Tinggalkan vote/komen bila sudi.
Happy reading.
~~~~~^^^^^~~~~~
Suara ketukan pintu membuat tidur Bella terusik. Ia pun berdecak dan menutup kepalanya menggunakan bantal. Namun, ketika mendengar sebuah panggilan yang sangat ia kenal, Bella langsung membuka mata. Dia menyibak selimut dan memakai piyama seadanya. Lalu, ia berlari ke arah pintu. Ia mematung sejenak melihat orang yang tengah berdiri sembari tersenyum ke arahnya. Hingga sepersekian detik, ia ikut tersenyum dan memberi pelukan hangat kepada orang tersebut.
"Nenek," ucap Bella dengan nada yang begitu riang, tetapi matanya berkaca-kaca. Martha memeluk balik cucunya. Ia mengusap punggung gadis itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Kau baru bangun, sayang?" Tanya Martha sembari merapikan rambut Bella yang masih berantakan. Bella hanya menganggukkan kepala.
"Kau kelelahan, ya?" Tanya Martha. Bella diam beberapa detik sebelum tersenyum dan mengangguk.
"Aku masih berusaha beradaptasi dengan semua lingkungan baruku," jelas Bella. Martha mengusap lembut sisi kepala Bella.
"Kalau begitu, kau mandi dulu, ya? Aku akan menyiapkan makanan kesukaanmu," ucap Martha. Mata Bella langsung berbinar.
"Baik, Nek. Aku akan segera mandi. Aku sayang padamu," ucap Bella sebelum mengecup pipi Martha dan berlari ke dalam kamar. Martha bergeleng pelan sebelum meninggalkan kamar cucunya.
Sekitar setengah jam, Bella turun ke dapur dengan memakai baju terusan selutut. Rambutnya dicepol ke atas. Wajahnya terlihat begitu segar setelah mandi. Ia pun duduk di salah satu kursi ruang makan. Dia melirik Xavier yang sudah lebih dulu ada disana. Dia memberi tatapan bingung. Xavier malah diam dan fokus menikmati kopi-nya.
"Nenek sejak kapan ada disini?" Tanya Bella sebelum mengambil sebuah roti kentang.
"Sejak tadi pagi. Sebenarnya, aku sampai semalam. Tetapi, aku harus menginap dulu karena Xavier ada pekerjaan. Dia tidak mengizinkanku untuk kesini sendirian," jawab Martha.
"Aku tidak ingin kau kenapa-napa, Ibu," jelas Xavier. Bella membuang muka sembari berdecih pelan.
"Pekerjaan apa yang dia maksud? Bukannya semalam ia malah pergi ke club dan menyetubuhiku semalaman setelahnya?" Batin Bella kesal.
"Bell, Grace sengaja mengundang Ibu kesini tanpa memberitahumu karena ingin memberi kejutan. Ia melakukan ini untuk menebus kesalahannya," jelas Xavier. Bella hanya mengangguk-anggukkan kepala.
"Dia juga ingin mengganti waktu libur musim panasmu yang tidak sempat pulang ke desa," jelas Xavier lagi.
"Hm, iya," jawab Bella.
"Makan yang banyak, sayang. Kau pasti merindukan masakanku, bukan?" ucap Martha. Bella mengangguk sembari memasang wajah riang. Melihat itu, Xavier tersenyum tipis. Bella terlihat menggemaskan saat manja seperti saat ini.
"Kopi buatanmu sangat enak, Bu," ucap Xavier. Martha terkekeh pelan.
"Syukurlah jika kau suka," ucap Martha. Bella menghela nafas kasar. Xavier bersikap sok manis di depan Martha.
"Nek, ayo ikut sarapan," ajak Bella. Martha mengangguk dan duduk di sebelah Bella.
"Kau juga harus makan yang banyak agar tidak sakit," ucap Bella sebelum menyuapi Martha. Mendapatkan perlakuan seperti itu, tentu saja Martha sangat senang. Ia tersenyum bahagia dengan mata berkaca-kaca. Namun, senyumnya memudar secara perlahan saat melihat sesuatu pada Bella.
"Ini, darimana kau mendapatkannya?" Tanya Martha sembari mengusap sebuah tanda merah keunguan di leher bawah telinga. Wajah Bella langsung menegang, begitupun dengan Xavier.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Step-Dad ✓
Romance"Aku tidak pernah berniat merusak. Aku tidak pernah ingin terjebak. Tetapi, semua mengalir tak terkendali hingga sebuah dosa aku perbuat. Gilanya, aku menikmati dosa tersebut. Bahkan, otakku mulai mendoktrin hal-hal jahat. Aku mengharapkan sebuah ke...
