Full POV Felix
"Fel?" aku yang sedang melihat ponselkupun langsung memandang sumber suara dan tersenyum kecil, hyunjin yang kini berada didepanku langsung memilih duduk disampingku dan menaruh tasnya dibawah.
"Sedang apa?"
"Tak ada, hanya melihat beberapa hal. Jadi?" tanyaku penasaran, diapun melihat segala arah dan memandangku.
"Kau... tak menceritakan itu pada siapapun bukan?" mengerti arah pembicaraannya, akupun hanya tersenyum kecil dan menggeleng sambil kembali melihat kedepan.
"Kau berharap aku bercerita pada siapa? Seungmin? Atau han? Meskipun terlihat lemah mereka akan membunuhmu jika tahu kau memperkosaku minggu lalu." ucapku, kulihat pandangannya langsung muram namun aku kembali tersenyum dan berdiri.
"Santai saja, aku tak akan mengatakannya pada siapapun jadi jangan hidup dengan ketakutan seperti ini."
"Fel..."
"Kita sudah putus hyunjin, akan sangat mencurigakan jika kau terus menempeliku seperti ini apalagi kau sudah punya kekasih. Cha, aku pergi duluan." ucapku, akupun membungkuk kearahnya dan memilih meninggalkannya.
Kalian pikir aku tenang dan tak memikirkannya? Tentu saja tidak, jujur saja... malam itu adalah malam yang paling mengerikan untukku. Kupikir, menjadikan mantanmu sebagai sahabatmu adalah langkah terbaik.
Malam itu seharusnya berjalan seperti malam biasanya, tapi tidak bagiku. Aku mendengar jika hyunjin semalaman mabuk dan melakukan hal ricuh disebuah bar, aku yang berusaha menjadi teman baiknya pergi dari kelas malamku dan berlari sekencang yang kubisa untuk sampai di bar dan melerai hyunjin yang untung saja berhenti ketika mendengar suaraku.
Aku membawanya ke apartmennya, yah apartmennya.
Dulu adalah hal biasa jika aku berkunjung ke apartmennya, kami sering bermain di apartmen hyunjin karena dia anak perantauan jadi jelas saja dia bebas membawa teman atau siapapun ke apartmennya.
kubaringkan dia ke ranjangnya, berharap dia bisa tidur nyenyak dan beranjak pergi untuk membawa handuk basah. Setidaknya hyunjin akan tidur nyenyak dengan tubuh yang bersih.
Namun nampaknya aku salah.
Dia menarik tanganku, disaat matanya berusaha membuka matanya dengan jelas dia memandangku dan terkekeh pelan. Entah apa artinya itu, yang jelas ketika aku ingin mengeluarkan suaraku dia menarik keras tubuhku sampai aku terjatuh dan dia menindihku dengan cepat bahkan disaat aku tak sempat mengatakan apapun.
Aku berontak? Tentu saja, tapi apa yang bisa aku lakukan? Tangan dan tubuhku terlalu kecil untuk melawan tubuhnya yang besar, ditambah ketakutan menggerogotiku dan membuat semua tubuhku gemetar bahkan untuk berteriakpun aku tak sanggup. Lagipula sekuat apapun aku tak bisa menumbangkannya, dia seorang atlet dan aku tak pernah berolahraga semasa hidupku.
Malam itu menjadi siksaan untukku.
Tapi apa yang bisa lebih parah dari ini? Ini semua karena aku terlalu bodoh.
Pada akhirnya, aku selalu jatuh padanya.
***
Kubuka ponselku ketika dering sms berbunyi, kubuka pesan itu dan terdiam membaca pesannya.
Kau sudah pulang dari studytourmu?
Mau kerumahku?
Aku memiliki banyak cemilan dirumahku...
Aku tahu apa maksud dari perkataannya, sangat tahu.
Tapi aku berpura-pura menjadi bodoh.
KAMU SEDANG MEMBACA
MINE (Felix Harem)
FanfictionNggak ada deskripsinya cuman tentang 8 bucin felix dengan latar cerita yang berbeda-beda BxB Non baku yang nggak suka BL menjauh sana!!!
