Ketika Yeonwoo mengejar salah satu cahaya hidupnya. Sung Taehoon, orang yang berani membebaskan dia dari penjara ayahnya. Namun sayangnya Taehoon adalah orang yang gila kebebasan dan hidup semaunya tanpa terikat oleh siapapun, berhubungan dengan ses...
Emo mau bagi FANART yang Emo temuin tadi😭 sumpah asjehahs banget. Muka Taehoon itu loh astaga hikss... menggoda sibal
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
Ruang putih. Yeonwoo kembali ke tempat yang paling dibencinya seumur hidup. Namun kali ini berbeda dari sebelumnya, bukan ia yang dirawat atau dipasang selang infus di tangan melainkan Taehoon.
Saat ini ia tengah berkunjung ke ruang inap Taehoon. Berniat untuk menjenguk sekaligus izin kepada Seong Hansoo agar membiarkannya bermalam di sini. Dia sama sekali tak bisa tidur nyenyak di rumah karena terus memikirkan kondisi pemuda taekwondo itu. Berkali-kali Yeonwoo terjaga dari mimpinya dan meninju dinding yang ada di dekatnya.
Rasa bersalah begitu menggerogoti jiwanya. Meskipun berulang kali merapalkan mantra jika ini bukan salahnya. Namun batu seolah menghantam telak hatinya, menyalahkan atas apa yang menimpa Taehoon malam itu.
Kini ia hanya bisa menatap tubuh Taehoon yang terkulai lemas. Wajahnya masih cantik, sedikit lebih pucat dari biasanya. Yeonwoo mengulurkan tangan kanannya, mengelus pipi putih pemuda itu. Dia merindukan rona merah.
Apakah ia bisa melihat pipi ini bersemu saat digoda?
Dia bertanya dalam hati. Memandang kedua mata Taehoon yang senantiasa terpejam damai. Yeonwoo rindu, ingin memuntahkan segala ungkapan sayang ke telinga yang lebih muda. Ia mau memeluk tubuh pemuda itu, mengusap kepalanya serta membubuhkan kecupan kupu-kupu di keningnya.
Tangan kanan Yeonwoo beralih menggenggam tangan kanan Taehoon yang bebas dari selang infus. Ia mendekatkan bibir, mengecup lembut pada punggung tangan pucat tersebut. Lalu tersenyum sembari menggumamkan kalimat harapan yang selalu dipanjatkannya ketika berkunjung.
Ini hari kedua Taehoon dirawat. Namun pemuda taekwondo itu tak kunjung sadar. Apakah dia koma? Entahlah, Yeonwoo tidak tahu. Sudah lama ia mengubur cita-citanya sebagai dokter.
Dia tak lagi tertarik dengan medis. Ia lebih menyukai karate. Namun sekarang Yeonwoo merutuki pilihannya. Seharusnya belajar lebih giat saja supaya dirinya tahu kondisi Taehoon saat ini.
Lalu ia menggelengkan kepala, menepis pemikirannya barusan. Jika dia memutuskan pilihan tersebut, mungkin Yeonwoo tak akan pernah bertemu dengan Taehoon. Tidak pernah saling kenal atau bertukar cerita.
Sekarang Yeonwoo hanya bisa berharap Taehoon membuka matanya. Dia ingin melihat netra coklat yang selalu berhasil melumpuhkan ingatannya. Lalu menyeretnya masuk ke dalam kebahagiaan yang tak terbendung.
Yeonwoo menginginkan kebahagiaannya kembali. Taehoon tak boleh meninggalkannya lebih dulu. Dia belum sanggup mengikhlaskan. Berlapang dada pada pria psikopat itu saja sudah sangat berat.
Apalagi harus merelakan Taehoon yang pergi ke angkasa, bergabung dengan bintang-bintang yang menyambut kedatangannya. Yeonwoo mungkin tak akan sanggup menatap gugusan titik bercahaya itu jika semuanya terjadi. Lebih baik ia menikam dirinya sendiri daripada melihat Taehoon di cakrawala hitam.