Our Moment

1.5K 89 15
                                        

.....

.....

Setelah Seli pergi, ruangan itu masih dipenuhi keheningan. Ali memutar otak, mencari kalimat yang pas untuk memecah kediaman, namun tak ada hasil. Dia begitu bersemangat hingga tak tahu harus mulai dari mana. Hal yang sama juga terjadi pada Raib, begitu banyak tanya yang ingin Ia katakan namun tak tahu harus mulai dari mana.

.....

.....

"A-" Mereka berucap secara bersamaan, membuat keduanya kembali terdiam.

.....

"Kamu duluan, Ra" Ali berucap cepat

"Bagaimana kamu bisa keluar dari Sagaras?" Raib bertanya, pertanyaan yang saat itu mencuat di otaknya.

"Ceritanya panjang Ra, tapi saat aku mengetahui kau berpindah klan aku langsung mencari cara" Raib tersenyum, Ali ternyata menghawatirkannya.

"Di mana jepit rambut yang kuberikan?" Ali bertanya setelah melihat rambut Raib polos tanpa hiasan apapun. Raib memasang wajah bersalah.

"Maaf Ali, jepit rambut nya rusak. Yang tersisa hanya permata ini saja" Raib mengeluarkan kalung berbandul permata-jepit rambut yang diberikan Ali.

"Sebenarnya bukan jepit rambutnya Ra, yang penting itu permatanya. Apa kau pernah merasakan hal aneh saat memakainya?"

"Jadi benar permata ini spesial" Raib berucap sambil mengelus bandul kalungnya "Aku sering merasa bahwa dia dapat berbicara padaku" Ali terkekeh "Heh mana mungkin, Ra. Kekuatan tak masuk akal seperti berbicara dengan alam hanya dimiliki Putri Bulan, alat-alat ku selalu punya penjelasan ilmiahnya" Raib seketika melotot mendengar penjelasan Ali. Si biang kerok ini selalu mengejek kekuatannya yang satu itu. 

"Jadi kamu mematai-matai ku lagi lewat batu ini hah?" Lewat sudah momen manis mereka, Raib kembali mengingat pulpen penyadap yang diam-diam dipasang Ali di kamarnya. "Jangan-jangan kau bisa merekam semua aktivitas ku? makannya kau tahu aku berpindah klan, begitu ALI?" Raib menaikkan nada, melolot. Kalung berbandul permatanya telah Ia lepas.

.....

Pemuda yang dimarahi justru sedang menatap takjub. Ceros Alpha itu memandang Raib dengan mata berkaca-kaca, rasanya sudah sangat lama tak melihat pemandangan seperti ini. Raib yang melotot, Raib yang memarahinya, Raib yang selalu mencurigai setiap alat-alatnya. Rasanya Ali tak percaya bahwa gadis yang beberapa bulan lalu diklaim tak bisa bangun tengah berdiri di depannya memasang wajah galak. Ali menunduk demi menyembunyikan air matanya yang jatuh.

"Ali" amarah Raib sontak mereda, melihat pemuda di depannya menunduk. Raib dapat melihat bahwa pria itu tengah menangis. Raib mendekat, mengusap pelan pundak Ali, memberi energi ketenangan. 

"Ada apa, Ali?" Raib berucap, lebih terdengar berbisik. Ini pertama kalinya Raib melihat ceros itu menangis.

Ali mengangkat kepala, masih dengan wajah basah namun senyum bahagia juga menghias wajah tampannya. Netra pemuda itu menatap Raib yang sekarang tengah berdiri di sampingnya. 

"Aku masih tak percaya" Ali berucap lirih, tangan nya terangkat memegang wajah Raib, seakan memastikan bahwa yang tengah menatap nya adalah sosok yang nyata. 

Untuk sedetik pupil Raib melebar saat merasakan sentuhan Ali di wajahnya, detik selanjutnya gadis itu juga tersenyum. Sentuhan ini masih tak berubah, kasar dan hangat, dan Raib menyukainya.

"Terimakasih untuk tak pernah menyerah. Aku mungkin tak tahu detail nya, tapi kata Seli kau mengelilingi seluruh klan untuk mengobatiku" Ali kembali terkekeh "Seli terlalu melebih-lebih kan" Raib ikut tersenyum.

After SagarasCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang