Tinggalkan vote/komen bila sudi.
Happy reading.
ʕ´• ᴥ•̥'ʔ
Sejak hari dimana Bella meninggalkan rumah, suasana menjadi berubah total. Rumah tangga Xavier tidak semanis sebelumnya. Grace yang begitu manja dan hangat, kini menjadi lebih dingin. Xavier telah berusaha untuk mengembalikan semuanya agar sama seperti sebelum kejadian itu terbongkar. Tetapi, hasilnya nihil. Grace bahkan begitu fokus dengan anak asuhnya. Lama kelamaan, Xavier juga menjadi lebih suka menyendiri. Dia ikut mendingin sama seperti Grace. Mereka berdua seperti pasangan yang sudah saling kehilangan rasa, tetapi tidak sanggup untuk mengakhiri begitu saja.
Xavier duduk di kursi tepi kolam renang. Matanya tertuju pada ujung kolam yang jauh di seberang sana. Bayangan saat pertama kali Bella menunjukkan sisi liarnya, terlintas di benak Xavier. Sebuah awal dari hubungan terlarang itu. Xavier sama sekali tidak menyesalinya. Meskipun, itu sebuah kesalahan. Baginya, itu adalah kesalahan yang indah walau pada akhirnya berakhir perpisahan.
Xavier menghela nafas. Mengingat Bella, perasaan dan pikirannya menjadi tidak karuan. Xavier sama sekali belum siap kehilangan gadis itu. Dia masih ingin bersama Bella. Ya, setidaknya ia memiliki banyak kenangan manis meskipun tidak bisa bersatu. Bodohnya, Xavier malah melakukan sebuah pembelaan yang pasti membuat Bella sangat terluka.
"Bell, where are you? Kenapa kau memilih pergi dan tidak kembali pada Martha? Apa yang kau pikirkan sampai pergi begitu saja tanpa membawa apapun, selain uang yang Grace beri? Apa kau baik-baik saja sekarang?" Gumam Xavier.
Pada saat itu, Xavier berpikiran untuk meminta maaf dan berusaha tetap berhubungan dengan Bella jika Bella kembali kepada Martha. Tetapi, Bella malah pergi entah kemana. Bella hanya meninggalkan sepucuk surat pamitan singkat pada Martha. Bella meninggalkan ponsel, bahkan kartu identitasnya. Entah itu tertinggal atau memang sengaja ditinggal. Pada intinya, Bella benar-benar pergi dengan membawa sedikit uang dari Grace. Bella seperti memulai kehidupan dari nol.
"Xav," panggil Grace. Xavier menoleh ke belakang. Grace berdiri dengan tatapan mata yang serius. Xavier pun berdiri dan menghampiri istrinya.
"Ada apa, sayang?" Tanya Xavier. Dia masih berusaha bersikap manis, meskipun ia sudah menyerah untuk mencairkan perasaan Grace.
"Apa kau begitu kehilangan Bella?" Tanya Grace yang tentu saja membuat Xavier terdiam. Dia tidak tahu, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu. Jadi, ia malah balik bertanya.
"Mengapa kau bertanya begitu?"
"Aku selalu memperhatikan setiap tingkahmu. Kau selalu memijak dan mengamati tempat-tempat yang biasa Bella singgahi. Diam-diam, kau juga ke kamar Bella, bukan?" Perkataan Grace tentu saja membuat Xavier sangat terkejut. Tidak ada yang meleset sama sekali.
"Jika kau memang memiliki perasaan lebih pada Bella, mengapa waktu itu kau mati-matian berusaha membuat aku tidak melepasmu, hah?" Tanya Grace. Xavier meneguk ludahnya.
"I love you more, Grace," ucap Xavier. Grace malah tersenyum sinis. Haruskah ia percaya apa yang dikatakan oleh pria itu?
"Aku tidak menampik jika aku sangat kehilangan Bella. Aku juga memikirkan keadaannya. Bella masih sangat labil dan dia memulai kehidupan baru di luar sana dalam keadaan bermasalah," ucap Xavier. Grace membuang muka dan menghela nafas. Hatinya sudah sangat kecewa sehingga Grace bahkan tidak peduli seperti apa keadaan Bella di luar sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Step-Dad ✓
Romance"Aku tidak pernah berniat merusak. Aku tidak pernah ingin terjebak. Tetapi, semua mengalir tak terkendali hingga sebuah dosa aku perbuat. Gilanya, aku menikmati dosa tersebut. Bahkan, otakku mulai mendoktrin hal-hal jahat. Aku mengharapkan sebuah ke...
