Kembali pada hari terakhir Ia bertemu dengan Dan. Raib benar-benar tak tahu bahwa itu akan menjadi detik-detik terakhirnya. Saat pasukan Ratu Callista membawanya ke sebuah laboratorium, berbagai kabel dan jarum dipasang ditubuhnya. Tentu Ia melawan, namun Ia tak berkutik di saat di layar terpampang sahabatnya - Seli tengah dalam bahaya. Seli tak menyadari, tapi Ia jelas melihat sebuah jarum terpisah 2 cm di atas leher sahabatnya.
"Apa yang kau lakukan?" Raib mendesis, begitu melihat Ratu Callista berjalan mendekat.
"Tenanglah Putri, aku akan mengangkat bebanmu"
......
"Bukankah sangat melelahkan menjadi seorang keturunan murni. Kau dituntut untuk selalu sempurna, harus menjadi baik, harus selalu menolong apapun masalah klan ini, bahkan dalam beberapa kasus kalian harus berkorban"
Dalam hati Raib membenarkan sebagian kalimat Ratu Callista. Kadang Ia lelah, kadang Ia ingin marah, kadang Ia mempertanyakan mengapa Ia harus selalu terlibat. Kadang Raib hanya ingin menjadi remaja normal. Namun Ia sadar kekuatan besar selalu datang dengan sebuah tanggung jawab besar. Ia tak pernah merasa terpaksa menolong seseorang dengan kekuatannya, bahkan Ia sangat merasa bahagia ketika menyelamatkan suatu klan dari bahaya. Semua itu tak pernah menjadi beban.
"Aku tak mengerti, menjadi keturunan murni tak pernah membebaniku" Raib berucap lantang, Ratu Callista sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya "Kau masih sangat muda, sangat polos" Ucap Ratu Callista, seakan tengah berbicara dengan seorang anak kecil.
Tangannya kemudian melambai ke udara dan seketika sebuah hologram tampil. Terlihat Dirinya tengah berlutut menangis di depan Seli.
"Hiks .... hiks .... kenapa Sel? Kenapa kau tega membunuh Ayahku" dan hologram itu sirna.
"Itu pasti bohong, kau-"
"Ini adalah salah satu kejadian masa depan. Bukankah sangat ironis, Guru tersayangmu-Selena bisa dibilang yang membunuh Ibumu, memisahkan kau dengan Ayahmu, di masa depan justru Sahabat yang mati-matian kau lindungi ditakdirkan membunuh Ayahmu"
"BOHONG KAU PASTI BOHONG, SELI TAK MUNGKIN MELAKUKAN ITU" Raib berteriak kencang marah. Ratu Callista kembali melambaikan tangan ke udara dan sebuah hologram kembali tampil. Itu Ali, tidak itu tubuh Ali yang seperti tak sadarkan diri tengah terjun bebas dari ketinggian beribu-ribu kaki.
"Hiks .... Hiks" Raib menutup mata, Ia tak ingin menyaksikan saat tubuh Ali menghantam tanah. Wajah Raib telah basah. Ia sangat sadar bahwa bisa saja hologram-hologram itu hanya karangan Ratu Callista, itu bukan masa depan. Namun tetap saja, semua itu membuatnya ketakutan, nalurinya merasa bahwa adegan-adegan itu benar akan terjadi.
"Apa yang kau inginkan?"
"Jangan bersedih Putri, ada banyak alternatif untuk masa depan. Satu tindakan bisa mengantarkan kita ke masa depan yang lain. Misalnya" Sebuah hologram kembali tampil. Itu pesta pernikahan. Tampak seorang wanita-bukan itu dirinya versi dewasa tersenyum bahagia di samping sorang pria, itu Ali dalam versi lebih tinggi, lebih kekar dan tentunya lebih tampan.
"Bukankah sangat indah menjadi gadis normal, kau bisa menikah dengan pria yang kau cintai"
"Apa maksudmu? Apa seorang keturunan murni tak bisa menikah?" Ratu Callista menatapnya bingung, Raib benar-benar melihat raut keheranan di sana.
"Tentu saja boleh Putri. Selama Pria yang kau cintai bukan seorang Ceros"
Dahi Raib semakin mengerut tak mengerti. Ratu Callista yang sepertinya paham ketidaktahuan Raib, kembali memunculkan sebuah hologram. Tampak seorang wanita muda tengah terbaring dengan seorang pria duduk di sampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Sagaras
FantasíaIni Kisah tentang Raib dan Ali setelah perpisahan mereka di buku SagaraS. Tentang kesedihan dan kerinduan Raib. Tentang kerinduan dan perjuangan Ali untuk bertemu Raib lagi. Tentang musuh antar klan yang kembali mengusik ketenangan klan Bumi.
