Tinggalkan vote/komen bila bersedia.
Happy reading.
^^_^^
Sejuk, damai, dan menenangkan, begitulah yang Bella rasakan setelah kembali berpijak di tempat kelahirannya. Aroma khas pagi hari yang sudah lama tidak ia nikmati, kini kembali ia dapatkan. Kicauan burung terdengar merdu di telinganya. Senyumannya merekah sempurna. Segala beban dalam dirinya hilang untuk sementara waktu. Ia pun duduk di dekat jendela untuk melihat pemandangan sekitar. Ia masih tidak menyangka kembali lagi kesini, meskipun hanya sementara waktu. Ya, meskipun sementara, tetapi sangat berharga. Dia bisa mengenyahkan Xavier untuk sebentar.
"Menikmati pagimu, Bell?" Pertanyaan itu membuat Bella langsung membalik. Matanya membulat kaget. Dia pun menepuk pipinya beberapa kali. Sakit yang ia rasakan menandakan bahwa semua ini bukanlah mimpi. Lantas, jika ini nyata, untuk apa Xavier berada disini?
"No, pasti aku masih bermimpi. Tidak mungkin kalau ini nyata," ucap Bella menolak kenyataan. Xavier tertawa di tempatnya.
"Tidak, sweetie. Kau tidak bermimpi," ucap Xavier sembari mendekati Bella. Reflek, Bella memundurkan tubuhnya meski sudah mentok di jendela.
Xavier menarik sisi wajah Bella dan mencium gadis itu. Dia memberikan ciuman yang lembut dan menghanyutkan sehingga Bella yang awalnya hendak menolak, justru membalasnya. Xavier tersenyum di sela ciumannya sembari menekan tengkuk Bella untuk memperdalam ciuman. Lenguhan terdengar dari mulut Bella. Gadis itu mencengkeram kaos yang Xavier kenakan. Beberapa saat kemudian, Xavier mengakhiri ciuman. Bella langsung meraup oksigen sebanyak mungkin.
"A sweet morning kiss," bisik Xavier sebelum mengecup pipi Bella.
"Kenapa kau berada disini, Xav?" Tanya Bella. Xavier malah tersenyum dan berpindah ke tempat tidur. Dia duduk di atas ranjang sembari memandangi Bella.
"Berlibur juga. Apa ada masalah?"
"Tentu. Aku sengaja kesini untuk menghindarimu. Tetapi, kau malah ikut kesini? Apakah otakmu sudah benar-benar konslet, Xav?" Amuk Bella. Xavier masih terkekeh ringan.
"Kenapa kau marah-marah, Bell? Lagipula, aku kesini benar-benar ingin berlibur. Aku ingin merasakan tinggal di pedesaan. Aku juga ingin lebih dekat dengan Ibunya Grace dan mengetahui semua aktivitasnya," jelas Xavier.
"Bohong sekali jika kau hanya tinggal disini tanpa melakukan apapun padaku. Tadi saja, kau sudah menciumku tanpa pamit," oceh Bella.
"Oh, jadi aku harus berpamitan dulu? Oke, aku akan melakukannya lain kali," ucap Xavier entang. Bella mengepalkan tangan. Paginya hancur seketika.
"Daripada kau marah-marah terus, lebih baik segera keluar. Ibu Martha sudah menyiapkan sarapan untuk kita," ucap Xavier sebelum berdiri. Pria itu lantas keluar dari kamarnya begitu saja.
"Memang gila pria itu," gumam Bella sebelum menyusul Xavier keluar.
Bella duduk di kursi yang berseberangan dengan Xavier. Dia melirik pria di depannya yang sudah lebih dulu mengambil sarapan. Dia pun ikut mengambil pancake dengan wajah datar. Dia merasa sangat percuma meliburkan diri untuk kesini jika ada Xavier. Pria itu benar-benar sangat suka mengacaukan rencananya. Tentu saja, dengan tampang seperti tidak pernah berbuat dosa.
"Sejak kapan Xavier ada disini?" Tanya Bella. Martha yang baru saja meneguk minumannya menatap Bella.
"Sejak semalam. Dia kembali kesini setelah mengantarkan Grace ke bandara," jelas Martha.
"Ke bandara? Memang Mom kemana?"
"Ada masalah dengan proyek yang dia tangani sebelumnya. Jadi, dia harus kesana untuk memperbaikinya," jelas Xavier.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Step-Dad ✓
Romance"Aku tidak pernah berniat merusak. Aku tidak pernah ingin terjebak. Tetapi, semua mengalir tak terkendali hingga sebuah dosa aku perbuat. Gilanya, aku menikmati dosa tersebut. Bahkan, otakku mulai mendoktrin hal-hal jahat. Aku mengharapkan sebuah ke...
