Ketujuh

481 91 2
                                        

S..Sungjoon..

Alat perekam dinyalakan, mengungkap pelaku sebenar dari pembegalan yang terjadi. Yeonwoo meremang, kedua matanya membola. Dia tak menyangka jika seseorang yang dipercaya justru tega mencelakakan ayahnya. Ia menyesal telah menuruti perintah Sungjoon hingga membuatnya menjadi boneka yang sempurna.

Orang yang bernama Sungjoon yang menyuruh..

"Ini alat perekam. Pembegalan itu direncanakan bersama. Dia bersedia direkam dan hasilnya sesuai. Katanya kalau perlu, dia juga mau jadi saksi. Aku datang karena kamu yang harus tahu paling dulu. Sekarang aku serahkan padamu." Hobin menjelaskan dengan wajah serius, menunggu jawaban dari Yeonwoo.

"Jadi bagaimana?" tanya Hobin menegaskan.

"Bagaimana lagi? Langsung lapor." Yeonwoo menjawab dengan tegas. Keseriusan terlukis di wajahnya. Dia tak mungkin membiarkan dalang di balik pembegalan bernapas begitu saja, Sungjoon harus merenungi kesalahannya dan merasa bersalah seumur hidup. 

Yeonwoo yakin, cara ini yang terbaik. Namun sang ayah justru memegang lengan kanannya seolah menghalangi. "Jangan lapor, Yeonwoo.." ujar beliau dengan suara bergetar.

"A..Ayah?! Jangan lapor?!" Yeonwoo tak mengerti dengan jalan pikiran ayahnya. Dia hanya ingin kasus beliau selesai dan pelaku dihukum sesuai perbuatan. Ia terlanjur kecewa dengan Sungjoon yang sudah dianggap kakak sendiri.

"Tidak boleh. Kalau mau melapor, hilangkan jejak dulu.." pinta sang ayah sembari menatap putranya yang menahan luapan emosi. Pikiran Yeonwoo bercabang, tak tahu harus bagaimana. Jika tidak bisa melapor, apa yang harus dilakukan olehnya? Tidak mungkin dia membiarkan Sungjoon tertawa bahagia di luar sana sedangkan ayahnya mendekam di rumah sakit.

Lalu Yeonwoo bingung dengan ayahnya. Bagaimana beliau menjalani hidup seperti ini?

"Ini urusan orang dewasa, Yeonwoo.." tambah sang ayah.

Apa selama ini Yeonwoo adalah anak-anak? Yang bermain tanpa jeda dan memikirkan kesenangan. Tidak! Yeonwoo sudah dewasa, dia mengerti maksud dari 'urusan' yang dibilang sang ayah. Ia kecewa, ternyata beliau hidup seperti ini.

"Meskipun ayah sudah bangun, tetap tak bisa melapor. Sungjoon melakukannya karena tahu hal itu ya?" Seketika tubuh Yeonwoo bergetar. Berusaha sekuat tenaga menahan gejolak emosinya. Ia merasa darahnya mendidih, keinginan melabrak Sungjoon sangat besar. Namun dia tak bisa melakukannya.

".. Demi keluarga," balas sang ayah.

Omong kosong! Demi keluarga apanya! Batin Yeonwoo menjerit. 

"Apa ini yang disebut seorang PNS?" sarkasnya seraya mengalihkan pandangan, enggan menatap mata sang ayah. Yeonwoo kecewa berat, selama ini ia terlalu menurut pada beliau hingga tak mengetahui kerjasama apa yang terjalin diantara keduanya.

"Kalau begitu, kita tidak bisa melawan Sungjoon dan.."

"Ada aku." Hobin memotong kalimat Yeonwoo membuat si empu menoleh, menatap penuh harap ke pemuda itu. Meskipun dalam hati ia tak yakin. Yeonwoo tahu betapa liciknya Sungjoon, apalagi 244. Pria itu terlalu sulit ditebak dan memiliki aura yang berbahaya. 

"Aku bisa melawan Sungjoon! Kali ini percayakan saja padaku, ya?" Hobin begitu percaya diri, membuat seseorang di balik pintu merasa gelisah.

"Hobin tolol!" maki Taehoon. Ia tidak ikut masuk ke dalam justru menguping di balik pintu. Pemuda taekwondo itu enggan bertemu dengan Yeonwoo. Apalagi menatap mata pemuda nerd tersebut. Namun setelah mendengar pembicaraan mereka, Taehoon jadi teringat masa lalu.

Dia mengerti rasa kecewanya Yeonwoo, itu sama seperti dirinya dulu yang percaya pada sang ayah. Pak tua itu berjanji bila Taehoon menang di turnamen, ia akan tetap melatih taekwondo ke anak-anak Korea. Namun dojang justru dijadikan lahan perkalian.

How To YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang