Tinggalkan vote/komen bila sudi. Happy reading.
○●●●●○
Senandung ceria mengiringi langkah seorang gadis yang baru saja pulang sekolah. Arabella Joice Winter, begitulah nama lengkap gadis itu. Ia dikenal sebagai gadis yang cantik, rajin, pintar, dan sangat ramah. Oleh karena itu, ia sangat disukai para tetangganya. Apalagi, Bella ini suka berkebun dan penyayang binatang.
Dibalik semua hal baik yang Bella punya, ia menyimpan sebuah cerita sedih. Dia merupakan anak yang hadir karena ketidaksengajaan orang tuanya. Ayah kandungnya pergi tanpa bertanggung jawab dan ibunya merantau ke kota setelah melahirkannya. Sejak itu, ia dirawat oleh sang nenek. Hubungannya dengan sang ibu pun tidak terlalu dekat. Mereka bahkan seperti orang asing.
"Mom," ucap Bella dengan alis bertaut ketika melihat sang Ibu duduk di sofa sembari menikmati secangkir teh. Graciella Joy Winter, nama ibu Bella. Wanita yang akrab disapa Grace ini merupakan seorang pebisnis. Namanya cukup tersohor karena kemampuannya.
"Tumben sekali Mommy kesini disaat bukan hari libur."
"Duduklah. Aku ingin membicarakan hal penting denganmu," ucap Grace. Bella menurut. Dia duduk di sofa berseberangan dengan Grace.
"Kau tahu 'kan kalau aku sudah menikah tahun lalu?" Tanya Grace. Bella mengangguk pelan.
"Aku tidak pernah bilang ke suamiku bahwa aku memiliki anak. Tetapi, minggu lalu aku baru saja memberitahunya karena aku merasa tidak tenang terus menyembunyikan statusku."
"Lalu?"
"Dia memintaku untuk membawamu. Dia meminta agar kita tinggal bersama. Dia ingin menjalankan tugasnya sebagai Ayah," jelas Grace. Bella menampilkan ekspresi kurang bersahabat.
"Setelah meninggalkanku dan tidak menganggap kehadiranku, tiba-tiba Mommy mengajakku tinggal bersama? Itu konyol sekali. Kita bahkan sangat asing. Lalu, ditambah dengan suamimu? Aku tidak bisa."
"Jangan menolak, Bella. Anggap saja ini awal baik untuk hubungan kita. Aku juga ingin memperbaiki diri sebagai seorang ibu," ucap Grace.
"Nenek bagaimana?"
"Kau tidak perlu memikirkan hal lain. Sekolah, nenekmu, dan semuanya sudah diurus oleh suamiku. Tugasmu hanya berkemas dan ikut denganku hari ini juga," ucap Grace dengan tegas. Bella menghela nafas.
"Kenapa tidak besok saja?"
"Aku tidak butuh penawaran, Bella. Sekarang juga kemasi semua barang-barangmu. Kita sudah ditunggu," tegas Grace. Bella memutar bola matanya dan pergi ke kamar. Saat sedang mengemasi, sang nenek masuk ke kamarnya dan duduk di ranjang.
"Kenapa wajahmu terlihat kesal, sayang? Bukannya dari dulu kau ingin kasih sayang orang tua? Hari ini, kau akan mulai mendapatkannya," ucap Martha, nenek Bella.
"Iya, nek. Tapi, aku harus meninggalkanmu. Bagaimana aku tidak kesal?" Gerutu Bella. Martha malah tersenyum.
"Aku akan baik-baik saja. Jadi, jangan kesal lagi, ya? Kau harus bahagia agar aku juga bahagia," ucap Martha. Mata Bella berkaca-kaca. Dia pun berhenti sejenak dan memeluk sang nenek.
"Aku sangat menyayangimu. Aku pasti akan merindukanmu. Aku berjanji akan berkunjung kesini setiap hari libur," ucap Bella. Martha membalas pelukan cucunya.
"Belajarlah untuk akrab dengan Ibumu dan Ayah tirimu."
"Iya, nek. Terima kasih telah merawat dan menjagaku selama ini," ucap Bella dengan suara bergetar.
"Itu sudah kewajibanku, sayang. Sudah, jangan sedih. Kau harus cepat berkemas. Ibu dan ayahmu sudah menunggu," ucap Martha. Bella mengangguk dan kembali mengemasi barangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Step-Dad ✓
Romance"Aku tidak pernah berniat merusak. Aku tidak pernah ingin terjebak. Tetapi, semua mengalir tak terkendali hingga sebuah dosa aku perbuat. Gilanya, aku menikmati dosa tersebut. Bahkan, otakku mulai mendoktrin hal-hal jahat. Aku mengharapkan sebuah ke...
