TSD (06) : Liburan

46.7K 608 11
                                        

Tinggalkan vote/komen bila sudi.
Happy reading.

^^^^^•••••^^^^^

Bella duduk di dekat jendela dan melihat pemandangan orang yang berlalu lalang. Dia lebih memilih untuk tetap di kamar daripada ikut ke pantai bersama Xavier dan Grace. Selain tidak mood, dia juga tidak terbiasa liburan bersama Grace. Dia lebih nyaman seorang diri begini.

Bella terkejut ketika seseorang memeluknya dari samping. Dia pun menoleh dan mendapati Xavier yang bertelanjang dada. Pria itu hanya menggunakan celana pantai pendek dengan rambut dan tubuh yang masih cukup basah. Bella meneguk ludahnya susah payah. Dia tidak dapat menampik bahwa Xavier begitu panas dan menggoda.

"Kenapa kau tidak pergi?" Tanya Xavier sembari menyelipkan rambut Bella ke belakang telinga.

"Aku tidak ingin. Aku tidak suka pantai karena terlalu ramai," jawab Bella. Xavier tersenyum tipis. Dia memperhatikan wajah wanita di rengkuhannya. Cantik, polos, dan tatapan mata yang penuh kesepian juga kesedihan.

"Apa kau tidak bosan?" Tanya Xavier lagi. Bella hanya menggeleng.

"Ayolah, Bell. Kami mengajakmu kesini untuk bersenang-senang," ucap Xavier. Bella menghela nafas. Xavier berdecak dan menarik tangan Bella.

"Kau mau apa?" Tanya Bella bingung.

"Aku akan membawamu ke suatu tempat," jawab Xavier. Bella hanya mengikuti langkah Xavier.

"Bagaimana dengan Mom?" Tanya Bella.

"Dia sedang istirahat karena lelah. Dia pasti tertidur. Kita akan kembali sebelum dia bangun," ucap Xavier. Bella tidak memberi respon apapun. Dia terus melangkah dengan tangan yang digandeng oleh Xavier.

Xavier mengajak Bella menaiki speedboat. Mereka menjelajahi pantai hingga berhenti di sebuah pulau kecil. Sepi, sunyi, sejuk, dan indah, begitulah yang terlintas di pikiran Bella saat ini. Dia langsung suka tempat itu meskipun baru memijaknya beberapa menit.

"Kemarilah," ucap Xavier. Dia menuntun Bella untuk duduk. Ia lantas merangkul pinggang wanita itu.

"Kau sering kesini?" Tanya Bella. Xavier menggelengkan kepala.

"Ini kedua kalinya aku kesini. Dulu, aku tidak sengaja pergi ke pulau ini saat berlibur dengan teman kuliahku. Aku berniat untuk bulan madu dengan Grace disini, tetapi Grace tidak suka tempat yang terlalu sepi. Dia lebih suka menghabiskan waktu di tempat wisata yang ramai," jelas Xavier.

"Dia memang berbanding terbalik denganku," ucap Bella. Xavier melirik wanita itu.

"Kenapa kau lebih suka tempat sepi?" Tanya Xavier.

"Kurasa, karena aku hidup di lingkungan yang sepi. Sejak kecil, aku jarang bermain. Selain itu, pikiran dan perasaanku menjadi lebih tenang saat sendirian di tempat sepi," jawab Bella. Xavier tersenyum kecil.

Xavier menatap Bella dengan lekat. Sejak Bella menjadi bagian dari rumah tangganya, perasaan Xavier menjadi terombang-ambing. Bukan hanya karena Bella memiliki wajah yang sangat cantik, namun Bella memiliki kepribadian yang lebih tenang. Wanita itu juga pintar mengendalikan emosi. Bella dan Grace seperti dua wanita yang tidak memiliki hubungan ibu anak saking berbedanya sikap mereka.

"Bell," panggil Xavier. Bella menoleh dengan tatapan yang begitu polos.

Xavier langsung menarik wajah Bella dan mencium lembut bibir wanita itu. Bella sedikit terkejut, namun ia tidak menolak. Ia membalas ciuman Xavier dengan tangan yang mengusap lembut rahang Xavier. Kegilaan ini, Bella begitu menyadarinya. Tetapi, dia tidak bisa menahan diri karena pesona Xavier. Emosinya tidak terkendali jika sedang bersama Xavier. Apakah karena Xavier pria pertama untuknya?

"Sorry," lirih Bella setelah ciuman usai. Xavier mengangkat satu alisnya.

"For what?" Tanya Xavier kebingungan.

"Tidak seharusnya aku menikmati kesalahan ini, uncle," lirih Bella. Xavier menghela nafas.

"Aku tidak peduli jika ini sebuah kesalahan, Bell. Aku mendambakan tubuhmu," ucap Xavier. Dia memangku Bella dan kembali menciumnya. Bella mengalungkan tangannya sembari membalas ciuman pria itu.

"Ini tempat terbuka, Xav. Bagaimana kalau ada yang melihatnya?" Tanya Bella khawatir. Xavier tersenyum tenang.

"Tempat ini tidak bisa dikunjungi oleh sembarang orang, sweetie," ucap Xavier sebelum membuka jubah berwarna krem yang Bella kenakan. Senyumnya terbit saat Bella menggunakan bikini di balik jubah itu.

"Kau tahu? Kau itu sangat cantik. Tatapanmu yang begitu teduh membuat siapapun pria tertarik padamu," puji Xavier. Dia segera menciumi leher Bella dengan agresif.

"Nghh," Bella melenguh sembari meremas rambut Xavier. Ia melenguh semakin keras saat tangan Xavier ikut andil menyentuh tubuhnya. Tangan besar pria itu meremas lembut dadanya dan sesekali memainkan puting-nya dari luar bikini.

"Xavhh," desah Bella saat tangan Xavier sudah berpindah ke bagian bawah tubuhnya. Tangan pria itu bergerak naik turun secara taratur.

"Yah, terus sebut namaku, sweetie," bisik Xavier. Saat pria itu baru saja menggeser bawahan bikini yang Bella kenakan, ada sebuah bunyi ponsel. Xavier berdecak sembari mengambil ponsel yang ada di saku kemejanya.

"Disini ada jaringan?" Tanya Bella agak kaget. Xavier terkekeh pelan sebelum mengecup bibir Bella singkat.

"Tentu saja. Kau pikir ini pulau terpencil?" Tanya Xavier. Bella menggaruk kepalanya sedikit malu.

"Hai, sayang. Kau dimana?" Mendengar suara si penelfon, Bella sangat kaget. Dia sangat hafal suara itu.

"Aku sedang duduk di tepi pantai. Kenapa?"

"Oh, begitu. Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tahu kau dimana karena kau tidak ada saat aku bangun."

"Kukira ada sesuatu. Kau tidak apa-apa 'kan sendirian dulu? Aku sedang ingin menikmati laut."

"Ya, tentu saja. Lagipula aku cukup lelah sudah keliling seharian. Aku akan melanjutkan tidurku. Bye, sayang. Love you."

"Love you more, my queen," ucap Xavier sebelum sambungan telfon terputus. Ia lantas menaruh ponsel ke tempat semula dan menatap Bella.

"Sekarang, waktunya menyambung kegiatan tadi, Bell," ucap Xavier sebelum mencium Bella. Sedangkan, tangannya memainkan milik Bella dengan memasukkan dua jari. Ia menggerakkan jarinya keluar masuk dengan tempo cukup cepat. Bella mengerang disela ciumannya menikmati apa yang Xavier lakukan.

"Ahhh." Bella mengerang keras dengan cairan bening mengalir dari miliknya. Dia meremas rambut Xavier sembari menikmati orgasmenya hingga tuntas.

"Kita main cepat saja, Bell," ucap Xavier sebelum menarik celananya sendiri. Ia lantas menuntun Bella untuk memasukkan miliknya. Bella mengerang saat Xavier menghantam miliknya dengan cepat dan keras.

"Xavhhh," pekik Bella saat Xavier bergerak semakin cepat. Lalu, beberapa menit kemudian mereka mencapai puncak bersama. Rahim Bella begitu hangat karena cairan milik Xavier menyembur banyak. Ia pun lunglai di pelukan Xavier dengan nafas yang tidak karuan.

"Kau luar biasa, Bell," puji Xavier sebelum mengecup pucuk kepala Bella. Mendengar itu, Bella mengepalkan tangan. Dia marah pada Xavier sekaligus dirinya sendiri. Dia marah pada Xavier karena berbuat seenaknya dan marah pada diri sendiri karena menikmati apa yang pria itu lakukan. Seharusnya, ia menolak dan memaki Xavier. Dia merasa bahwa otaknya mengalami gangguan.

"Kita kembali ke hotel sekarang," ucap Xavier sembari menuntun Bella untuk berdiri. Wanita itu melenguh sebelum melihat ke bawah. Cairan putih kental sedikit mengalir dari miliknya. Ia pun membersihkan cairan tersebut menggunakan jubah yang tadi dikenakan sebelum berjalan di samping Xavier. Dia harus bersikap senormal mungkin agar Grace tidak curiga nantinya.

Tbc__________

A/N
Haloooo....
Maaf banget kalau tulisanku kacau banget dan ceritanya aneh. Gatau kenapa aku gabisa seimajiner dulu huhu. Mungkin karena kebanyakan kegiatan di real life deh. Aku harap kalian masih sreg.
Terima kasih juga yang udah mau baca dan stay nungguin. Maaf yaa gabisa up rutin.

The Step-Dad ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang