Haechan mematut dirinya di cermin, sudah rapi dan tampan tentunya. "Anjay, gantengnya gue bisa nyaingin Mas Jeno sih ini." ucap Haechan dengan pedenya, ia menyisir rambutnya kebelakang yang sudah diberi pomade. Kali ini Haechan membiarkan Ten untuk bekerja kembali, Haechan juga sudah tahu secara jelas dimana Ten bekerja dan Haechan memastikan kalau Ten bekerja dilingkungan yang baik.
"Mae! Aku mau berangkat." Haechan berseru, ia mengambil tas kerjanya yang dibelikan Doyoung saat kemari beberapa waktu lalu. Haechan mengenal Doyoung, dia tidak menaruh dendam apapun pada Doyoung, yang salah tetap Ayahnya.
"Sarapan dulu sini dek, Mae abis belajar buat pasta. Sini sini." Ten menyambut Haechan, bahkan sampai menarik kursi untuk anaknya itu. Haechan tentu saja senang, masih ada satu jam lagi sebelum jam kerja, ia melihat makanan yang dihidangkan Ten diatas meja, pasta. Baunya saja sudah membuat Haechan lapar,
"Mau dibawain juga ga?" tawar Ten,
"Boleh Ma, buat Mas Abin." Ten menganggukkan kepala dan langsung membuat bekal untuk Haechan, sedangkan Haechan mulai memakan pasta buatan Ten."Mmm enak Mae! Emang dah paling top masakan Mae." Haechan berucap dengan senang, Ten tersenyum mendengarnya.
"Mae beneran gamau pake motor buat ke tempat kerja?" tanya Haechan,
"Nggak usah dek, Mae naik bis aja deket kok cuma satu halte." Ten menjawab,
"Yaudah deh, tapi Mae ati-ati ya." ucap Haechan.
"Iya dek. Gih abisin, nanti keburu telat."
Haechan kini berdiri di depan ruangan yang bahkan tak pernah Haechan kira akan dia kunjungi lagi, ruangan Johnny yang juga ditempati oleh Hendery. Johnny jarang masuk kerja, biasanya Johnny lebih ke perjalanan luar negri dan luar kota, sedangkan Hendery yang memegang kuasa tetap di kantor. Dan alasan Haechan berdiri di depan pintu ini adalah dia harus memberikan kotak bekal berisi masakan Mae ke Hendery.
"Ini ya, titip buat abangmu. Bilang juga ke dia kalo Mae kangen, kapan-kapan bisa ketemu."
Mau bagaimanapun juga Haechan tahu kalau Ten pasti merindukan anak pertamanya itu, lama tak bertemu pasti membuat Ten semakin ingin menemuinya. Setelah memantabkan hati, Haechan mengetuk pintu ruangan dan menunggu sahutan dari dalam.
"Masuk." setelah itu ia baru memberanikan diri membuka pintu ruangan, ketika melihat sosok adiknya Hendery yang tadinya menatap pintu langsung mengalihkan pandangan ke dokumen yang sedang di tanganinya. Haechan berjalan mendekati meja kerja kakaknya lalu menaruh satu paper bag diatas meja,
"Dari Mae, katanya Mae kangen pengen ketemu. Kapan-kapan." Hendery tidak menjawab, bahkan sampai Haechan memutuskan untuk meninggalkan ruangannya karena tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Hendery.
Mendengar suara pintu tertutup, Hendery mengangkat kepalanya lalu menatap paper bag diatas meja sebelum meraihnya. Hendery mengambil kotak makan di dalamnya, ada secarik kertas diatasnya, dengan perlahan Hendery membuka kertas itu, takut kalau ia bisa merobek kertas berisi catatan dari Ten.
Mae baru belajar masak pasta, kata si gembul sih enak. Kalo kata abang enak juga berarti abang harus ketemu sama Mae
Ia membuka tutup kotak bekal yang langsung membuat bau pasta langsung tercium, "Emang sejak kapan masakan Mae nggak enak?" gumam Hendery, ia mengambil garpu yang ada ditempatnya bersama dengan penutup kotak. Pria itu memakan pasta yang dibuatkan Ten dengan tenang, tentu saja rasanya enak, sangat enak.
"Andai lo tau dek, gue sering gabisa makan dirumah karna Bunda nggak tau gue alergi dan ga doyan apa."

KAMU SEDANG MEMBACA
PE;A
FanfictionA story about them, Haechan and Jeno. A student and his lecturer. ----------------------------------------------------------------------------------------- WARNING! bxb Trauma Family issues