Keduapuluh

390 74 55
                                        

Hari yang Yeonwoo dan Taehoon nantikan pun tiba. Mereka diperbolehkan untuk pulang setelah menjalani perawatan selama seminggu di rumah sakit. Berita bagus itu disambut dengan baik. Taehoon merasa lega karena tak lagi mencium bau obat-obatan yang kental.

Taehoon juga merindukan masakan ayahnya. Makanan rumah sakit terlalu hambar, tidak cocok dengan lidahnya. Ia tak akan tahan bila terus-menerus mengonsumsi hidangan tanpa rasa. Anggap saja dia menderita selama seminggu. Terkurung di tempat serba putih dengan selang infus yang menancap di salah satu punggung tangannya.

Sebenarnya Taehoon hanya diinfus selama tiga hari, tapi itu cukup membuatnya tak bisa bergerak bebas. Jadi, saat tahu ia diperbolehkan pulang ke rumah. Hatinya langsung berpesta pora. Dia akhirnya terbebas dari tahanan rumah sakit. Lain hal dengan Yeonwoo yang nampak lesu.

Ia memang menyambut kabar baik tersebut. Namun juga sedih karena dia tak bisa melihat Taehoon setiap hari. Yeonwoo tidak akan bisa melihat Taehoon yang tersipu dan salah tingkah. Hari-harinya akan kembali terasa hambar tanpa pemuda taekwondo itu. 

Terbesit di pikirannya untuk segera melamar Taehoon dan menikahinya. Mereka tak perlu berpisah jika sudah terikat oleh janji suci. Yeonwoo bisa melihat Taehoon selama 24/7, menggoda pemuda taekwondo itu dan melakukan ritual suami-istri.

Astaga Yeonwoo, sadarlah! Hubungan kalian masih tidak jelas. Bisa-bisanya berpikir untuk melamar Taehoon yang tsundere minta ampun. 

"Hei, Yeonwoo.. kenapa bengong?" 

Tepukan di pundak kanannya membuat Yeonwoo tersadar dari lamunan indahnya. Lalu menoleh ke arah Taehoon yang memandangnya bingung. Pemuda taekwondo itu selalu menangkap basah Yeonwoo yang sedang melamun. Entah memikirkan apa. Taehoon tidak bisa menebaknya karena si kutu buku itu selalu berangan-angan dengan wajah memerah.

Apa Yeonwoo sedang membayangkan hal mesum? Kalau iya. Taehoon tidak peduli. Mereka ini remaja yang dilanda pubertas. Wajar saja jika berpikir sesuatu yang mesum.

Taehoon tidak tahu saja jika Yeonwoo membayangkannya sebagai objek fantasi. Kalau tahu mungkin Yeonwoo sudah babak belur di tangan Taehoon.

"Oh, enggak. Cuma kepikiran sama Lee Jinho." Yeonwoo membalas pertanyaan Taehoon sembari melipat pakaian yang tersisa, lalu memasukkan ke dalam koper. Saat ini mereka sedang bersiap untuk pulang, dibantu doa oleh Hesul dan Yuna yang sedang mabar di sofa. 

Kedua gadis itu berniat membantu mereka tadi, tapi dilarang karena Yeonwoo dan Taehoon bisa melakukannya sendiri. Lagi pula barang bawaan mereka tak sebanyak pasien lain yang seperti orang pindah rumah. Jadi hanya perlu tiga puluh menit untuk membereskannya.

"Sudah semua, kan? Tidak ada yang tertinggal?" Yeonwoo memandang Taehoon yang seperti mencari-cari sesuatu di atas nakas dan ranjang.

"Belum, aku lagi mencari jam tanganku." Taehoon membalas sembari mengerucutkan bibir. Dia tidak suka bila salah satu barangnya hilang. Apalagi benda itu adalah pemberian sang ayah yang sangat penting.

Yeonwoo merasa kasihan, lalu membantu Taehoon mencari jam tangan tersebut. Yuna yang mendengar percakapan mereka langsung beranjak dari sofa, mendekat ke arah nakas lalu membuka salah satu laci. Dia melihat sebuah jam tangan di dalam laci tersebut, kemudian mengambilnya dan memperlihatkan pada Sung Taehoon.

"Jam tangan ini, kah?"

Taehoon sontak menoleh, kemudian tersenyum senang seraya merampas benda tersebut dari tangan Yuna. "Iya, terimakasih sudah menemukannya." Ia mengucapkan kalimat tersebut dengan mata berbinar. Dia bisa bernapas lega karena tak jadi kehilangan barang kesayangannya.

Lalu Taehoon merasa ada yang janggal, kemudian bertanya pada Yuna yang hendak berjalan ke arah sofa. "Kenapa kamu bisa tahu jam tangan ini ada di laci?"

How To YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang