Part 14

1.4K 195 53
                                        

Ditengah gelapnya malam, Jisoo terbangun dan menoleh ke samping. Disana terbaring istri dan anaknya yang masih memejamkan mata tidur dengan pulas. Jisoo memeluk Winter sehingga anaknya itu menggeliat dalam tidurnya membuat Jisoo tersenyum gemas lalu mencium pipinya.

Di saat yang sama pandangannya jatuh pula pada Rosie, tangan Jisoo terangkat mendekati wajah Rosie. Perlahan dia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah istrinya itu dan entah apa yang dipikirkannya saat itu Jisoo mencondongkan wajahnya dan mengecup sekilas kening Rosie lalu ia bangun dan berjalan keluar kamar.

Disisi lain Rosie sudah terbangun saat pertama merasakan sentuhan tangan Jisoo menyingkirkan helaian rambutnya dan tentu dia dengan jelas merasakan kecupan hangat dari Jisoo di dahinya. Rosie mulai membuka mata ketika Jisoo mulai beranjak dari ranjang menuju ke pintu.

Rosie menyingkirkan selimut di badannya dan merapikannya di sekeliling winter lalu beranjak keluar dari kamar.

Jisoo termenung melihat keluar rumah lewat kaca jendela besar yang ada di ruang santai di lantai 2. Sebenarnya tidak ada yang bisa dilihat diluar selain lampu taman yang temaran terlihat karena diluar masih gelap gulita. Entah berapa lama dia termenung disana sampai dia merasakan lengan melingkar di pinggangnya. Tubuhnya menegang lalu menoleh kesamping, Rosie meletakkan kepalanya di bahu Jisoo, sesaat Jisoo ingin melepaskan pelukan Rosie namun ditahan.

“Biarkan aku begini..” ucap Rosie dan Jisoo tidak melanjutkan tindakannya.

“Kanapa kamu bangun?” Tanya Jisoo.

“Aku bangun karena kamu bangun.. kamu?”

“Aku merasa aneh, badanku ini sepertinya tidak terbiasa tidur diranjang itu.” Jawab Jisoo.

“Maafkan aku..” ucapan Rosie ini membuat Jisoo menoleh lagi padanya, tapi Rosie melanjutkan perkataannya.

“Aku banyak melakukan kesalahan di masa lalu.. aku melukai hatimu dan winter, tapi aku minta satu kesempatan lagi.. ijinkan aku membuktikan kalau aku bukanlah aku yang dulu.. ijinian aku mencintaimu dan winter.” Ucap Rosie dengan penuh ketulusan lalu ia menembunyikan wajahnya di ceruk leher Jisoo.

“Baiklah Rosie.” Jawab Jisoo singkat, kini giliran Rosie yang menegang mendengar jawaban Jisoo.

Perlahan Rosie mengangkat wajahnya. “Apa yang kamu katakan?”

“Apa kamu berpikir akau akan menolak? Aku baru saja menyetujui permintaanmu.”

Rosie menggeleng. “Bukan.. K-kau memanggilku-“

“Rosie?..” Rosie mematung lagi dan Jisoo mengambil kesempatan ini untuk memutar tubuhnya menghadap istrinya.

“Kenapa? Bukankah kamu yang meminta aku untuk memanggilmu Rosie?”

“Aku?”

Jisoo mengangguk. “Saat kau mabuk kau ingin aku memanggilmu Rosie bukan Rosé.. apakah kau lupa?”

“A-apa ada hal lain yang aku katakan?”

Jisoo terkekeh.. “Tentu.. entah berapa kali kau menyebutku bodoh.. dan kurasa itu benar.. aku berjuang mengabulkan keinginan Appa untuk menjadi walikota tapi aku membiarkan keluargaku sendiri hancur, bukankah itu sangat bodoh?”

“Kamu ga bodoh Soo.. kamu hanya terlalu lama tersakiti.. dan itu salahku.” Ucap Rosie sambil melihat ke lantai.

Jisoo memberanikan diri untuk meraih tangan Rosie dan menggenggamnya membuat Rosie sedikit terkejut. “Yang terpenting adalah kamu mau memperbaiki kesalahanmu.. dan aku akan mencoba untuk percaya padamu.”

Tak bisa membendung rasa senangnya Rosie memeluk Jisoo. “I love you Soo..”

“I know..” ucap Jisoo sambil mengusap punggung Rosie.

Love - RTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang