Kedua Puluh Delapan

333 65 80
                                        

Taehoon dinyatakan menghilang oleh pihak kepolisian sejak dua hari yang lalu. Tiada satu pun orang yang mengetahui keberadaannya. Termasuk Yeonwoo dan Bomi yang terakhir kali bersama pemuda taekwondo itu. 

Mereka yakin Taehoon bukan kabur dari rumah seperti beberapa hari yang lalu. Pasti dia diculik saat bertahan dari serangan para gangster yang membabi buta. Yeonwoo sempat menduga bahwa Lee Jinho pelakunya, mengingat orang-orang yang menyerang Bomi adalah kaki kanan dari pria tersebut.

Namun ia tak ingin beropini lebih lanjut, menyimpan dugaan sementara yang terkesan meyakinkan jauh di lubuk hati. Yeonwoo hanya mengungkapkan pra-duganya kepada Yoo Hobin dan kawan-kawan. Sekarang dia harus membantu Seong Hansoo menyebarkan dan menempelkan poster orang hilang.

Berita hilangnya Taehoon membuat Seong Hansoo sedih. Dia mencari anak semata wayangnya kemanapun bersama temannya yang bernama Kim. Keduanya membagikan selembaran, meminta bantuan masyarakat untuk berbagi info bila bertemu dengan seorang pemuda bersurai coklat yang memiliki ciri-ciri seperti digambarkan dalam poster.

Seong Hansoo juga menyantumkan imbalan yang akan diterima oleh pelapor jika berhasil menemukan Taehoon. Ia bahkan rela merogoh saku sedalam-dalam mungkin hingga terkuras asalkan putra kesayangannya kembali ke pelukannya. Pria paruh baya itu sangat menyayangi anaknya meskipun terkadang Taehoon bertingkah menyebalkan.

"Kim, apakah anakku baik-baik saja?" Hansoo bertanya pada Kim yang bersandar di dinding beton. Mereka berisitirahat sehabis membagikan selembaran poster ke masyarakat yang berlalu lalang. Meskipun kebanyakan orang langsung membuangnya setelah menerima selembar kertas tersebut.

"Pasti, anakmu itu kuat. Dia akan baik-baik saja di luar sana.." jawab pria paruh baya yang menggunakan kacamata persegi. Lalu memandang temannya yang tersenyum kecil dengan pandangan mengembara di cakrawala.

Seong Hansoo menghela napas perlahan. Memandang sekumpulan awan yang membentuk pola bervariasi. Menikmati suasana alam yang berupaya menghentikan hujan di hatinya. Dia percaya jika anak semata wayangnya kuat, tetapi gundah yang melanda benaknya membuatnya ragu untuk percaya.

Taehoon memang kuat dalam aspek bela diri. Selalu berpikiran logis dan memiliki pendirian yang teguh. Putranya pasti bisa menghadapi orang-orang yang berani menebar ranjau pada jalannya. Namun tidak semua orang di dunia ini baik, ada hal-hal yang tidak diketahui oleh Taehoon selama ini.

Apalagi fakta bahwa Seong Hansoo pernah melakukan sesuatu yang mempertaruhkan nyawanya. Dia tak bisa menceritakan kejadian di masa lampau pada Taehoon. Ia takut menghadapi sorot mata kekecewaan anaknya seperti tempo lalu.

Jujur, hatinya juga sedih. Melihat dojang yang dibangun dari nol semakin sepi dari tahun ke tahun. Semua orang memilih untuk berlatih MMA ketimbang Taekwondo. Namun putra semata wayangnya membuat jalurnya sendiri. Taehoon berlatih mati-matian dari kecil, menguasai jurus yang mampu melampui kemampuan ayahnya di masa muda.

Seong Hansoo terkejut dengan kemampuan Taehoon yang terus berkembang meskipun sempat tersendat di akhir masa sekolah menengah pertama. Dia tahu penyebabnya, berupaya menasihati anak manisnya untuk tidak terlalu menenggelamkan diri dalam laut bersalah. Walaupun itu sia-sia, putranya masih dihantui oleh rasa tersebut.

Namun belakangan ini Taehoon berubah menjadi lebih baik berkat teman-temannya. Dia mengenal beberapa dari mereka yaitu Yoo Hobin, Gaeul, Jjiksae, dan satu lagi. Ji Yeonwoo, putra dari seorang pejabat tinggi yang tersohor. Meskipun sekarang terjerat dalam dosa hukum.

Pemuda berkacamata itu sangat ramah. Ia tidak pernah mengeluh saat Seong Hansoo mengabaikan keberadaannya. Pria paruh baya pecinta taekwondo itu baru mengenali Ji Yeonwoo setelah berita hilangnya Taehoon sampai di telinganya.

How To YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang