“Jangan tinggalin aku.. aku mohon..” ucap Jisoo sesekali tercekat karena tangisnya. Tangannya mendekap tubuh Rosie namun tidak terlalu erat karena Jisoo takut tambah menyakitinya. Sesekali Jisoo membelai rambut Rosie.. “Bangunlah sayang..bertahanlah..”
Seperti mendengar ucapan Jisoo perlahan Rosie membuka matanya.. pandangannya masih kabur tidak dapat melihat dengan jelas namun dia yakin jisoo ada dihadapannya.
Melihat Rosie membuka matanya, Jisoo tersenyum kecil dalam tangisnya.. “Aku disini sayang.. tunggulah sebentar lagi kita akan sampai rumah sakit.. kau akan baik baik saja..”
Nafas Rosie sangat lemah sampai tak terlihat seperti sedang bernafas sama sekali. Matanya lebih sering terpejam daripada terbuka.. bibirnya sesekali bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Sshhh.. kamu tak usah mengatakan apa apa sayang.. istirahatlah..” pinta Jisoo lirih, namun Rosie tetap menggerakan bibirnya dengan susah payah sehingga Jisoo menyerah dan mendekatkan wajahnya ke wajah Rosie..
“W-winter..”
“Winter?? Iya.. Winter baik baik saja aku akan menjaganya.. kamu tak usah kuatir.. aku akan membawanya menemuimu segera sayang.. jadi bertahanlah.”
Entah bisa dibilang apa.. tapi Jisoo melihat ujung bibir Rosie sedikit melengkung seperti tersenyum tapi hanya sedikit.. hati Jisoo semakin teriris..
“K-katakan padanya aku.. sangat menyayanginya.. dan aku mencintaimu.. Jisoo..” suara Rosie terdengar semakin pelan tapi Jisoo dapat mendengarnya dengan Jelas.
“Iya sayang.. aku akan mengatakan itu selalu pada Winter.. dan kau tau juga aku mencintaimu lebih dari hidupku Rosie..” ucap Jisoo sambil menautkan dahi mereka sambil terus menangis dan berdoa pada Tuhan agar Dia menyelamatkan Rosie.
Namun tak lama Jisoo merasakan dahi Rosie bergeser lemah.. membuat Jisoo membuka mata.. kepala Rosie terkulai lemas.. matanya tertutup.. tak terbuka lagi..
“Rosie.. sayang.. Rosie! Cepatlah mengemudi!!” bentak Jisoo pada detektif Lee. Dan detektif Lee pun menancap gas lebih lagi sampai menerobos lampu merah 2x.
Segera setelah sampai di rumah sakit, patugas membuka pintu dan membantu mengeluarkan Rosie dan menggiringnya ke dalam ruangan UGD..
“Tanda tanda vital pasien lemah.. kita harus melakukan transfusi darah dan segera melakukan operasi.. suster tolong urus surat ijin operasi kepada keluarga pasien.” Ucap salah satu dokter dan segera perawat itu menuruti perintahnya.
“Keluarga Nona Park?” panggil perawat itu.
“Saya.. saya istrinya.. bagaimana keadaan istri saya?”
“Kondisi pasien sangat kritis.. kami harus segera melakukan tindakan operasi pada pasien dan anda harus segera menandatangani surat persetujuan untuk proses operasi bisa dimulai.”
Tanpa berpikir panjang Jisoo menandatangani surat. “Tapi istri saya akan selamat bukan?”
“Kami akan mengusahakan yang terbaik..” setelah mengatakan hal itu perawat kembali masuk ke ruang UGD.
Jisoo melihat Rosie di giring ke ruang operasi tentu saja dia ingin menyertai istrinya itu kemanapun namun tubuhnya ditahan oleh salah satu perawat. “Anda dilarang masuk.. hanya pasien dan dokter serta perawat yang bertugas yang bisa masuk.. anda harap tunggu disini.”
Jisoo ingin protes namun perawat itu sudah keburu menutup pintu ruang operasi. Jisoo berpegangan pada dinding dan meninggalkan bekas noda darah disana.. namun tangannya itu seperti kehilangan tenaga.. tubuhnya segera bersender di dinding rumah sakit lalu merosot ke bawah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love - R
FanfictionLika liku perjalanan hidup seorang Kim Jisoo menjadi calon walikota kota Incheon ditengah keretakan rumah tangganya. Akankah ia kehilangan atau menemukan cintanya kembali?
