Hari ini adalah jadwal bimbingan Haechan dengan Jeno, karena Haechan masih bekerja jadi dia membuat kesepakatan dengan Jeno untuk bertemu setelah jam kerja selesai. Seperti biasa Haechan berangkat dengan suasana hati yang ditata sedemikian rapinya agar tidak badmood ditengah jalan, yah meskipun tidak menjamin demikian karena semenjak pertemuannya dengan Johnny tempo hari lalu tiap kali mereka berpapasan Johnny akan menyapanya, atau mengusak rambutnya, atau yang paling biasa adalah menepuk bahunya.
"Mae! Echan berangkat ya!" Ten masih berada di kamar mandi saat Haechan berpamitan, kata Ten mulai hari ini Ten masuk malam terus, jadi dia memutuskan untuk berangkat dengan menggunakan angkutan umum, kalau terus-terusan bergantung pada Haechan, ia merasa tidak enak.
"Iya, ati-ati ya!"
"Iya Mae!" Haechan bergegas keluar rumah, motornya sudah dia keluarkan sejak pagi untuk di lap agar kinclong dan tidak malu-maluin sewaktu masuk ke area perusahaan.
Sesampainya di kantor, Haechan langsung mendapatkan tugas untuk membuat design untuk acara mendatang mereka nanti, ada acara bakti sosial dengan gereja memperingati hari natal nanti, serta mengumpulkan data tentang pesaing perusahaan mereka tahun ini.
"Dek, saya tinggal ke kantor TV dulu ya?" Mas Abin terlihat merapikan jas-nya sambil berkaca di cermin fullbody yang ada di pojok ruangan.
"Oh iya Mas."
"Mau nitip apa? saya balik pas waktu makan siang soalnya." Mas Abin berbalik menatap Haechan setelah selesai merapikan jas serta dasinya.
"Apa aja deh Mas."
"Tak bawain janda mau?"
"Wah kalo itu sih nggak dulu." keduanya tertawa,
"Yaudah saya pergi dulu, jaga office ya?"
"Siap Mas!" Haechan menjawab dengan bersemangat, tentunya dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Baru ketika Mas Abin menghilang dibalik pintu Haechan menghembuskan nafas, senyumnya luntur begitu saja. Entah kenapa dia seperti kurang energi,
Anda mendapatkan 1 pesan
Pak Jeno
Haechan menatap kearah layar ponselnya yang menunjukkan notifikasi dari dosennya, agak aneh rasanya ketika dosen menghubungi lebih dulu. Sepengalaman Haechan dia hanya satu dua kali mendapatkan pesan lebih dulu dari dosen, itu pun karena ada informasi mendadak. Kali ini tidak, rasa-rasanya hampir satu minggu dia mendapatkan pesan dari Jeno lebih dari empat kali. Si manis bergegas meraih ponselnya dan membalas pesan Jeno, tidak sopan mengabaikan pesan dosen saat tahu kalau dosen mengirim pesan lebih dahulu.
Pak Jeno
Haechan, jangan lupa nanti bimbingan. Jam 7 malam.
Iya Pak. Inget kok😁😁😁
Jangan lupa bawa mantel, musim hujan.
Iya Pak, udah ada di jok kok. Hehe
Setelah itu Jeno tak membalas, Haechan kembali termenung. "Orang ini beneran prik, asli. Kek...harus nanya segitunya?" Haechan memutuskan untuk kembali fokus membuat design sebelum sebuah pesan kembali menghampiri ponselnya.
Pak Jeno
Semangat magangnya 👌
Haechan nyengir melihat pesan yang masuk lalu tertawa, dosennya yang satu ini benar-benar unik sekali. Eh.
"Dia gini ke semua mahasiswanya kan?" Haechan terdiam.
KAMU SEDANG MEMBACA
PE;A
FanficA story about them, Haechan and Jeno. A student and his lecturer. ----------------------------------------------------------------------------------------- WARNING! bxb Trauma Family issues
