Tinggalkan vote/komen bila sudi.
Happy reading.
⊂(◉‿◉)つ
Keras kepala dan pantang menyerah memang sifat dasar Xavier. Pria itu menepati ucapannya bahwa waktu itu bukan pertemuan terakhir. Xavier selalu mengunjungi kedainya dan berada di sana hingga kedai hendak tutup. Pria itu masih berusaha untuk meminta hak atas Jessie dan Jason. Padahal, Bella sudah berkata dengan jelas. Tentu saja, Bella malas melayani pria itu. Ia akan mengabaikannya hingga Xavier lelah sendiri.
"Bella," panggil Xavier sembari mencekal pergelangan tangan Bella.
"Apalagi?" Tanya Bella ketus.
"Aku mohon sekali lagi. Jika kau keberatan untuk mengenalkan aku pada mereka sebagai ayah, izinkan aku berkenalan menjadi temanmu. Aku hanya ingin bisa bertemu mereka," pinta Xavier. Bella mengamati wajah pria itu. Bella memutar bola matanya karena Xavier memasang wajah memelas dan sedikit pucat. Pria itu berusaha memperdaya dirinya lagi, 'kan?
"Aku tidak akan tertipu mimik dan tutur katamu. Mau kau memohon seribu kalipun, aku tidak akan memberikan kesempatan itu. Bahkan, meskipun kau sampai menangis darah. Aku sudah memutuskan untuk benar-benar hidup tanpa terlibat denganmu atau Grace lagi," ucap Bella. Tentu saja, perkataan itu membuat Xavier merasa sangat sakit.
"Pergilah. Aku akan menutup kedai ini," ucap Bella sebelum membawa piring dan gelas bekas Xavier.
Xavier menghela nafas. Dadanya terasa sesak. Kebodohannya waktu itu benar-benar membuatnya kehilangan permata. Jika waktu bisa diputar, maka Xavier akan menjawab lebih memilih Bella. Toh, saat ini pun, Grace tetap sangat terluka. Parahnya, bukan hanya Grace saja. Tetapi, dirinya dan Bella. Mulut biadabnya waktu itu membuat semuanya menjadi sangat berantakan.
Xavier pun memilih menuruti permintaan Bella. Ia beranjak dari tempat duduk dan berjalan keluar. Saat di ambang pintu, matanya menangkap dua sosok anak kecil yang tengah berjalan riang ke arah kedai. Dia samping mereka ada sesosok pria dewasa bertubuh jangkung. Senyum Xavier terbit secara tipis. Ia sangat yakin, itu kedua anaknya bersama pria yang Bella sebut lebih baik darinya. Xavier pun berjalan. Ia berniat untuk menghampiri mereka lebih cepat. Namun, tiba-tiba pandangannya mengabur. Kepalanya terasa nyeri. Hingga beberapa detik kemudian, Xavier kehilangan keseimbangan tubuhnya. Ia limbung dengan pandangan yang menggelap. Telinganya juga kehilangan pendengaran. Sebuah kata yang Xavier dengar sebelum kehilangan kesadaran adalah kedua anaknya memanggil ia 'Uncle'.
"Uncle Ed. Tolong dia," ucap Jessie heboh. Edric pun berjongkok. Ia masih ingat, bahwa pria yang pingsan itu adalah pria yang menabrak Jason waktu itu.
"Kita bawa dia ke rumah," ucap Edric. Dia berusaha memapah Xavier dengan susah payah. Beruntung, tubuhnya kekar sehingga ia masih bisa membawa Xavier.
Edric menidurkan Xavier di ruang tamu rumah Bella. Dia mengecek keadaan pria itu. Tubuhnya sangat panas dan wajahnya pucat. Pria itu juga mulai menggigil. Edric yakin bahwa Xavier tengah demam. Edric pun ke dapur untuk mengambil kompres. Ia mengompres Xavier dengan telaten. Edric ini memang sangat mencerminkan Ibunya, yaitu sangat suka menolong.
"Kenapa Uncle ini bisa pingsan di kedai Mom, ya, Uncle Ed?" Tanya Jessie. Edric hanya menggeleng. Sebenarnya, ia juga penasaran dengan pria itu. Sebab, Edric sudah beberapa kali memergoki pria itu mengunjungi kedai Bella.
"Bella, aku mohon," rintih Xavier. Edric menautkan alis bingung. Kenapa mengigau nama Bella?
"Lho, dia tahu nama Mom kita?" Jason bertanya bingung.
"Uncle juga heran, Jason," ucap Edric.
"Mengapa dia ada disini?" Tanya Bella dengan suara meninggi. Ia yang baru pulang langsung kaget saat melihat Xavier berbaring di sofa ruang tamunya. Terlebih, ada Jason dan Jessie disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Step-Dad ✓
Romance"Aku tidak pernah berniat merusak. Aku tidak pernah ingin terjebak. Tetapi, semua mengalir tak terkendali hingga sebuah dosa aku perbuat. Gilanya, aku menikmati dosa tersebut. Bahkan, otakku mulai mendoktrin hal-hal jahat. Aku mengharapkan sebuah ke...
