Page 5

7K 671 10
                                    

Karena di semester ini dia hanya kebagian dua mata kuliah lain diluar skripsi dan juga magang jadi selain dua hari yang disepakati dengan perusahaan Haechan bekerja. Pagi ini Haechan menemani Mas Abin untuk menemui beberapa klien sekalian untuk mengenalkan Haechan ke orang-orang di perusahaan. 

"Kalo ini tempatnya accounting, kita jarang-jarang sih kesini kalo nggak nganter surat-surat. Lagian letaknya agak jauh, jadi saya suka males." jelas Mas Abin. Kepala Haechan mengangguk tanda mengerti sambil menatap ke ruangan yang dimaksud, terlihat dari jendela kaca besar itu orang-orang terlihat sibuk di depan komputer. 

Haechan belum tahu bagian-bagian di gedung perusahaan ini jadi dia hanya mengikuti Mas Abin disamping orang itu, kemudian mereka masuk ke dalam sebuah ruangan setelah Mas Abin mengetuk pintu itu dua kali. Haechan mengikuti kemana langkah Mas Abin dan mereka berhenti di depan meja Direksi. 

Haechan berdiri mematung saat melihat siapa yang ada di hadapannya, 
"Abin, duduk dulu." 

Johnny. Direksi sekaligus Ayahnya. 

Setelah mempersilahkan Mas Abin untuk duduk Johnny melirik Haechan sekilas, sebelum mengobrol dengan Mas Abin, sedangkan lelaki berambut hitam itu duduk agak jauh di kursi yang ada di ruangan sekertaris Johnny.

Selama lima belas menit Haechan hanya memainkan ponsel untuk membalas chat atau menatap sekitar, akhirnya Mas Abin keluar. 
"Haechan, bapak mau ngobrol sama kamu. Kalo udah buru balik ya, saya mau traktir kamu makan siang." ajakan Mas Abin tentu saja di iyakan oleh Haechan, pria itu keluar dari ruangan Johnny sedangkan Haechan masih mengumpulkan keberanian untuk masuk ke dalam ruangan itu. 

Klek!

Tangan Haechan menarik kenop pintu lalu mendorongnya, membawanya masuk ke dalam ruangan luas ber-AC itu.
"Pagi Pak." sapa Haechan dengan suara yang tercekat di akhir, takut. Entah kenapa. 

"Duduk sini." Johnny terlihat santai dan mempersilahkan Haechan untuk duduk dihadapannya, sang anak menurut dan duduk ditempat Mas Abin duduk tadi. 

"Gimana kabar kamu?" mendengar pertanyaan itu ingin sekali Haechan menjawab, 
"Menurut bapak aja gimana kabar anak yang dilupain gitu aja." 

"Baik kok." jawab Haechan. 
"Saya liat nilai kamu bagus." ucap Johnny.
"Lumayan, kalau dipertahankan bisa lulus cumlaude." Haechan membalas seadanya. 

"Ten, gimana kabarnya?" bagaimana bisa Haechan menjawab pertanyaan ini tanpa menahan emosinya? meskipun sudah bertahun-tahun lamanya tapi rasa kecewa dan bencinya pada Johnny tak akan bisa dia lupakan. Tapi untuk kali ini dia masih membutuhkan nilai jadi mau tidak mau Haechan masih harus bersikap sopan meskipun hubungan Ayah dan Anak tidak akan pernah bisa putus. 

"Baik juga, sehat." jawab Haechan seadanya. 
"Baguslah, kalo kamu selesai magang kamu boleh mau masuk kesini." ucapan Johnny langsung ditolak oleh Haechan di dalam hati,

"Nanti dipikir dulu." jawab Haechan seadanya, Johnny menatap dokumen di tangannya yang berisi berkas-berkas milik Haechan. 
"Minggu depan, kamu ikut Ayah ke acara peruahaan." ucapan Johnny sedikit membuat Haechan terkejut, dia masih dianggap anak? 

"Apa saya berhak?" pertanyaan Haechan membuat Johnny menatap Haechan, lebih intens daripada tadi. 
"Kamu masih anak Ayah, Haechan." mendengar itu Haechan terdiam sejenak lalu tersenyum kecil,

"Selama ini Ayah kemana aja?" setelah pertanyaan Haechan itu terlontar hanya ada keheningan diantara mereka. Johnny bingung harus menjawab apa, tapi pada akhirnya dia memilih untuk jujur.

"Maaf, nggak seharusnya Ayah bersikap seolah nggak peduli sama kamu dan lupa soal kamu. Maka dari itu Ayah pengen perbaikin semuanya lagi." selama Johnny berbicara Haechan menatap kearah Ayahnya tanpa mengalihkan pandang sedetik pun, ingin mencari tahu apakah Johnny benar-benar ingin melakukan itu. 

PE;ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang