Kesembilanbelas

380 78 113
                                        

"Tehun..."

"Berhenti memanggilku seperti itu, sialan!"

Yeonwoo tertawa pelan. Taehoon memang menolak panggilan imut tersebut dengan makian dan umpatan. Namun pemuda itu tidak tahu jika kedua telinganya merona saat mendengar sebutannya yang lucu. Benar-benar manis.

Sejak tiga hari yang lalu, Yeonwoo selalu memanggil Taehoon dengan sebutan 'Tehun'. Itu terdengar imut, tapi menggelikan bagi Taehoon. Walaupun begitu, dia sering tersipu malu atau salah tingkah setelah mendengar panggilan tersebut. Menjadi hiburan tersendiri bagi Yeonwoo yang merasa bosan di rumah sakit.

Yeonwoo paling tidak suka terbaring lemah di ranjang rumah sakit untuk waktu yang lama. Ia merasa seperti orang bodoh yang membayar hanya karena berbaring. Hal itu juga yang mengingatkannya akan kondisi sang ayah beberapa waktu lalu. Tanpa sadar Yeonwoo mengepalkan kedua tangan. Dia sudah menduga dari awal, mengusik Baek Sungjoon sama saja mendatangkan malapetaka.

Yeonwoo menyesal? Tidak, ia tak akan pernah mencicipi rasa penyesalan hanya karena membuat newtuber 5 juta itu jatuh. Keadilan harus ditegakkan meskipun berdampak pada karir sang ayah, tetapi tidak apa-apa. Semua sudah terjadi, lagi pula beliau memaklumi tindakannya yang berani membela kebenaran.

Sang ayah menelponnya kemarin malam, mengatakan sesuatu yang membuat hati Yeonwoo tersentuh. Beliau memuji dengan suara lembut, lalu menangis pilu atas nasib yang diterima putranya saat ini. Namun Yeonwoo tidak apa-apa, dia sama sekali tak memasalahkan punggungnya yang cedera.

Dia juga mendapatkan pelajaran penting sekaligus bonus yang tak terkira. Cedera di punggungnya akan mengingatkannya tentang kekalahan yang bisa menyulut semangat kyokushin. Ia ingin terus berlatih setelah keluar dari rumah sakit supaya tak perlu mencicipi kekalahan lagi. Lalu bonusnya, Yeonwoo bisa melihat Taehoon selama empat hari penuh. Menggoda pemuda taekwondo itu lalu melakukan skinship. 

Dia tak pernah membayangkan bisa berpelukan dan tidur bersama Taehoon. Yeonwoo merasa senang dan berterimakasih pada Baek Sungjoon yang membuat punggungnya cedera. Ini adalah keuntungan di atas penderitaan. Yeonwoo tidak akan pernah melupakan wajah dan tingkah menggemaskan Taehoon selama di rumah sakit. 

Seandainya Yeonwoo membawa kamera, mungkin dia sudah mengabdikan banyak momen penting. Omong-omong soal Baek Sungjoon, Yeonwoo sudah tahu kabar burung tentang kematian pria itu. Ia turut berduka atas kepergian sosok yang pernah dipercayainya. Meskipun akhirnya Sungjoon menyebabkan luka mendalam di hatinya, Yeonwoo tetap bersedih.

Bagaimanapun juga mereka adalah teman sekaligus rekan kerja. Pernah memiliki ikatan kerpecayaan walaupun dikhianati dengan cara menyakitkan. Yeonwoo terlalu baik untuk membenci pria itu. Dia berharap Baek Sungjoon bisa beristirahat dengan tenang di alam sana. 

Yeonwoo tak mengira, Lee Jinho tega melakukan perbuatan sekeji itu pada rekan tim. Membuang dan membunuh, seperti orang itu selalu melakukannya. Apalagi pesan Baek Sungjoon malam itu membuat Yeonwoo kepikiran setengah mati. 

Apa Lee Jinho mengincar Sung Taehoon? Iya, terbukti dari tindakannya selama ini. Pria itu selalu bisa menemukan keberadaan Taehoon. Dia seolah-olah selalu bersama pemuda taekwondo itu dimanapun dan kapanpun dengan cara yang janggal. 

Yeonwoo merasa Taehoon selalu diikutin tanpa disadari. Sosok penguntit itu begitu lihai dan cerdik hingga keberadaannya tak dapat dideteksi oleh Taehoon. Setahu Yeonwoo, pemuda taekwondo itu memiliki kadar kepekaan tinggi pada lingkungan sekitar.

Namun bisa-bisanya penguntit itu lolos dari radar tersebut. Yeonwoo merasa sosok tersebut memang dilatih untuk menjadi mata-mata. Buktinya dia selalu melihat orang yang sama berlalu lalang di depan ruangan mereka seolah sedang mengawasi gerak-gerik penghuni kamar. Yeonwoo tidak bodoh untuk menyadari kejanggalan tersebut, bahkan Taehoon juga menyadarinya.

How To YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang