Ketiga Puluh Dua

459 77 69
                                        

Halooo..! Ciee yang kangen book ini siapa? Oke, sebelum itu vote + comment dulu lah. Absen gitu para pembaca setia. Jangan lupa follow juga, book ini end. Auto ada book baru lagi. Yuhuu, semoga suka part kali ini

Cat boy kesayangan para readers menyapa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Cat boy kesayangan para readers menyapa. Siapapun yang buat fanart ini, emo doain sukses, amin.
.
.

Cantik. Kata itu terlintas di benak Yeonwoo kala memandang wajah manis Taehoon yang terlelap. Lalu tersenyum mengingat rasa yang terungkap ketika kedua bibir mereka menyatu. Saling menghisap dan memangut, berbagi kehangatan yang membekas.

Yeonwoo menyukai rasa menangkap bibir merah muda tersebut. Begitu manis dan lembut, membuatnya candu layaknya nikotin. Dia ingin terus merasakannya, memasukkan lidahnya ke rongga hangat Taehoon yang menerbangkannya ke langit ke tujuh.

Selayaknya narkoba, Taehoon berbahaya bagi kesehatannya. Jantungnya terus berpacu seperti kuda yang berlari di arena balap ketika bersamanya. Ia suka melihat pipi putih itu bersemu merah seperti stroberi yang sudah masak. Sangat manis dan cantik warnanya.

Melihat Taehoon terbaring dengan kedua mata terpejam saja mampu membuat darah Yeonwoo berdesir lembut. Mengantarkan semburat merah di pipinya. Ia tak tahan menahan rasa yang meletup di dadanya. Dia pun meraih tangan kanan pemuda taekwondo itu, mengelusnya secara perlahan seolah menyentuh kaca yang rapuh.

Kulit putih pucat, ia sempat khawatir dengan warnanya. Bagaikan mayat hidup yang diberi pigmen. Namun Taehoon pernah menjelaskan jika itu keturunan dari ibunya. Membuatnya penasaran setengah mati dengan sosok malaikat yang telah melahirkan manusia secantik Taehoon. Yeonwoo ingin berterimakasih karena telah melahirkan seorang laki-laki yang memiliki kepribadian unik.

Meskipun kasar, Taehoon memiliki sisi manis yang jarang terlihat. Ia menunjukkannya ketika memang memiliki tekad untuk menjalin hubungan. Dia hanya tak ingin terlihat bergantung, tetapi tidak tega mengusir orang yang berniat baik padanya.

Yeonwoo mengetahui fakta tersebut setelah berbincang semalaman dengan Taehoon kemarin. Pemuda taekwondo itu belum bisa terjun ke dalam mimpi. Akhirnya mengajaknya untuk berbincang seputar sesuatu yang belum pernah diungkapkan.

Flashback On

"Yunu.." Taehoon memanggil Yeonwoo yang tengah membaca buku kedokteran di sofa. Pemuda nerd itu tampak serius, melafalkan kalimat demi kalimat yang tertuang di dalamnya. Ia terlihat seperti anak kecil yang sedang belajar.

Imut. Itu kata yang terbesit di pikirannya saat melihatnya. Kini wajah yang tadinya serius berubah menjadi penuh kasih sayang sembari menoleh. Ia memandang Taehoon yang memalingkan muka ke arah lain, menyembunyikan rona merah di pipinya.

Yeonwoo tidak bodoh. Dia menyadari tingkah imut kucing manisnya. Ia pun meletakkan buku yang dibacanya lalu berdiri dan mendekat ke ranjang Taehoon. Ia menyeret sebuah kursi, meletakkannya di samping kasur pemuda taekwondo itu.

How To YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang