Setelah Haechan menyelesaikan magangnya di perusahaan Johnny dan semuanya kembali seperti semula, maksudnya Haechan yang kembali bertunangan dengan Haechan. Hari ini Haechan merasa stuck dengan skripsinya, sedari pagi dia berkutat di depan laptop dan mengusak rambutnya dengan kesal. Ngomong-ngomong Haechan kembali kerumahnya yang lama, disini lebih nyaman daripada di apartemen sana, meskipun kecil tapi lebih adem hatinya kalau disini. Ten juga tak masalah, dia sudah terbiasa dengan hidup seperti ini, mereka menyewakan apartemen milik mereka.
"Mae udah siap belom??" Haechan akan mengantarkan Ten ke tempatnya bekerja hari ini karena Haechan sudah tak ada kegiatan jadi dia bisa mengantarkan Ten pergi bekerja. Tak lama kemudian Ten muncul dengan pakaian sudah rapi,
"Ayok, tapi anter ini dulu ke warung kayak biasanya ya?" kepala Haechan mengangguk sebagai jawaban, Haechan senang dengan keadaan sekarang dimana dia dan Ten lebih banyak menghabiskan waktu bersama dan tak ada lagi gangguan dari Johnny.
"Hari ini kamu ke kampus?"
"Iya, ada pertemuan alumni pengurus, jam sembilanan berangkat. Jadi sekalian aja anterin Mama." Haechan memakai jaketnya yang tersampir di motor kemudian menyalakan motor maticnya, oh mereka membeli motor baru.
Mereka berdua mampir ke warung untuk mengantarkan kue bolu yang dibuat Ten untuk dijual, lumayan untuk tambah uang jajan Haechan katanya, lagi juga sudah terlanjur biasa titip disana. Jadi kemarin saat Ten berhenti menitip penjaga warung menanyakan kapan Ten kembali menitipkan bolunya karena menjadi kesukaan orang-orang disana,
"Pagi mbak, nih saya nitip bolunya." Ten memberikan satu tas kepada penjaga warung,
"Nah ini yang ditunggu akhirnya dateng juga, eh anaknya ikut?"
"Iya sekalian anter kerja, udah selesai magangnya jadi dia yang anter."
Selesai membereskan urusannya, Ten kembali menghampiri Haechan dan mereka berdua menuju ke tempat Ten bekerja, sebuah cafe.
"Nanti kalo udah pulang telfon aja ya Ma." kepala Ten mengangguk sebagai jawaban, setelah memastikan Ten masuk ke dalam cafe, Haechan baru menjalankan motornya menuju ke kampus. Sebenarnya dia tidak ada urusan lain selain mengumpulkan tugas hari ini, alibinya hanya untuk bertemu dengan tunangannya.
Iya, kalian tidak salah kalau Haechan bahkan rela berbohong untuk menemuni tunangannya itu lebih lama. Habisnya mereka juga tidak bisa menghabiskan malam bersama hari ini, lewat telfon tidak akan cukup.
Haechan memarkirkan motornya, ia mendapati motor Hyunjin disana, duo pacar sengklek itu pasti sudah datang. Dan benar saja, Hyunjin terlihat sedang duduk sambil bermain ponsel di depan gedung fakultas. Tapi anehnya anak itu hanya sendiri,
"Lah, Yeji kemana?" tanya Haechan ketika tidak menemukan Yeji bersama dengan Hyunjin, tidak biasanya.
"Tau dah." Hyunjin nampak tidak peduli dan itu adalah hal yang aneh, keduanya pasti sedang ada masalah.
"Kenapa lagi dah? lagi bertengkar?" tanya Haechan sambil duduk disamping sahabatnya itu, melupakan tujuannya untuk segera menemui Jeno sebelum kelas.
"Nggak tau, dia lagi nggak jelas tiba-tiba minta putus." jawaban Hyunjin membuat Haechan heran, Yeji minta putus?
"Alesannya?"
"Katanya capek sama gue." Haechan terdiam beberapa saat,
"Lo masih hubungan sama ayen?" kepala Hyunjin mengangguk sebagai jawaban, dan hal itu tentu membuat Haechan mengerti.
"Yaudah sih tinggal pilih ayen atau Yeji."
"Lah kok gitu?" Hyunjin kini mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap Haechan,
"Ya orang mana yang tahan di duain lama-lama? sekalipun Yeji dulu bilang no problem, buktinya sekarang enggak kan? hubungan kalian tuh toxic gara-gara lo yang mulai Jin." ucapan Haechan memang ada benarnya, dulu kalau Hyunjin tidak memulai dengan dia yang jujur menyukai Ayen dan mendekati anak itu, Yeji pasti tidak bilang kalau dia juga menyukai orang lain padahal aslinya tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
PE;A
FanfictionA story about them, Haechan and Jeno. A student and his lecturer. ----------------------------------------------------------------------------------------- WARNING! bxb Trauma Family issues
