TSD (34) : Result

12.1K 328 52
                                        

Tinggalkan vote/komen bila sudi.
Happy reading.

(✿ ♡‿♡)

Salah satu sifat Xavier yang patut di apresiasi adalah gigih dan pantang menyerah. Terbukti dari pria itu yang betul-betul semangat mewujudkan impiannya, yaitu menumbuhkan cinta Bella kembali. Pria itu selalu datang memberikan makanan yang Bella sukai, meskipun Bella tidak memakannya. Ia mengajak kedua anaknya pergi berbelanja dan bertingkah layaknya seorang ayah. Ia memperhatikan peringatan Edric untuk bersaing secara sehat. Tentu saja, Edric mulai sedikit waspada. Ia sedikit setuju bahwa cinta pertama memang memiliki tempat tersendiri, meskipun cinta itu sangat menyakitkan.

"Bella," panggil Edric. Bella yang tengah membereskan mainan kedua anaknya pun menoleh.

"Ada apa, Ed?" Tanya Bella.

"Aku mau bicara," jawab Edric. Bella mengangguk dan menyimpan mainan anaknya di tempat biasa. Setelah itu, ia duduk di sofa bersama Edric. Ia menatap pria itu yang terlihat sangat serius.

"Apa yang mau kau bicarakan, hum?" Tanya Bella. Dia menatap Edric sembari tersenyum hangat. Edric tersenyum kecil. Ia mengakui, Bella memang memesona.

"Xavier sudah menunjukkan bahwa ia serius ingin kembali. Jess dan Jason juga terlihat sangat senang dekat dengan ayah mereka. Ya, aku tahu ini salahku juga yang membiarkan mereka dekat. Aku pikir, itu sesuatu yang baik karena sudah sepantasnya mereka tahu ayah kandung mereka. Ternyata, ini seperti boomerang untukku," ucap Edric sembari tersenyum simpul. Bella mengerutkan dahi.

"Apa maksudmu berbicara seperti itu, Ed?"

"Apa kau tidak mau membuat mereka lebih bahagia lagi? Sepertinya, Xavier juga sudah benar-benar berubah," ucap Edric. Bella terlihat merengut.

"Kau menyuruhku untuk kembali pada Xavier?" Tanya Bella. Edric hanya diam. Dia belum putus asa. Tetapi, ia tidak egois. Bukankah percuma jika memiliki Bella, tetapi kedua anak Bella hanya menerimanya sebagai formalitas?

"Ed, apakah aku masih terlihat mencintai Xavier? Apa aku terlihat mau kembali padanya? Apa aku seperti luluh atas tindakannya ini?" Tanya Bella. Edric bergeleng pelan.

"Lalu, mengapa kau berpikir konyol seperti itu?" Tanya Bella.

"Karena Jessie dan Jason terlihat begitu menerima Xavier. Aku tidak mau egois. Bukankah kau pernah bilang bahwa kebahagiaan mereka segalanya? Jika mereka bahagia bersama Xavier, apakah aku berhak merusak kebahagiaan itu?" Tanya Edric. Bella meraih tangan Edric. Matanya berkaca-kaca. Dia menghela nafas panjang sebelum mulai berbicara.

"Apa kau tahu? Setiap malam, mereka selalu bertanya kapan kita akan menikah. Mereka selalu memanggilmu Daddy Edric di belakang. Kau tahu kenapa? Mereka malu memanggilmu itu secara langsung karena mereka merasa belum pantas. Mereka selalu membayangkan momen kita tinggal bersama dengan satu kamar, Ed. Mereka ingin kita tidur di kasur yang sama, menghabiskan waktu pekan seperti keluarga pada umumnya, dan menyalurkan kisah kasih masing-masing. Mereka sangat menanti momen itu, Ed. Kedekatan mereka dengan Xavier hanya sebatas adil. Mereka tidak mau bersikap tidak adil jika hanya dekat denganmu, sedangkan Ayah mereka sendiri dijauhi," jelas Bella panjang lebar. Genggaman tangannya mengerat.

"Mereka bahkan bertanya akhir-akhir ini. Mengapa Daddy baru datang, Mom? Kemana dia selama ini? Mengapa dia tidak pernah kesini? Meraka selalu bertanya itu dan aku hanya diam. Aku tidak mau menceritakan semuanya yang membuat mereka akan tersakiti dan membenci Xavier. Aku masih punya sedikit nurani pada pria egois itu," jelas Bella lagi.

"Jadi, untuk apa kau menyuruhku melakukan hal gila itu? Aku dan kedua anakku justru lebih bahagia bersamamu," ucap Bella. Edric meneteskan air mata. Dia memang sedikit cengeng pada hal-hal yang berhubungan dengan cinta.

The Step-Dad ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang