Kisah Si Burung Perak

118 1 0
                                        

Oleh Julie Qurbana

Bobo Nomor 42 Tahun XXIX 17 Januari 2002


Ruben adalah seorang anak laki-laki yatim-piatu. Ia tinggal seorang diri di gubuk kecil di pinggir hutan. Ruben memang pemberani juga rajin. Ia menghidupi dirinya dengan berjualan burung-burung buatannya dari kertas berwarna-warni. Ada burung yang berwarna hijau, kuning, merah, dan biru. Burung-burung itu digantungnya dengan rapi dan indah. Ibunyalah yang telah mengajarinya membuat burung-burung kertas itu.

Setiap hari, Ruben pergi ke desa yang terletak di tepi hutan. Ia berjualan di alun-alun desa itu dari pagi hingga petang.

"Maaf, Pak. Bolehkah aku menyimpan kertas dan benang perak ini?" tanya Ruben pada seorang petugas kebersihan pasar. Petugas itu memperhatikannya sebentar, kemudian berkata, "Ya, boleh. Aku tidak memerlukannya!"

"Terima kasih, Pak," ujar Ruben gembira.

Setibanya di rumah, Ruben mulai merapikan kertas perak yang sudah agak kusut itu. Setelah terlihat lebih licin, dengan hati-hati ia mulai melipatnya menjadi seekor burung. Hasilnya ternyata sangat indah. Apalagi setelah ia menggantung burung itu pada sehelai benang perak yang juga dibawanya.

Burung kertas perak itu pun menjadi benda kesayangannya. Ia tak akan menjualnya dengan harga berapa pun. Ruben menggantung burung itu di jendela rumahnya. Terlihat sangat indah jika terkena sinar matahari pagi dan tertiup angin. Itu mengingatkannya pada senyum ibunya yang sehangat matahari pagi.

Suatu hari, seperti biasanya Ruben pergi ke alun-alun desa untuk berjualan. Sore harinya, saat ia bersiap hendak pulang, ia melihat seorang bocah laki-laki berjalan tertatih-tatih. Tubuhnya kurus, dan bajunya compang-camping. Tampak sangat kelaparan dan sebatang kara. Namun tak ada seorang pun yang mau menolongnya. Ruben datang menghampirinya. "Hai, teman! Ada yang bisa kubantu?" tanyanya.

Anak itu memandanginya takut-takut dan berkata, "Perutku lapar sekali. Apakah kau punya sesuatu yang bisa kumakan?"

Ruben terdiam sebentar. "Saat ini aku tidak bawa apa-apa. Burung-burungku ini tak satu pun yang terjual hari ini. Tapi tadi pagi aku sempat membuat sedikit sup di rumah. Dan aku masih punya beberapa potong roti. Kau mau ikut denganku? Aku akan memanaskan sup itu untukmu," ajak Ruben.

Anak itu mengangguk setuju. Ia ikut bersama Ruben pulang ke rumah.

Di rumahnya, Ruben menghidangkan semangkuk sup hangat dan beberapa potong roti yang tersisa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di rumahnya, Ruben menghidangkan semangkuk sup hangat dan beberapa potong roti yang tersisa. Anak itu makan dengan sangat lahap, tanpa sisa. Karena kasihan, Ruben membiarkannya. Ternyata masih ada orang yang lebih malang dari aku, pikirnya.

"Kau istirahat di sini saja malam ini. Di luar sana sudah gelap," kata Ruben kepada anak itu begitu ia selesai makan.

"Kau baik sekali. Aku memang sudah sangat lelah," kata anak laki-laki itu.

Dan betul saja. Begitu kepalanya menyentuh bantal, matanya langsung terpejam. Perlahan-lahan Ruben menyelimutinya. Setelah mengucapkan selamat malam pada burung peraknya, Ruben menggelar karpet tua miliknya, lalu tidur.

Keesokan paginya, saat Ruben terbangun, ternyata anak itu sudah bangun lebih dulu. Anak itu sedang memandangi burung perak yang indah terkena sinar matahari pagi.

"Burungmu ini indah sekali. Aku belum pernah melihat benda seindah ini seumur hidupku," kata anak laki-laki itu.

"Aku membuatnya sendiri. Bagiku juga dia sangat indah. Dialah satu-satunya teman yang menghiburku," kata Ruben.

"Bolehkah aku memilikinya?" tanya anak itu tiba-tiba.

"Apa?" seru Ruben tak percaya, "Tapi dia satu-satunya temanku.

"Kau bisa mendapatkan teman yang lain. Tapi aku, siapa yang mau berteman denganku?" ujar anak itu sambil terus memandangi burung perak itu.

Ruben memperhatikan anak itu. Sebenarnya ia merasa keberatan. Tapi mata anak itu tampak berbinar bahagia memandangi burung itu. Ruben jadi tak tega. "Tapi kau harus berjanji untuk menjaganya baik-baik," ujar Ruben akhirnya.

Anak itu terlihat gembira sekali. "Aku pasti akan menjaganya," katanya penuh sukacita. Setelah berulang kali mengucapkan terima kasih, anak itu pun berpamitan pada Ruben.

"Oh ya, namamu siapa?" kata Ruben.

"Kau akan segera tahu siapa aku," serunya riang sambil melambaikan tangan.

Tinggallah Ruben termenung seorang diri. Ia mulai rindu pada burung peraknya. Rasanya seperti kehilangan seorang sahabat dekat, pikirnya sedih. Tapi biarlah. Jika burung perakku itu bisa membahagiakan orang lain, aku pun turut senang, pikirnya lagi menghibur diri.

Namun, meskipun Ruben berusaha menghibur diri, ia tetap sedih. Ia bahkan tidak pergi ke desa untuk berjualan. Malam harinya, tanpa terasa air matanya menitik. Ia teringat pada ibunya.

Pagi harinya, Ruben dibangunkan oleh suara aneh. Ia seperti mendengar suara-suara di jendela rumahnya. Seperti suara kepakan sayap burung. Ia pun bergegas membuka jendela. Seberkas sinar yang menyilaukan membuatnya terkejut dan mundur. Tiba-tiba terdengar kepakan sayap burung dan kicauan yang sangat merdu. Di jendela rumahnya telah hinggap seekor burung perak yang sangat indah. Dan burung itu hidup!

Ruben menatapnya tak percaya. Tapi burung itu benar-benar ada. Burung itu menatapnya, seolah-olah berkata, "Aku adalah cahaya yang ada di hatimu, Ruben. Karena itu, aku akan selalu berada bersamamu."

Ternyata, si bocah miskin yang ditolong Ruben adalah peri yang sedang menyamar. Peri itu mencari orang-orang yang hatinya dipenuhi cahaya. Dan ternyata, Rubenlah yang memilikinya, meskipun ia hidup sebatang kara.

Sejak saat itu, Ruben hidup berbahagia dengan burung peraknya. Ia tidak pernah lagi merasa kesepian.

Hai! Terima kasih telah membaca kliping cerita ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hai! Terima kasih telah membaca kliping cerita ini. Kalaukamu tertarik membaca kliping sejarah juga, silakan berkunjung ke http://klipingsejarahku.blogspot.com/.

Kumpulan Cerpen dan Dongeng Bobo 2002Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang