tidak boleh membawa senjata. Perkelahian harus satu lawan satu.

Surat itu ditulis dengan tinta merah. Lalu, seperti kebiasaan mereka, surat itu diselipkan di tembok pojok kuburan. Tembok itu berbatasan dengan Kampung Cipinang. Tempat itu lalu diberi tanda silang dengan arang.

Saat yang ditentukan akhirnya tiba. Dua puluh anak Kebunsayur siap menunggu anak-anak dari Cipinang di kuburan. Mereka berkumpul dengan sikap menantang.

Lama sekali mereka menunggu. Namun anak-anak dari Cipinang belum muncul seorang pun. Apa surat tantangan itu tidak sampai ke tangan mereka?

Sementara mereka menunggu, tiba-tiba dari balik kuburan muncul Pak Kepala Sekolah mereka. Betapa terkejutnya mereka.

"Aku datang atas nama anak-anak Kampung Cipinang," ujar Pak Kepala Sekolah. Amin dan teman-teman mengernyit bingung. "Bapak kan, penduduk Kampung Cipinang juga," sambung Pak Kepala Sekolah lagi.

Amin dan teman-temannya tertunduk malu. Mereka diam tak berani bicara.

"Mengapa tidak berani maju? Ayo, jangan hanya satu-satu. Maju bersama juga akan aku layani," tantang Pak Kepala Sekolah. "Kalian ini tidak sportif. Karena tidak menerima kekalahan. Kesebelahan yang menang kok, dimusuhi!"

Anak-anak Kebunsayur terdiam. Lalu perlahan satu per satu mundur teratur. Hingga akhirnya Pak Kepala Sekolah tinggal sendirian di tengah kuburan yang sunyi itu. ***


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Hai! Terima kasih telah membaca kliping cerita ini. Kalaukamu tertarik membaca kliping sejarah juga, silakan berkunjung ke http://klipingsejarahku.blogspot.com/.

Kumpulan Cerpen dan Dongeng Bobo 2002Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang