Pelukis Panjang Akal

100 1 0
                                        

Bobo Nomor 42 Tahun XXIX 17 Januari 2002

Nyonya Mendel adalah istri seorang pejabat tinggi negara. Itu membuat ia sangat angkuh. Akhir-akhir ini Nyonya Mendel gemar mengoleksi lukisan karya pelukis ternama. Tentu saja ia harus membeli lukisan-lukisan itu dengan uang banyak. Sebab harganya mahal sekali. Nyonya Mendel memang ingin menjaga gengsi. Ia tak mau kalah dengan istri pejabat lainnya. Padahal, ia tidak mengerti, bagaimana menilai bagus tidaknya sebuah lukisan.

Pada suatu hari, Nyonya Mendel datang ke rumah seorang pelukis terkenal. Pelukis ini beraliran abstrak. Pada aliran abstrak, benda yang akan dilukis tidak harus sama dengan lukisannya. Bahkan terkesan seperti corat-coret saja. Berbeda dengan lukisan aliran realis. Pada lukisan aliran realis, lukisan sebuah benda sama persis dengan benda aslinya.

Nyonya Mendel memesan sebuah lukisan potret diri pada pelukis tersebut.

Nyonya Mendel memesan sebuah lukisan potret diri pada pelukis tersebut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Si pelukis membawa Nyonya Mendel ke studio. Lalu dipersilakan duduk. Si pelukis membuat sketsa di atas kanvas. Ia lalu memberi warna di sana sini. Tak lebih dari setengah jam, sketsa berwarna lukisan itu pun selesai.

Pekerjaan tahap awal sudah selesai. Nyonya Mendel boleh pulang.

"Nyonya tak perlu datang lagi. Saya tinggal menyempurnakannya. Dua minggu lagi lukisan selesai. Silakan Nyonya datang. Kalau ada yang kurang berkenan, saya akan perbaiki," janji si pelukis.

Pada hari yang telah ditetapkan, Nyonya Mendel mendatangi studio itu. Kali ini ia ditemani anjing kesayangannya. Istri pejabat tinggi ini memang sangat menyukai anjing ras-ras unggulan. Konon katanya, anjing yang diajaknya kali ini adalah pudel yang jenius.

Pelukis membuka selubung yang menutupi lukisan. Nyonya Mendel mengamat-amati dengan seksama. Tapi ia tidak memberi komentar. Ia tidak mengerti apakah lukisan itu baik atau buruk. Ia justru mengajak bicara anjingnya, katanya, "Seta, lihat! Apakah itu lukisan majikanmu?"

Si pudel putih mengamati lukisan itu, tanpa mengeluarkan bunyi apapun.

Nyonya Mendel berkata kepada si pelukis, "Maaf, aku tak bisa menerima lukisan itu. Karena sama sekali tidak mirip denganku. Buktinya, Seta, anjingku yang paling cerdas di dunia, tak mengenalinya ...." Nyonya Mendel berhenti sejenak lalu berkata lagi, "Atau, daripada kau rugi, kubayar lukisan itu seharga kanvas dan cat yang telah kaupakai saja."

Tentu saja, ini akal bulus Nyonya Mendel untuk mendapatkan barang bernilai tinggi dengan harga amat murah.

Pelukis itu seorang yang panjang akal. Ia sudah biasa bergaul dengan orang-orang kaya yang sok macam itu. Ia tak mau terjebak akal bulus Nyonya Mendel. Ia juga tidak tersinggung karena hasil karyanya dihina.

Sambil tersenyum, pelukis itu berkata merendah, "Maaf Nyonya, nampaknya ada sedikit kesalahan. Akan segera saya perbaiki. Kembalilah besok, dan Anda akan melihat sebuah lukisan yang yang benar-benar mirip Anda. Silakan Seta menilainya sendiri ...."

Nyonya Mendel sangat gembira. Esok harinya, pagi-pagi sekali ia sudah kembali ke studio itu. Kali ini, begitu masuk ke dalam studio, Seta melompat dari pelukan majikannya. Ia menggoyang-goyangkan ekornya. Kemudian menjilat-jilat lukisan Nyonya Mendel di bagian punggung tangan. Seta tampak penuh semangat dan gembira.

Melihat itu, Nyonya Mendel terpaku kaget. Ia lalu berkomentar, "Alangkah indahnya lukisan ini! Benar-benar mirip denganku. Sempurna! Aku sangat menyukainya. Bungkuslah, dan antar ke rumah!"

Sebetulnya Nyonya Mendel masih belum tahu di mana letak keindahan lukisan itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sebetulnya Nyonya Mendel masih belum tahu di mana letak keindahan lukisan itu. Namun ia sangat puas karena merasa Seta mengenali lukisannya itu. Nyonya Mendel membayar harga lukisan itu sesuai perjanjian semula. Juga ia menambahkan bonus yang cukup besar untuk si pelukis.

Setelah Nyonya Mendel pergi, si pelukis tersenyum puas. "Ah, mudah sekali Nyonya itu kuakali. Padahal yang kulakukan cuma mengolesi punggung tangan lukisan dengan kuah daging. Aroma dan rasanya, wow ..." telah membuat si Seta berselera sehingga ia menjilatinya, he he he ...." (Kadir Wong)

Kumpulan Cerpen dan Dongeng Bobo 2002Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang