BAB003

24.4K 1.1K 143
                                        

hallo everyone? apa kabar kalian hari ini?

tim yang udah nunggu aku update mana nih??

sorry ya guys mungkin aku update bakal jarang, pertama karena aku lagi sibuk sibuknya krna bentar lgi aku lulus, so setelah lulus sambil aku nyari kesibukan lain aku pasti sering update lagi kayak dulu

JANGAN LUPA VOTE & KOMEN YA!!!




HAPPY READING

Dengan segala paksaan, akhirnya Laya mengalah meskipun hatinya menolak keras untuk ikut bersama bosnya. Disini Laya berada, tepatnya di apartemen milik bosnya, untuk apa Laya berada disini? Laya pun tidak tahu.

Memang Liam itu mempunyai sikap keras kepala, dan sebenarnya Laya sudah tahu sedari dulu akan sikap Liam.

Begitu masuk ke dalam apartemen milik Liam, Laya dibuat tercengang dengan isi apartemen lelaki itu. Sejak kapan lelaki itu menyukai warna yang mencolok? Bahkan Laya sangat ingat, Liam hanya menyukai warna hitam dan abu-abu.

"Tujuan kakak bawa aku ke sini apa?" tanya Laya to the point.

"Ada yang mau gue tanyain, duduk," perintah Liam.

Laya mencoba untuk mengabaikan setiap pertanyaan dibenaknya yang ingin ditanyakan kepada Liam, Laya tidak boleh tahu urusan pribadi lelaki itu, ya, urusannya hanya sekedar pekerjaan tidak lebih juga tidak kurang.

"Apa yang mau kakak tanyain?" Laya menatap Liam begitu serius.

Tanpa gadis itu sadari, sedari tadi Liam tidak melepaskan pandangannya dari pemandangan dihadapannya, wajah cantik nan manis juga mata hitam bulatnya yang terlihat begitu menenangkan dihatinya.

"Menyangkut kerjaan, kak?" Laya kembali melontarkan pertanyaan karena Liam tak kunjung bicara.

"Kenapa lo selalu menghindar dari gue?" satu pertanyaan akhirnya berhasil Liam keluarkan dari bibirnya yang sedari tadi terasa kelu.

"M-maksud kakak?"

"Lo paham apa yang gue maksud," pungkas Liam.

"Aku gak pernah menghindar dari kakak," ucap Laya seraya mengalihkan tatapannya ke arah lain.

"Aku juga mau ngomong sesuatu, aku mau berhenti kerja--"

"Kenapa?"

"Aku gak cocok ada diposisi itu--"

"Lo gak bisa berhenti kerja, lo tetep kerja sama gue," Liam kembali memotong ucapan Laya.

Keduanya saling beradu pandangan, setajam-tajamnya kedua mata Liam, tetap akan terkalahkan dengan kedua mata Laya yang nampak menenangkan hati.

Liam benci mempunyai perasaan seperti ini, Liam benci setiap saat harus berharap kepada seorang gadis yang jelas tidak mengharapkannya.

"Kakak gak berhak atur hidup aku," ujar Laya membuat Liam bungkam.

"Gue berhak."

"Karena kakak bos aku?"

"Itu sama sekali gak ada urusannya sama urusan pribadi, kak," lanjut Laya berucap.

"Oke, silakan lo keluar," ucap Liam, emosinya sedikit tidak terkontrol.

Laya diam sejenak sembari menatap wajah datar Liam, terbesit perasaan tidak enak kepada lelaki itu, tetapi Laya harus tetap konsisten dengan keputusannya.

"Aku permisi, makasih kakak udah mau terima aku kerja di perusahaan kakak," ucap Laya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pergi keluar dari apartemen milik Liam.

WILLIAM (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang