Chapter 22

26 1 0
                                        

Rencana pagi hari akan olahraga di tempat Gym dan pulangnya akan langsung main, membuat Andra dan Risa membawa perlengkapan baju ganti untuk mandi setelah Gym. Tapi rencana tetaplah rencana, karena olahraga mereka berakhir di lapangan Gasibu.

Perubahan rencana tidak berhenti disana, setelah makan sate jando rencananya akan membuat racikan penggugur dosa di apartemen Risa tetapi berakhir gagal. Risa yang bertemu dengan Kakaknya saat berbelanja bahan makanan harus datang ke rumah kakaknya karena ada pembicaraan penting yang akan dibicarakan. Nasib Gandhi dan Fera yang sudah sampai di apartemen Risa akhirnya setelah istirahat sebentar, mereka memilih untuk pulang.

Andra keluar dari kamar tamu dengan keadaan segar, karena setelah sampai di rumah Dio memang Risa sudah meminta izin untuk menumpang mandi terlebih dahulu sebab badannya terasa lengket sehingga Andra pun ikut menumpang mandi juga disana.

Andra menghampiri Saras yang sedang memasak di dapur, "Mba Saras, saya ingin tanya kalau Risa berada dimana ya?"

"Risa lagi ngobrol dulu Ndra sama kakaknya di gazebo belakang. Biarin mereka ngobrol dulu ya, kasian Mas-nya itu susah sekali untuk meminta bicara dengan adiknya ini, selalu aja Risa punya alasan untuk menghindar dari kami," jelas Saras meminta pengertian Andra untuk tidak mengganggu adik kakak ini sebentar.

"Gak apa-apa Mba, keliatan banget sebenarnya mereka saling kangen ya," ujar Andra memecah suasana.

"Ndra kamu ke ruang keluarga aja, sambil nunggu masakan matang bisa sekalian icip-icip kue kreasi Mba hehehe sekalian nemenin Anan dan Adin ya," ucap Saras agar Andra tidak bosan menunggu.

"Oh iya Mba, saya permisi kesana ya," jawab Andra lalu berjalan menghampiri keponakan Risa yang masih duduk di sekolah dasar dan taman kanak-kanak.

🌦️🌦️🌦️

"De, baik-baik aja kan semuanya?" tanya Dio kepada Risa yang sedang duduk berdampingan di Gazebo sambil memandangi taman belakang yang dipenuhi oleh tanaman hias dan beberapa bunga-bunga yang bermekaran hasil jerih payah Saras dalam mengisi waktu.

"Baik kok Mas, nggak ada apa-apa kok," jawab Risa.

"Beneran kan? Gak ada yang kamu sembunyikan dari Mas? Kamu masih nganggep Mas ini kakakmu kan?"

"Beneran Mas, aku semakin baik kok, cuman emang akhir-akhir ini lagi sibuk karena banyak audit dari eksternal jadi aku gak bisa sering main kesini," jelas Risa.

"Kalau ada apa-apa tuh bilang, jangan ngerasa gak enak atau kamu ngerasa jadi beban buat Mas. Kamu saudara Mas satu-satunya, dan keluarga kamu yang paling dekat disini tuh Mas, jadi kamu masih tanggung jawab Mas. Gimana kabarnya dokter Feny?"

"Kok tiba-tiba nanyain dokter Feny sih Mas?"

"Lah kan kemarin-kemarin kamu nginep disana," jawab Dio cepat.

Risa hampir saja lupa siapa kakaknya ini, bagaimanapun Risa menutup semuanya dengan rapi pasti kakaknya mengetahuinya. Terlalu banyak chanel yang kakaknya punya untuk mendapatkan informasi. Apalagi mengetahui kabar Risa yang sangat mudah dijangkau.

Sebenarnya Dio mengetahui sehari setelah kejadian itu, dan tempat dirawatnya Risa. Tetapi Dio memilih untuk memantau dari jauh dan menunggu kabar langsung dari Adiknya. Dio menghargai keputusan dan privasi adiknya. Selama semua masih berjalan dengan baik dan tidak keluar jalur Dio cukup diam hingga adiknya mengatakannya sendiri.

Setelah kejadian tersebut tanpa diketahui oleh Risa, Dio mencari oknum yang akan mencelakakan adiknya dan atas kerja cepat semuanya tertangani sehingga berhasil diproses hukum. Tanpa diketahui Risa, Gandhi pun selalu memberikan informasi terbaru mengenai Risa. Hal ini telah dilakukan Gandhi selama masa kuliah ketika Risa menyelesaikan beberapa terapinya, sehingga sudah menjadi rutinitas Gandhi tanpa diminta oleh siapapun.

Dio dan Risa ngobrol kesana kemari, dari mulai pekerjaan kantor Risa, tingkah laku Anan dan Adin hingga akhirnya berakhir pada topik yang sedikit sensitif untuk Risa.

"De, Mamah sama Papah udah gak muda lagi. Mas salah gak kalau nanti minta Rio dan Ina nerusin sekolah disini?"

"Aku pun pengen mereka pindah ke Bandung Mas, Mamah sama Papah juga, aku kangen keluarga kita kumpul lagi. Tapi kalau semua pindah kesini siapa yang bakal mengontrol perusahaan Mas Lio, kalau anak-anak yang pindah ke Bandung nanti siapa yang nemenin Papah sama Mamah sedangkan aku masih belum bisa kalau disuruh tinggal lama disana. "

"Kamu masih ngerasa gak enak ya saat pulang ke Surabaya? Masih merasa bersalah?"

"Jujur, sampai sekarang perasaan itu emang masih ada Mas, apa lagi kalau aku harus liat Ina dan Rio yang tumbuh tanpa orang tuanya. Kalau saja waktu itu aku gak sakit, pasti Mas Lio dan Kak Alisa nggak harus nyusul aku Mas, emang aku suka jadi beban ya sampai sekarang?" Risa mulai menangis tersedu-sedu dikala dirinya harus mengingat kembali kakaknya yang sudah meninggal.

"Dengerin Mas ya, Kamu itu bukan beban buat kita, inget perkataan Mas kan, kamu itu bukan beban untuk kita semua. Mungkin ini adalah jalan yang harus dilalui, sudah menjadi takdir dan jalannya seperti itu, sekarang kita harus banyak bersyukur dengan apa yang kita punya saat ini. Kita rawat bareng-bareng anaknya Mas Lio dan Mba Alisa ya. Kita harus sering-sering menghubungi dan mengunjungi Mamah dan Papah, kita perbaiki semuanya ya," ucap Dio.

Risa memeluk kakaknya dengan erat, masih terdengar isak tangis yang Risa keluarkan. Saras dan Andra tanpa sengaja melihat itu semua, entah apa yang mereka bicarakan tetapi Saras dan Andra merasa terbawa suasana.

🌦️🌦️🌦️

"Makan yang banyak Ndra, jangan sungkan. De, coba tambahin lagi tuh lauknya," ucap Dio setelah mereka berkumpul di meja makan.

"Makasih Mas, udah cukup kok ini, nanti gampang tinggal nambah lagi," jawab Andra.

"Om Ndra, makan yang banyak dong kaya Anan, kata bunda biar sehat dan cepet gede," ucap Anan yang menunjukkan porsi makannya. Ananda atau lebih akrab dipanggil Anan adalah anak kedua dari Dio yang sekarang sudah sekolah di taman kanak-kanak.

"Om udah banyak kok makannya, sekarang Anan harus habisin ya biar nanti Anan kuat terus kita bisa main lagi."

"Siap Om, Anan bakal makan yang banyak nih."

Suasana ruang makan begitu hangat, Anan yang membantu mencairkan suasana. Selesai makan orang dewasa memilih untuk mengobrol sedangkan Anan dan Adin memilih naik ke kamarnya. Sekarang yang lebih banyak mengobrol dengan Risa adalah Saras, berbicara heart to heart antar perempuan di ruang keluarga, sedangkan Andra bersama Dio mengobrol di Gazebo belakang.

Dio butuh berbicara mendalam dengan Andra, sudah lama ia tidak mengobrol dengan Andra. Dulu memang hubungannya mereka tidak terlalu dekat juga, tapi Dio sering melihat Andra yang main ke rumahnya. Andra sedari dulu selalu memberikan perhatian lebih kepada Risa, perhatian yang menurut Dio terlalu berlebihan kalau hanya sekedar seorang sahabat tapi Dio hanya mendiamkan saja selama Andra tidak macam-macam.

Tetapi sekarang situasi tidak seperti dulu, banyak perubahan dan kejadian setelah lama Andra tidak bertemu dengan Risa. Dio tahu, sedikitnya Andra sudah tahu kondisi Risa tetapi Dio harus lebih meyakinkan dan memberitahu agar Andra bisa bersikap sebagaimana mestinya kepada Risa.

Berawal dari membahas film akhirnya obrolan Saras dan Risa sampai pada topik hubungan Risa dan Andra. Saras terus mengorek dan mencari tahu seperti apa hubungan mereka, Saras tidak ingin adiknya mendapatkan tambahan trauma mengenai Cinta. Setelah mengetahui perasaan adiknya ini, Saras memberitahu dan mengarahkan untuk Risa memperjelas semuanya, tidak memberikan jawaban abu-abu. Risa yang sekarang sudah mengetahui langkah apa yang harus diambil maka sudah membulatkan tekadnya.

***

RETROUVAILLESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang