The Truth

1.6K 106 4
                                        

Wah 1 bulan lebih aku nggap update. Semoga masih ada ya yang nungguin cerita ini. Semoga kedepanny bisa update terus.
Happy reading guys....
.
.
.
.
.
Raib sampai di distrik sungai jauh-jauh saat klan bulan tengah berada di waktu malam. Sangat gelap, tak ada penerangan di sekitarnya selain cahaya bulan menandakan Raib berada jauh dari pemukiman. Ada sedikit penyesalan, kenapa Ia tak memakai ILY, setidaknya Ia akan selama berada di dalam kapsul ciptaan Ali tersebut. Kini, Ia tak tahu harus melangkah ke mana.

Raib kembali mencoba menggunakan kekuatan berbicara dengan alam untuk mendeteksi lokasi Seli namun sejauh yang Ia rasakan di sekitarnya hanya hutan biasa, bahkan radius beberapa kilometer Ia belum merasakan adanya manusia. Mengapa buku kehidupan membawanya ke tempat ini? Tanya Raib dalam hati.

"Wahai, akhirnya sang putri telah datang?" sebuah suara terdengar, padahal Raib sudah memeriksa tak ada hawa manusia di sekitarnya.

"Aku datang menyelamatkan sahabatku Seli" Raib balas berteriak menggunakan bahasa klan bulan "Di mana Seli?"

"Tenang lah putri, dia baik-baik saja. Sang Ratu hanya ingin bertemu keturunan murni maka kami meminjam sahabatmu sejenak" Tanpa sadar Raib bernafas lega. Benar, mereka hanya menginginkan keturunan murni dan buku kehidupan, Seli pasti baik-baik saja. Pikir Raib.

"Apakah setelah bertemu sang Ratu, kau akan melepaskan Seli?"

"Maaf Putri, semua keputusan ada di tangan sang Ratu. Temuilah Ia sendiri" seketika sebuah portal kecil muncul di depan Raib.

Raib tahu ini tindakan yang sangat ceroboh, Ia akan bertemu dengan orang menginginkan buku kehidupan entah untuk tujuan apa, dan fakta bahwa mereka menculik Seli jelas pertanda bahwa mereka bukan orang baik-baik. Tapi Raib tak punya pilihan, Ia harus menyelamatkan Seli.

Raib menggenggam erat liontin di leher nya, lalu mulai melangkah menuju portal.

***

"ah" Ali sedikit berteriak begitu benda di kantongnya terasa begitu panas, hatinya semakin resah, seakan-akan Ia bisa merasakan bahaya yang semakin dekat dengan Raib. Setiap, detik setiap jam dan ini adalah hari ke empat sejak pertanda Raib berpindah klan muncul, hatinya begitu gelisah bahkan kadang terasa sakit. Ia menahannya dan terus berdoa semoga Raib baik-baik saja.

"Bagaimana hasil pengujiannya?" Desak Ali, ini percobaan mereka yang ke 9 kali. Alat yang diciptakan sebelumnya selalu gagal di pengujian akhir dan kembali harus diupgrade.

Terdengar helaan nafas kasar Lan "Masih terdeteksi walau signalnya lemah, jika mereka menggunakan alat pendeteksi yang lebih mutakhir maka habislah kita. Maaf Ali kita perlu mengupgradenya lagi" Ali terdiam, biasanya Ia selalu mempunyai saran komponen apa yang harus diupgrade namun kali ini pikirannya begitu kalut, yang ada di otaknya hanya gambaran Raib yang sedang terbaring lemah tak berdaya, dan itu membuat hatinya terasa sangat sakit.

"Hey kau tak apa?" Ana yang juga di sana ikut prihatin melihat kondisi Ali "Raib adalah petarung hebat, bukankah Ia bisa membekukan apapun, berbicara dengan alam dan jangan lupa Ia bisa menyembuhkan penyakit apapun. Aku yakin Ia akan baik-baik saja"

Ali mencoba tersenyum. Benar, hal yang bisa Ia lakukan sekarang mencari cara keluar dari klan ini "Baiklah, ayo perbaiki sekali lagi. Kali ini aku yakin takkan ada teknologi yang bisa mendeteksi alat ini"

***

Raib tak tahu apakah Ia telah berpindah klan lagi atau masih di klan bulan, sejenak bahkan Ia berpikir Ia tengah berada di klan bumi. Portal yang dimasukinya berakhir di padang pasir, sangat mirip dengan padang pasir yang berada di negara bagian timur klan Bumi. Ditambah tempat tersebut tengah dalam kondisi siang, membuat padang pasir di sekelilingnya terlihat sangat gersang dan terasa panas.

After SagarasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang