Ali terbangun saat mendengar suara tawa, seketika pandangannya menelisik sekitar dan segera sadar bahwa Ia telah berada dalam kelasnya seperti biasa.
"Raib, kau jadi masuk klub apa? Para senior sudah menunggu loh form registrasimu" sebuah nama dalam kalimat tersebut membuat Ali menajamkan pendengarannya.
Kepalanya sedikit Ia angkat, mengintip seorang gadis cantik berambut panjang yang saat itu duduk tak jauh dari bangkunya. Dari posisinya Ali bisa dengan jelas melihat wajah gadis yang sedang tersenyum manis.
Ali sadar Ia sama dengan laki-laki lainnya. Ia mengagumi paras yang terbentuk begitu sempurna, paras itu entah kenapa selalu terlihat bercahaya, dipadu dengan rambut panjang yang tergerai indah, begitu memikat.
Ali kembali memejamkan mata sambil tersenyum. Ia telah jatuh cinta.
Kali kedua Ia membuka mata, gadis itu tak lagi di sana. Ali berdiri dan menyadari bahwa Ia sedang berada di sebuah padang rumput, tak ada seorang atau apapun di sekitarnya. Ia sendiri.
Sebuah nama terlintas di benaknya "Ra..." Ali berteriak. Ia kemudian berlarian ke sana ke mari sambil meneriakkan sebuah nama.
"Ra.... Raib"
Ali masih terus berlari hingga menemukan seorang gadis tengah berbaring. Ali tersenyum, segera menghampiri gadis itu.
"Ra, kau ke mana saja aku mencarimu tau" Ucap Ali, Ia segera duduk di samping gadis yang masih setia memejamkan mata.
"Ra, ayo pulang nanti Seli khawatir" Ali mencoba membangunkan Raib, namun sosok itu tak bergeming.
"Ra" Ali menggoncangkan tubuh itu lebih keras "Ra, bangun Ra. Ini tidak lucu" Ali dilanda kecemasan.
"Raib" Ali berteriak, tangannya tak henti menggoyangkan tubuh Raib yang terasa begitu kaku dan dingin.
"Ra jangan bercanda" Ali sadar suaranya bergetar, kesedihan membuncah di dadanya namun sosok itu tetap terbujur kaku.
"RAAAAAAAAAAAA"
.....
....
"Ali"
"Ali, bangun nak"
Ali membuka mata. Tangannya sontak meraba wajahnya yang basah. "Kau bermimpi buruk" suara lembut seseorang mengalihkan netra Ali ke sosok yang tengah memandangnya khawatir.
"Ibu"
Ely tersenyum "Minum ini, kau akan lebih tenang" Ali menerima, rasanya Ia memang sangat haus.
"Raib dalam bahaya, ibu taukan itu?" Ali mendapati suaranya bergetak, sosok Raib yang terbujur kaku masih terekam jelas di otaknya.
Ely terdiam, tak merespon. "Izinkan Ali keluar, Ali harus menyelamatkan Raib" Ali memberanikan diri, menyentuh tangan Ely, membawa dalam genggamannya.
"Bu, apa gunanya kita memiliki teknologi begitu canggih, peralatan perang yang begitu kuat tapi kita tetap membiarkan klan lain hancur. Bukankah itu namanya egois?"
....
"Nak, ada alasan mengapa para kstaria begitu keras melarang penduduknya keluar. Mereka adalah orang-orang yang telah merasakan perang, mereka telah kehilangan orang-orang tersayangnya dan berharap takkan kehilangan lagi. Itu tentu terdengar sangat egois, tapi ini usaha terakhir untuk melindungi harta berharga mereka"
"Manusia takkan berhenti. Satu peperangan akan melahirkan kebencian, balas dendam lalu konsolidasi kekuatan hanya untuk memulai pertaruangan selanjutnya. Peperangan takkan benar-benar selesai hingga semesta berakhir"
KAMU SEDANG MEMBACA
After Sagaras
FantasiaIni Kisah tentang Raib dan Ali setelah perpisahan mereka di buku SagaraS. Tentang kesedihan dan kerinduan Raib. Tentang kerinduan dan perjuangan Ali untuk bertemu Raib lagi. Tentang musuh antar klan yang kembali mengusik ketenangan klan Bumi.
