Lia keluar dari toilet setelah berbicara singkat dengan Rosie di dalam, tak lama ada seorang pria memasuki toilet dan hal itu membuat Rosie terkejut.
“Maaf sepertinya anda salah memasuki toilet.” Ucap Rosie memandang pria itu namun Pria itu tersenyum.
“No I don’t.. woah.. look at you.. bagaimana kamu terlihat begitu cantik malam ini?” ucap pria itu mendekati Rosie dan Rosie semakin waspada.
“I’m sorry?? apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Tentu saja apakah kau lupa? Aku sudah sering bilang untuk meninggalkan Jisoo tapi kau keras kepala.. kau lebih baik bersamaku Rosé.. kau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan.”
Jantung Rosie berdebar kencang saat ini. Dia tidak tau harus kabur atau harus berteriak saat ini tapi dia mencoba untuk berbicara setenang mungkin. “Sekali lagi maaf tapi saya tidak mengingat anda.. dan jika kita memiliki hubunhan di masa lalu aku mohon anda untuk melupakannya. Aku sangat mencintai Jisoo jadi tolong jangan pernah ganggu kami lagi.” Ucap Rosie sambil bergegas keluar namun lengannya ditahan oleh pria itu dengan sangat erat membuat Rosie agak meringis.
“Kau tidak mengingatku? Jangan bercanda..”
“Akh.. lepaskan aku!” bentak Rosie.
Tanpa sepengetahuan mereka Jisoo melihat Pria itu masuk ke toilet sejak tadi dan dia menghampiri lalu menunggu di depan pintu sembari mendengarkan percakapan mereka di dalam. Dan saat dia mendengar Rosie mulai membentak pria itu Jisoo masuk ke dalam. Dia menarik kerah jas pria itu dan menyeretnya keluar dari toilet wanita dan tanpa basa basi Jisoo melayangkan tinjunya ke wajah pria itu beberapa kali sampai Jin dan Go Eun melerai mereka.
“Jisoo?! Lepaskan dia!”
“Akh lepaskan aku.! pria ini menggoda istriku!!”
“Lepaskan Jisoo! Sadarlah!” bentak Jin sambil menarik adiknya dan Go Eun membawa Rosie menjauh dari sana.
Jin membawa mereka semua ke sebuah ruangan. “Kau ini apa apaan Jisoo?!” tanya Jin tak percaya.
“Aku sudah bilang dia menggoda istriku.. apakah aku harus diam saja jika melihat istriku diganggu oleh pria lain?!”
Go Eun menoleh pada Rosie. “Benarkan begitu?”
Rosie yang berurai air mata menganggguk.
“Tapi tetap saja kau tidak bisa berbuat seperti itu Jisoo.. apakah kau tau siapa dia!? Dia itu keponakan dari perdana mentri!!”
Mendengar perkataan Jin, Jisoo naik darah. “Memangnya kenapa kalau dia keponakan Perdana Mentri? Dia tetap tidak punya hak untuk mengganggu istri orang lain di kamar mandi wanita!! Aku tidak mau tau kau urus tuntutan hukum pada pria itu!” bentak Jisoo lalu dia menarik lengan Rosie keluar darisana.
Jisoo dan Rosie memasuki mobil dan Jisoo mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu.
***
Awalnya Jisoo ingin membawa Rosie pulang ke rumah namun ditengah perjalanan Jisoo mengubah arah kendaraannya namun Rosie tidak berkomentar karena dia masih saja terisak. Dia takut Jisoo kembali tak percaya padanya dan juga dia takut karena kejadian ini dia menghancurkan reputasi Jisoo.
Setelah beberapa lama berkendara, Jisoo menghentikan mobilnya di sebuah tempat parkir dekat taman yang indah tapi sedikit terpencil.
Jisoo terdiam sesaat, suasana mobil masih hening hanya terdengar isakan pelan dari Rosie.
“Siapa pria itu? Apa kau mengenalnya?” tanya Jisoo pelan sambil menoleh pada Rosie.
Rosie menggeleng tak mau menatap Jisoo.
Jisoo menghela nafas panjang, namun setelah itu Jisoo mengarahkan tangannya ke atas tangan Rosie dan menggenggamnya membuat Rosie melihat tangan Jisoo.
“Hey.. liat aku..” ucap Jisoo sambil tangan satunya lagi mengangkat dagu Rosie agar melihat ke arahnya.
“Jawab aku.. apa kamu mengenal pria itu?”
“Aku sama sekali tidak mengingatnya Jisoo.. sungguh.”
Jisoo menatap mata Rosie lalu mengangguk.. “Aku mempercayaimu.. sudah jangan menangis lagi.”
“Tapi kejadian tadi merusak nama baikmu.”
“Itu tidak penting Rosie.. yang terpenting adalah kondisimu.. apa kau baik baik saja? Apa pria itu melukaimu?”
“Dia hanya mencengkram tanganku tapi kurasa itu tak apa apa.”
“Akan kupastikan dia mendapat hukuman.. kamu jangan kuatir.” Ucap Jisoo sambil mengusap air mata Rosie lalu mengecup tangannya.
“Jisoo.. kita ini dimana?” tanya Rosie saat menyadari mereka ada di tempat asing.
Jisoo melihat ke arah luar. “Apakah kamu tidak mengingat tempat ini?”
Rosie juga ikut melihat ke sekitarnya, tentu saja dia tidak memiliki bayangan apapun tentang tempat ini sebelumnya. “Maaf Soo.. aku tidak ingat tempat ini.. apakah kita pernah kesini sebelumnya?” tanya Rosie dengan hati hati.
Terlihat sedikit kekecewaan di wajah Jisoo tapi dia kemudian tersenyum kecil. “ini adalah tempat dimana kamu pertama kali mengatakan kalau kamu menyukaiku.” Jawab Jisoo sambil melihat ke arah tangan mereka yang bertaut.
“Jisoo.. ada banyak hal yang tak aku ingat dari masa lalu, tapi aku mau menjalani masa ini dan masa depan bersama mu dan winter tentu saja.”
“Benarkah? Kamu tak akan menyesalinya?”
“Aku tidak akan menyesal dan tak akan pernah kulepaskan kalian.” Sahut Rosie sambil menatap mata Jisoo.
“selama beberapa tahun ini tahukah kamu seberapa aku merindukanmu Rosie?” tanya Jisoo dan Rosie menggeleng dalam dekapan Jisoo.
“Setiap saat aku merindukanmu, walau dadaku ini sesak karena marah tapi tetap aku tidak bisa membencimu. Dan pidatomu tadi didepan banyak orang mengingatkanku lagi bagaimana aku menyukai humormu, kepercayaan dirimu dan passionmu. I miss you everyday Rosie..”
Apa yang diyakini oleh Rosie ternyata benar, Jisoo tak pernah kehilangan rasa cinta pada istrinya.
“Jangan pernah berhenti mencintaiku dan winter okay?” Jisoo merasakan anggukan kepala dari Rosie di bahunya.
Jisoo melepaskan pelukannya dan menatap Rosie penuh arti lalu mengecup bibir Rosie.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love - R
FanfictionLika liku perjalanan hidup seorang Kim Jisoo menjadi calon walikota kota Incheon ditengah keretakan rumah tangganya. Akankah ia kehilangan atau menemukan cintanya kembali?
