Keesokan paginya, seperti biasa Jisoo mengunjungi Rosé di rumah sakit ia membawa beberapa piyama dari lemari milik Rosé agar istrinya bisa lebih merasa nyaman. Dia juga membantunya makan seperti kemarin.
Keadaan Rosé masih sama dengan sakit masih terasa disekujur tubuhnya, dia masih tetap melakukan normalisasi pernafasan, sesak dan kesulitan bicara masih dia rasakan tapi sudah mulai terbiasa.
Setelah menghabiskan jusnya, Rosé terlihat tidak nyaman dan Jisoo menyadarinya. “Kenapa? Apa kau merasa sakit?” tanya Jisoo sambil membereskan alat makan.
Rosie menggeleng pelan tapi kerut di dahinya masih terlihat.
“Jangan bohong padaku, katakanlah agar aku atau dokter bisa menolongmu.” Kata Jisoo dengan nada kuatir. Rosé menatapnya dengan ragu.
“A-aku.. ha..rus.. ke.. t-toi..let..” Ucap Rosé tersengal sambil mengatur nafasnya yang tersendat. “Pang..gilkan.. sus..ter..”
Jisoo berjalan mendekat, “Tak perlu.. aku masih bisa menolongmu.. ayo.”
Jisoo memegang tangan Rosie lalu mengalungkan ke pundaknya sementara tangan Jisoo memegang pinggang dan kaki Rosie. Perlahan Jisoo mengangkatnya dan mendudukkannya ke kursi roda dan mendorongnya ke toilet.
Di dalam toilet Jisoo mendudukan Rosie di closet lalu hendak menurunkan celananya namun Rosie menahannya. Jisoo memandang Rosie dengan penuh tanya. “Kenapa?”
Rosie menggeleng, pipinya agak memerah.
“Kamu ini masih istriku dan aku sudah melihat semuanya, kenapa harus malu sekarang?” ucap Jisoo acuh.
Mudah bagi Jisoo mengatakannya karena baginya itulah kenyataannya, namun bagi Rosie ini adalah hal baru yang cukup memalukan.
Jisoo coba menurunkan lagi celana Rosie namun tetap ditahan membuat Jisoo agak sedikit frustasi. “jika kau tidak mau ku bantu apakah kau bisa melakukannya sendiri? Menunduk saja kau tidak bisa. Apa bedanya aku dengan suster, dia orang asingpun akan membantumu membuka celana dan melihat semuanya astaga.”
Rosie tidak menjawab dia hanya menatap Jisoo dengan tatapan memelas.
“Aish.. baiklah aku akan memejamkan mata, aku tidak akan melihat.. janji.” Jisoo merasakan tangan Rosie melonggar tak lagi menahan tangannya.
Jisoo mulai menutup mata dan membantu Rosie menurunkan celana. Bagi Jisoo jangankan hanya menurunkan celana, melucuti semua baju istrinya tanpa melihatpun dia sudah ahli. Setelah berhasil menurunkan celananya, Jisoo merasa Rosie menepuk pundaknya lantas matanya terbuka menatap wajah Rosie. “Ada apa lagi?”.
Rosé mengisyaratkan Jisoo untuk keluar, membuat Jisoo memutar bola matanya, tapi karena Rosie sedikit terdengar merengek mungkin karena sudah kebelet jadi Jisoo segera keluar tanpa basa basi.
Begitu Rosie selesaipun dia membantunya memakai celana dan membawanya kembali ke kasur. Ketika Rosie masih memeluk Jisoo saat Jisoo menurunkannya ke kasur, Suzy masuk bersama Winter.
“Oh.. apakah aku mengganggu kalian?” tanya Suzy agak canggung karena posisi Jisoo dan Rosie agak terlihat sedang ingin mengecup.
Jisoo yang terkejut mendengar suara di belakangnya langsung menegakkan tubuhnya. “Eh? Tentu saja tidak Eomma, aku hanya baru saja mengantar Rosé ke toilet.”
Suzy mengangguk. “Bagaimana keadaanmu Rosé?”
“Keadaannya semakin membaik Eomma, walau masih sulit untuk bernafas, berbicara dan berjalan.”
“Kau wanita kuat, kau akan baik baik saja.” Ucap Suzy dan Rosiepun mengangguk.
“Mommy sakit?” ucap Winter pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love - R
FanfictionLika liku perjalanan hidup seorang Kim Jisoo menjadi calon walikota kota Incheon ditengah keretakan rumah tangganya. Akankah ia kehilangan atau menemukan cintanya kembali?
