Page 23 🔞🔞

9.3K 544 33
                                    

Dan disinilah Haechan berada, di tempat Gym bersama dengan Jeno. Bahkan Haechan meminjam pakaian milik Jeno karena dia tidak siap untuk agenda olahraga dadakan ini. 

"Mas...aku gabisa pake alat alat olahraganyaa." Haechan merengek pada Jeno bahkan ketika mereka baru memasuki Gym. 
"Ya nanti saya ajarin, kamu bisa pake treadmill aja." jawaban Jeno tidak memuaskan Haechan, dia kan tidak mau olahraga! malas tau, menghadapi kehidupan aja udah bisa bikin dia kurus. 

Jeno melepaskan jaket yang menutupi tubuhnya dan menyisakan kaos tanpa lengan warna hitam yang biasa dia gunakan untuk olahraga, Haechan sendiri hanya menggunakan kaos hitam milik Jeno dan celana pendek hitam milik Jeno juga. 

Otot bisep Jeno terlihat jelas sekarang dan Haechan iri melihat itu, dia juga banyak bekerja untuk angkat barang toko dulu kenapa dia tidak berotot?!

"Mikirin apa sih?" Jeno mencubit pipi kanan Haechan yang nampak lesu itu, tampak tidak bersemangat. Haechan meringis dengan bibir mengerucut, 
"Ayo pemanasan dulu sini." Jeno menarik kedua bahu Haechan lalu mengajaknya pemanasan di depan spot kosong di depan kaca, 

"Lurusin dek kakinya."
"Akh! sakit Mas ini udah mentok." Haechan mengeluh ketika Jeno menyuruhnya untuk menyentuh ujung kakinya, oh bahkan hanya sampai pergelangan kaki sedikit lebih atas. 
"Bisa ah." Jeno membuat kaki Haechan lurus dan menekan punggung Haechan, 
"Aaaaaa sakit~" rengekan Haechan tak membuat Jeno berhenti, ia masih terus membuat Haechan pemanasan dengan benar hingga semua rangkaian pemanasan sudah selesai. 

"Hah? tadi belom?" tanya Haechan yang sudah merasakan sakit di tangan dan kakinya,
"Loh belom angkat beban ini." mendengar itu rasanya Haechan mau menghilang saja, siapapun tolong jemput dia. 

Jeno membawa Haechan ke bench press, "Kuat kan?" Haechan menatap Jeno, hey dia pernah jadi tukang angkut beras di gudang ya. 
"Gini gini aku pernah jadi kuli tau." mendengar itu Jeno menatap Haechan yang sudah berbaring dengan sebelah alis yang terangkat, ini masih memakai beban yang biasa dia gunakan. Akhirnya Jeno memberikan arahan agar Haechan mulai mengangkatnya perlahan. 

"Anjing, kok berat?" Haechan baru mengangkat satu kali dan kini Jeno sudah menyuruhnya untuk mengangkat bebannya lagi, 

"Anjing, kok berat?" Haechan baru mengangkat satu kali dan kini Jeno sudah menyuruhnya untuk mengangkat bebannya lagi, 

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*Nah ini bench press


Jeno bisa melihat wajah Haechan yang memerah saat mengangkat beban yang biasa dia angkat seberat 15kg per sisi. 
"Mas- udah~" Haechan hampir saja kejatuhan beban kalau saja Jeno tak membantunya, anak itu langsung menjatuhkan tangannya ke samping dengan nafas yang ngos-ngosan padahal baru 6 kali. Jeno terkekeh, 

"Ayo semangat olahraganya, nanti saya kasih cium kalo kamu selesain semuanya." ucapan Jeno ditolak mentah-mentah oleh otak Haechan, apa-apaan?! namun berbeda dengan reaksi hatinya, wajahnya memang kesal, bibirnya mengerucut namun dia mengikuti kemanapun Jeno membawanya, dair latihan kaki, perut, tangan, semuanya sudah dia coba. Sampai pada akhirnya Haechan sudah menyerah, 
"Ah mau main bola aja sama mbak-mbaknya itu!" Haechan meninggalkan Jeno yang berada di smith machine, pria itu hanya menggelengkan kepala melihat Haechan yang menjauh. Dia ingin menyelesaikan bagiannya dan membiarkan Haechan mengikuti kelas gym yang dilakukan oleh pelatih perempuan dengan menggunakan gym ball di sisi timur, dekat dengan kaca. 

PE;ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang