TSD (07) : One Step

53.9K 586 7
                                        

Tinggalkan vote/komen bila sudi.
Happy reading.

~~~~~^^^~~~~~

Liburan musim panas masih cukup panjang. Namun, Grace dan Xavier memutuskan untuk mengakhiri liburan tepat pada hari ketiga. Selain karena Grace tiba-tiba kurang enak badan, Xavier juga memiliki pekerjaan yang tidak bisa disambi dalam jarak jauh. Bella sebagai sang anak hanya mengikuti mereka. Ia merasa sangat bersyukur karena dengan di rumah, Xavier tidak lagi leluasa menggagahinya. Tidak seperti saat liburan dimana Xavier seringkali menyusup ke kamarnya. Bella beberapa kali berhubungan dengan Xavier selama liburan secara diam-diam.

Setelah pulang ke rumah, Bella lebih99j banyak bersantai di dalam kamar dan sesekali membuat cemilan di dapur. Seperti saat ini, ia membuat pancake sembari bersenandung. Dia merasa sangat bebas karena Xavier dan Grace pergi sejak pagi tadi. Setelah matang, ia menikmati pancake tersebut sembari meminum soda. Baru beberapa suap, dia mendengar suara dari arah ruang tamu. Ia pun menaruh makanan dan minumannya sebelum pergi ke sumber suara. Ternyata, Xavier dan Grace telah kembali.

"Kalian sudah pulang?" Tanya Bella berbasa-basi. Ia memasang senyum manis, namun Grace justru memasang wajah sinis. Bella menautkan alis, apalagi saat Grace terlihat menyimpan sebuah amarah.

"Lebih baik kau diam saja," ucap Grace dengan nada ketus. Setelah itu, ia naik ke lantai dua. Bella semakin keheranan. Dia pun menatap Xavier yang masih berdiri di anak tangga paling bawah. Tetapi, tak lama pria itu menyusul Grace. Ketika sudah agak jauh, Bella menyusul naik. Dia berdiri di depan kamar Xavier yang baru saja ditutup. Dia mendengar sebuah isak tangis.

"Grace, tidak seharusnya kau bersikap seperti itu kepada Bella. Walau bagaimanapun, dia darah dagingmu," ucap Xavier.

"Dia memang darah dagingku, tetapi aku sangat membencinya! Selain dia merusak masa mudaku, dia juga merusak rahimku, Xav. Karena melahirkan dia, aku tidak bisa memiliki anak lagi!" Teriak Grace dengan histeris. Tangisannya juga semakin kencang.

"Apa yang kau katakan, Grace! Tidak seharusnya kau menyalahkan Bella. Semua karena kehendak Yang Kuasa," ucap Xavier.

"Tidak, Xavier! Dia benar-benar bencana dalam hidupku! Aku muak melihatnya!" Teriak Grace lagi.

"Cukup, Grace. Tenangkan dirimu dan berhenti menyalahkan Bella," ucap Xavier.

Di balik pintu, Bella mematung. Matanya mengeluarkan cairan bening. Ulu hatinya terasa sangat sakit. Dia memang tidak pernah dekat dengan Grace dan cenderung seperti orang asing. Tetapi, di otaknya tetap tertanam bahwa Grace adalah Ibunya. Grace adalah seseorang yang telah melahirkannya. Grace adalah orang yang membuatnya bisa melihat dunia ini. Bella mungkin tidak begitu menyayangi Grace dan sering jengkel pada wanita itu. Tetapi, ia tidak pernah membenci Grace apalagi sampai memaki diam-diam.

Bella berjalan dan masuk ke dalam kamar. Dia duduk di tepi ranjang sembari mengusap air matanya. Setelah itu, ia memandang sebuah foto yang tergantung di dinding kamar. Sebuah foto kebersamaan dirinya dengan sang nenek yang sudah agak usang. Mengingat wanita di dalam foto itu, Bella menjadi rindu. Hanya wanita itu yang bisa menjadikannya sesosok yang berharga dan memberikan kasih sayang yang begitu besar.

"Bell," sapa seseorang membuat Bella menoleh. Dia melihat sosok Xavier yang tengah berjalan ke arahnya. Bella mencoba bersikap biasa dan seolah tidak pernah menangis.

"Sebenarnya, apa yang terjadi pada Mom? Kenapa dia terlihat sangat marah?" Tanya Bella. Xavier menunduk sejenak.

"Grace tidak enak badan waktu liburan dan dia mengalami gejala kehamilan. Jadi, kami berfikir bahwa mungkin Grace hamil. Ternyata setelah cek, Grace hanya sakit biasa dan justru kami baru tahu bahwa rahim Grace bermasalah. Kemungkinan untuk punya anak lagi sangat kecil. Oleh karena itu, Grace tampak sangat marah, sedih, dan kecewa," ucap Xavier. Bella mengangguk pelan. Dia bersikap seolah baru tahu permasalahan mereka.

The Step-Dad ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang