Kesembilan

482 94 2
                                        

Taehoon menatap layar handphone-nya, menyaksikan Yoo Hobin bertarung dengan Joo Jisoo. Pemuda jujitsu itu sempat diam tak berkutik melihat Hobin yang mengikat kedua tangannya dengan lakban. Tujuan pemuda kecil itu jelas terbaca oleh Taehoon. Bukan tanpa sebab, ia pernah melawan seorang grappler. 

Tertangkap oleh seorang grappler artinya kalah. Apalagi dia adalah seorang striker yang mengandalkan tendangan dan pukulan bukan menangkap lawan. Jadi Taehoon penasaran jurus apa yang akan digunakan Hobin untuk mengalahkan Jisoo si sabuk ungu. 

"Waw, dia menggunakan juga ya.." ucap Taehoon penuh kekaguman saat melihat Yoo Hobin melakukan dwichagi, disusul oleh jurus lainnya. How To Fight Combination, pemuda kecil itu banyak belajar rupanya. Untung Hobin tak melupakan kemampuan yang dilatihnya bersama Taehoon.

"Taehoon.." panggil Seong Hansoo dari ambang pintu, memandang putranya yang bermain handphone sembari tiduran di kasur. Taehoon melirik sekilas, kemudian mengubah posisinya menjadi terduduk. Dia tidak mau kena omel pak tua itu, lebih baik bersikap sopan sehari saja.

"Ada apa?" tanya Taehoon dengan nada malas.

Seong Hansoo menghela napas lalu menggeleng, "Kamu belanja online sekarang? Itu di depan ada kiriman motor, makanan, dan lainnya. Kamu dapat uang darimana, Taehoon?"

Taehoon mengernyit, merasa tak pernah memesan barang-barang tersebut. Dia memang memiliki uang, tapi tidak untuk membeli sesuatu secara online. Ia lebih memilih memalak benda dari orang lain ataupun melakukan barter paksa. Itu sangat menguntungkan baginya. 

"Aku tidak memesan itu semua ayah.." sahut Taehoon sembari mengingat pertemuannya dengan Lee Jinho. Setelah itu ia beranjak dari ranjangnya, berjalan keluar rumah untuk melihat barang-barang misterius yang tiba di kediamannya. 

Taehoon sontak terkejut melihat motor ninja yang selama ini diidamkan, kini ada di depan mata. Dia mendekat ke kendaraan tersebut, bukan untuk mencoba mengendarainya melainkan mengambil sepucuk surat yang tertempel di plat. Ia memperhatikan benda itu, mencari nama si pengirim yang mungkin tercantum di sana.

Namun nihil, tak ada nama pengirim yang tercantum di benda itu. Taehoon pun membuka surat tersebut, membacanya dan menemukan nama Lee Jinho di dalamnya. Dia heran, ucapannya tempo lalu hanyalah gurauan belaka. Tidak sungguh-sungguh, ia cuma mau mengerjai pria itu karena gabut.

"Ada yang tidak beres," ujar Taehoon seraya meremas surat tersebut, lalu membuangnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ada yang tidak beres," ujar Taehoon seraya meremas surat tersebut, lalu membuangnya. Dia seperti memiliki sugar daddy yang akan mengabulkan seluruh pemintaannya. Taehoon merasa untung sekaligus ngeri. Bagaimana tidak? Ia sama sekali tidak menyebutkan alamat rumahnya, tapi Lee Jinho bisa mengetahui secara detail. 

Taehoon hendak mengembalikan semua barang dari Lee Jinho, tapi sebuah notifikasi dari handphone-nya mengalihkan niatnya. "Pesan dari orang tak dikenal lagi?" gumam Taehoon malas. Baru beberapa hari yang lalu ia mendapat pesan dari nomor tidak dikenal, meskipun akhirnya tahu jika itu adalah Ji Yeonwoo. Lalu sekarang, siapa lagi?

How To YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang