TSD (11) : Percikan

31K 452 27
                                        

Tinggalkan vote/komen bila sudi. Happy reading.

~~~~~^^^^^~~~~~

Bella keluar dari rumah dengan langkah yang penuh percaya diri. Rambutnya digerai dengan sedikit bergelombang. Ia memakai atasan tank top hitam dipadukan rok senada. Ia juga memakai jaket model crop. Untuk sepatu, ia memakai heels milik Grace yang berwarna hitam juga. Hazel yang berdiri di samping mobil terlihat begitu terpana. Dia tidak menyangka bahwa Bella langsung bisa menyesuaikan.

"Oh my God. Kau terlihat sangat keren, Bell. Aku tidak menyangka bahwa ini dirimu," ucap Hazel. Bella hanya tersenyum miring sebelum masuk ke dalam mobil.

Selama perjalanan, Bella hanya diam. Setelah sampai, dia ikut turun bersama Hazel. Saat masuk, Bella langsung disambut musik berdentum keras dan bau alkohol yang menyengat. Di sana juga banyak sekali orang yang berjoget ria. Bella bergeleng pelan tidak menyangka bahwa ia telah berada di sebuah club. Rasanya cukup aneh dan menegangkan.

"Selamat datang semuanya," sapa Noah. Semua bersorak. Bella hanya tersenyum dan pergi ke salah satu kursi. Rasa exited-nya berkurang saat sudah berkumpul seperti ini. Apalagi ketika semuanya telah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Begitupun dengan Hazel.

"Hey, Bell. Aku tidak menyangka bahwa Hazel berhasil mengajakmu," ucap seseorang. Bella menoleh dan mengangkat satu alis. Dia paham wajah pria itu karena satu kelas, tetapi tidak tahu namanya.

"Aku Kevin," ucap pria itu. Bella mengangguk pelan. Setelah itu, Bella kembali melihat sekitar.

"Bell," panggil Kevin. Bella menoleh dengan wajah tanpa ekspresi.

"Kenapa selama bersekolah disana, kau sama sekali tidak mau berteman? Padahal, kau ini sangat cantik dan pintar. Kurasa kau bisa mendapatkan teman dengan mudah."

"Malas," jawab Bella singkat. Kevin terkekeh pelan.

"Aneh sekali. Kau ini manusia, Bell. Tidak ada manusia yang hidup sendiri. Bagaimana bisa kau malas berinteraksi dengan manusia lain?" Kevin terlihat begitu speechless.

"Aku lebih suka melakukan semuanya sendiri," ucap Bella. Kevin menggeleng pelan. Menurutnya, Bella wanita yang sangat sulit ditebak dan memiliki pemikiran yang berbeda.

"Kau mau mencoba minum?" Tawar Kevin sembari menyodorkan segelas kecil minuman berwarna merah darah. Bella menatap minuman itu tanpa ekspresi. Padahal, dalam hatinya terselip rasa penasaran.

"Kenapa? Kau takut mabuk? Minum sedikit saja," bujuk Kevin. Bella menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum mengambil minuman tersebut. Bella meneguknya sedikit. Ia langsung terbatuk. Tenggorokan terasa tersengat. Kevin malah tertawa.

"Kau makin cantik saat berekspresi seperti itu," ucap Kevin. Bella menutup mulutnya dan berpaling. Kevin malah kembali terkekeh.

"Bell, ayo ke lantai dansa," ucap Kevin. Tanpa menunggu persetujuan, Kevin menarik Bella ke tengah kerumunan. Bella yang kebingungan secara reflek mengalungkan tangannya ke leher Kevin.

"Aku belum mengatakan bahwa aku setuju," gerutu Bella. Kevin hanya terkekeh. Dia sangat gemas. Bella terlihat berbeda dari saat di kelas.

Di tengah kerumunan orang yang menari-nari menikmati alunan musik, Kevin dan Bella hanya saling berpelukan. Mereka menatap satu sama lain. Tatapan Kevin begitu hangat dan lembut. Bella yang biasanya memasang wajah tanpa ekspresi pun memberi tatapan ramah ke Kevin.

"Bell, kau tahu? Sejak pertama kali kau masuk ke dalam kelas, aku langsung tertarik untuk dekat denganmu. Tetapi, kau selalu memberikan tatapan yang tidak bersahabat dan seperti tidak menyukai semua orang. Kau selalu menyendiri dan menikmati sesuatu tanpa peduli sekitar," ucap Kevin. Bella hanya diam. Dia tidak memberi respon apapun.

The Step-Dad ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang