TSD (23) : The Bad Reality

11.3K 287 10
                                        

Tinggalkan vote/komen bila sudi.
Happy reading.

~~~~~

Gejala gangguan kesehatan yang dialami Bella tidak kunjung usai. Meskipun badan Bella tidak selemah awal sakit, tetap saja Bella terus dihantui rasa mual. Seperti pagi ini, weekend yang seharusnya ia nikmati pun hancur karena Bella yang terus mual muntah sejak pagi buta. Tubuhnya sudah sangat lemah. Ia pun terduduk di closet sembari menangkup wajahnya sendiri. Dugaan yang selama dua minggu ini bersemayam di pikirannya semakin menguat.

Bella berdiri dan menatap lurus ke arah cermin. Ia menarik ke atas kaos yang dikenakan dan menaruh satu tangan di atas perutnya. Ia merasakan perbedaan yang signifikan. Perutnya memang tidak begitu rata, tetapi tidak sebuncit ini. Ia lantas bercermin dengan badan menyamping. Ia kembali mengamati perutnya. Tampak sekali perubahan volume perutnya. Ia lantas sedikit menekan perutnya sendiri. Tidak begitu keras, namun itu sama sekali bukan tekstur perut berlemak. Bella pun kembali duduk di atas closet.

"Really? Aku mengandung anak Xavier?" Lirih Bella.

Bella belum sepenuhnya yakin. Oleh karena itu, Bella memutuskan untuk mencari kebenarannya dengan memeriksanya langsung ke dokter kandungan. Ia buru-buru keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian dengan rapi. Ia mencepol rambutnya ke atas dengan tubuh dibalut hoodie dan bawahan rok selutut. Ia memoles sedikit make up ke wajahnya sebelum keluar dari kamar.

"Kau mau kemana, Bell? Mengapa sangat buru-buru?" Tanya Grace yang tengah menimang Freddie di ruang tamu. Tentu saja bersama dengan Xavier.

"Aku ada janji untuk mengerjakan tugas kelompok bersama temanku dan aku sudah sedikit terlambat," jawab Bella.

"Mau aku antar?" Tawar Xavier.

"Tidak usah, Xav. Temanku sudah menjemput tak jauh dari sini," tolak Bella.

"Oke, kalau begitu hati-hati," ucap Xavier. Bella mengangguk dan keluar dari rumah dengan sedikit berlari.

Bella menaiki sebuah kendaraan umum hingga sampai di salah satu rumah sakit yang jauh dari area rumahnya. Dengan penuh keyakinan, Bella menuju ke dokter kandungan. Dia melakukan pendaftaran sebelum duduk di salah satu kursi tunggu. Ia menghela nafas sembari berdoa bahwa semua dugaannya adalah salah. Jujur, Bella lebih memilih menerima kenyataan tengah mengidap penyakit sesuatu daripada harus menerima kenyataan tengah mengandung.

"Ya Tuhan. Aku mohon kabulkan doaku. Aku tidak mau semuanya semakin rumit. Aku benar-benar ingin terbebas," gumam Bella sembari mengepalkan kedua tangannya.

***

Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, Bella duduk di hadapan dokter yang memeriksanya. Dia merasa sangat cemas dan jantungnya berdegub sangat kencang saat menunggu dokter untuk menjelaskan hasil pemeriksaan. Bella sangat takut sekaligus penasaran.

"Baik, Nona Winter. Setelah saya periksa, semua gejala yang Nona alami itu bukan karena sakit, ya. Nona Winter sedang mengandung dan usianya sudah memasuki minggu ke-9. Selamat, ya, Nona," ucap dokter sembari mengulurkan tangan. Bella malah terdiam. Dia merasa sangat syok dengan penuturan dokter.

"Nona?" Panggil dokter itu.

"Dok, begini. Selama ini, saya selalu mengonsumsi pil pencegah kehamilan. Jadi, bagaimana bisa saya tetap hamil?"

"Begini, Nona. Tidak semua obat bekerja 100% dan kinerja dari obat juga tergantung dari bagaimana cara mengonsumsinya. Jadi, meskipun Nona rutin mengonsumsi, tetap ada kemungkinan kecil untuk hamil," jelas Dokter.

"Tapi, Dok. Obat yang saya minum itu bukan sembarangan. Obat itu berkualitas bagus dan langsung dari dokter kandungan juga. Bagaimana bisa tidak berpengaruh?"

The Step-Dad ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang