Suasana Johnny sangat buruk, bahkan sampai tidak ada yang berani masuk ke dalam kantornya. Hendery juga mendengar semuanya, maka dari itu ia melarang Haechan untuk pulang ke rumah, tapi-
"Siang abang." Hendery langsung menoleh ke arah Haechan, ia langsung berdiri dan menghampiri adiknya itu,
"Dek lo ngapain disini?"
"Ya...kerja." seingat Hendery dia mendapatkan informasi kalau Haechan tidak masuk hari ini,
"Lo harusnya gak masuk hari ini." Hendery mendorong tubuh Haechan agar keluar dari ruangannya, namun Haechan menahan,"Ih Ade mau kasih berkas ke Ayah dulu Abang." ucap Haechan sambil berusaha untuk lepas dari Hendery, namun Hendery tetap berusaha memberontak.
"Dek, nurut sama gue jangan masuk ke dalam dul-"Klek-!
"Haechan Subiantoro. Masuk ke ruangan Ayah sekarang." mendengar perintah Ayahnya itu membuat Haechan terdiam di tempat, apa dia berbuat salah?
"Jangan dek, lo pergi aja biar gue yang masuk." Haechan melihat ke khawatiran Hendery dimatanya, bahkan raut mukanya juga.
"Abang, kasih tau gue apa salah gue?"
"Bukan salah lo, yang penting lo harus pergi sekarang-""Ayah bilang sekarang ya sekarang!" Johnny tiba-tiba keluar dari ruangannya dan menyeret Haechan masuk ke dalam ruangannya.
"Ayah ampun!" Haechan merasakan pening di kepalanya saat Johnny menjambak rambutnya untuk menyeretkan masuk.
"Yah! Ayah jangan hukum Ade!" Hendery berusaha menahan Ayahnya, namun Johnny yang sudah diliputi oleh amarah itu menendang tubuh Hendery lalu menutup pintu ruangannya, tak lupa menguncinya di dalam. Hendery menggedor pintu berulang kali sambil memohon agar Haechan diampuni, namun sepertinya Johnny tidak akan memberikan pengampunannya kali ini.Johnny mendorong tubuh Haechan hingga punggung anaknya itu menabrak meja karena limbung,
"Ayah maafin Echan, Echan nggak tau kenapa Ayah kayak gini tapi Haechan minta ampun Yah." anak itu mengabaikan rasa sakit di kepalanya dan memili untuk bersimpuh dihadapan Johnny untuk memohon."Anak nggak tau diuntung!" sebuah tendangan dilayangkan Johnny pada bahu Haechan hingga tubuhnya jatuh ke samping, belum sempat Haechan bangkit, pria itu kembali melayangkan sebuah tendangan ke perut Haechan, membuat anak itu berteriak kesakitan dan meminta ampun.
"Kamu bilang apa sama Jeno sampe dia batalin pertunangan kalian hah?! Kamu kan yang bilang ke Jeno kalo Ayah ancem kamu biar nerima perjodohan kalian?" Johnny melayangkan tendangan ke tubuh Haechan berkali-kali, sampai tubuh anak itu terjepit antara meja dan Johnny, tak dapat kemana-mana lagi. Kepala Haechan semakin pusing, pandangannya bahkan memburam karena air mata."Ampun...Yah."
"Kamu sengaja mau mempermalukan Ayah di depan keluarga Jeno kan? Bilang ayah ngancem kamu demi perusahaan?"
"Yah..maafin Echan Yah..ampun..sakit.."
"Bangsat!" rasanya Johnny tidak akan puas jika belum melihat Haechan pingsan, pria itu kini menarik tangan Haechan dan menyeretkan masuk ke dalam kamar mandi yang ada disana, Haechan sudah tak bisa berkutik, tubuhnya terasa sakit, kakinya yang diinjak oleh Johnny tadi sepertinya retak dan tangannya terpelintir akibat kasarnya Johnny saat menariknya.Haechan tak pernah melihat Johnny semarah ini.
Johnny kembali mendorong tubuh Haechan hingga punggungnya menubruk pinggiran bathup, menyalakan air shower dingin mengguyur tubuh anaknya.
"Sampe kamu bisa balikin hubungan kamu sama Jeno, jangan harap Ten bisa ketemu lagi sama kamu." Johnny kembali menendang tubuh Haechan yang sudah berdiri hendak meminta maaf hingga terjatuh ke lantai, kepalanya terbentur tembok membuat penglihatan Haechan semakin memburam. Johnny keluar dari kamar mandi dan membiarkan Haechan yang pingsan di dalam kamar mandi, dan ia bahkan mengunci pintu kamar mandi.

KAMU SEDANG MEMBACA
PE;A
FanfictionA story about them, Haechan and Jeno. A student and his lecturer. ----------------------------------------------------------------------------------------- WARNING! bxb Trauma Family issues