Jisoo sungguh ingin berusaha bangun tapi kepalanya berat dan badannya agak lemas, pandangannya masih agak kabur sesekali, mabuk.. ya pasti, tapi jika ini satu satunya jalan agar dia bisa melihat Rosé lagi dia tak menyesal melakukannya walaupun saat ini kepalanya seperti terasa sedang dihantam oleh tongkat baseball.
“Mengapa kau ada disini?” tanya Jisoo pelan.
Rosé terdiam lalu dia melihat ke langit sesaat, ketika pandangannya kembali menatap Jisoo dia berkata “Seseorang memberitahuku kalau istriku membuat onar di taman ini.. dan kurasa itu benar.” Ucap Rosé sambil melihat beberapa sampah yang berserakan akibat perbuatan Jisoo.
Tak lama Rosé kembali menatap Jisoo lalu dia duduk bersila di sebelah Jisoo. “Pertanyaanku masih sama.. sedang apa kau disini Jisoo?”
“Rosie.. Rosie bilang kamu meninggal??”
Rosé mengangguk tanpa ekspresi. “True.. tapi itu bukanlah sesuatu yang harus disesalkan.. aku lebih bebas sekarang.. aku bisa mencintai orang yang ku sayangi tanpa takut aku akan menyakiti mereka lagi.”
“Tidakkah kamu mikirkan tentang perasaanku dan Winter? Aku sangat merasa kehilangan…” ucapan Jisoo disertai dengan tetesan air mata yang mengalir lagi di wajahnya.
Mata Rosé sayu menatap Jisoo. “Bukankah beberapa tahun belakangan ini kau membenciku Jisoo, seharusnya kamu senang aku tak-“ perkataan Eosé terpotong oleh Jisoo.
“Ingin.. ingin sekali aku membencimu.. menganggap aku tak pernah mengenal atau bertemu dengan mu.. tapi aku tak bisa.. amarahku hanya muncul untuk menutupi rasa rindu, chh.. aku bahkan memanfaatkan winter untuk terus menunda proses perceraian kita karena aku tak sanggup berpisah darimu..
Sebegitu bencinya kah kamu padaku hingga kau mengugurkan bayi kita?” ucapan terakhir Jisoo membuat Rosé tertunduk.
“Aku tidak mengugurkannya.. seburuk buruknya aku.. aku tak mungkin tega melakukannya.. maafkan aku.. aku tidak bisa menjaganya.. aku bukan ibu yang baik.” Ucap Rosé sambil memainkan jari di pangkuannya.
“Apakah bayi itu anakku?” pertanyaan Jisoo mendapat tatapan tajam dari Rosé.
“Perilakuku mungkin buruk but I’m not a slut! Yes it’s your baby.. aku tidak tidur dengan orang lain.. you did.. you slept with my sister.” Jawaban ketus Rosé membuat Jisoo tak bisa berkata kata.
“A-Aku..”
Melihat Jisoo agak panik, Rosé sedikit tersenyum.. “Chh.. tidak udah panik begitu.. aku mengerti kondisi kalian.. dan aku tak masalah jika itu adalah Rosie.. aku dan dia itu satu..” sahut Rosé sambil menatap ke depan.. melihat pemandangan kota Incheon.
“Sampai kapanpun dia hidup di dalamku dan aku hidup di dalamnya.. dan aku tau dia sangat menyayangimu dan Winter.. itu cukup bagiku Jisoo.” Tambahnya sambil menatap Jisoo dengan senyum yang tulus.
Jisoo tak bisa mengalihkan pandangannya dsri wajah Rosé tapi semakin lama matanya semakin berat.. tapi dia tetap memaksa untuk tetap terjaga.. Rosé mengulurkan tangannya, jemarinya menyentuh dahi Jisoo dengan lembut. “You have to live well Jisoo.. aku akan selalu ada untukmu dan Winter..” ucap Rosé pelan..
“Jika kamu meginginkanku hidup lalu siapa yang menginginkanku mati?” tanya Jisoo saat hampir kehilangan kesadarannya.
“I can’t answer that.. Hanya satu hal yang harus kamu ingat.. I love you with all my heart..” setelah mengatakan hal itu Rosé mengecup kening Jisoo dan Jisoo merasakan lembut bibir Rosé untuk terakhir kalinya sebelum dia hilang kesadaran di tempat itu.
***
Langit oranye mulai didominasi dengan warna gelap saat Rosé sampai di tepat itu.. mobilnya di halangi oleh 2 orang dengan setelan jas hitam, tapi hal itu tidak menyurutkan niatnya, ia membuka pintu mobil dan menghampiri orang orang itu.
“Aku istri Kim Jisoo, dimana dia sekarang?” tanyanya dengan tergesa.
“Nona Kim masih di dalam taman belum keluar sedari tadi Nona.” Tanpa menunggu aba aba, Rosie berlari ke dalam taman mencari Jisoo.
Pandangannya tak tentu arah mencari keberadaan Jisoo, dan saat berlari dia melihat beberapa sampah berserak dan dia melihat sepasang kaki, dia segera mendekat dan benar saja dia menemukan Jisoo terbaring di lantai.
“Soo.. Jisoo..” ucapnya sambil menepuk pundaknya, tak ada respon. Dia mengecek nafas dan detak jantungnya, normal dan dia bernafas dengan lega. Tangannya mencoba mengangkat badan dan kepala Jisoo untuk merebahkannya di pangkuannya. Namun saat Rosie memegang bagian belakang kepalanya dia merasakan sesuatu yang basah dan agak lengket, dia melihat jarinya untuk memeriksa dan betapa terkejutnya dia menemukan bercak darah.
Kakinya lemas.. tapi dia segera berteriak meminta tolong.. dan kedua pengawal Lisa segera datang menemuinya.
“Tolong segera bawa kami ke rumah sakit..” pinta Rosie dengan wajah panik.
Tanpa disuruh dua kali, dua pengawal itu mengangkat tubuh Jisoo dengan hati hati lalu membawanya ke mobil dan mengantar mereka ke rumah sakit terdekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love - R
FanfictionLika liku perjalanan hidup seorang Kim Jisoo menjadi calon walikota kota Incheon ditengah keretakan rumah tangganya. Akankah ia kehilangan atau menemukan cintanya kembali?
