[SUDAH TERBIT]
Hyunsuk yang dijual oleh adiknya kepada seorang ketua mafia kejam.
Awalnya Jihoon membeli hyunsuk hanya untuk memuaskan hasrat membunuh pada dirinya saja, namun semua itu sirna saat melihat tatapan memohon dari pria manis itu.
"Kenapa...
Namun tiba-tiba dia tersentak saat sepasang tangan kekar melingkar di perutnya.
"Harum sekali!'
Hyunsuk tersenyum dan membalikkan tubuhnya menghadap Jihoon dengan tatapan berbinar-binar, "Kita akan tinggal didesa?"
Jihoon tergelak kecil, dan mengangguk. "Apa kau senang?"
Dengan cepat Hyunsuk mengangguk kepalanya mengiyakan, "Aku tidak sabar pergi ke pantai, tempat yang selalu kita berdua kunjungi, waktu kita masih kecil!"
Jihoon tersenyum tipis, "Aku jadi merindukan masa-masa itu" Ucapnya sambil menggandeng tangan Hyunsuk untuk membawanya keruangan tengah.
Bisa mereka berdua lihat, beberapa orang disana sedang mengemasi barang-barangnya.
"Mashi, biarkan aku saja yang membawanya" Ucap Junkyu sambil meraih koper ditangan Mashiho.
Dengan cepat Mashiho menepisnya dan menatap Junkyu tajam, "Jangan menggangguku, aku masih marah padamu"
Setelah mengatakan itu, Mashiho membawa koper tersebut menuju bagasi mobil.
Ngomong-ngomong, mereka semua setuju untuk tinggal di desa terpencil, tempat tinggal Jihoon dan Hyunsuk saat mereka berdua berusia 10 tahun.
Mereka beranggapan bahwa tinggal di pedesaan sangat aman dari bahaya, bagi para pria hamil.
Ah, iya. ada satu kabar bagus untuk kalian.
2 hari yang lalu, Asahi dinyatakan hamil. dan Itu membuat Jaehyuk senang, bahkan pria itu sampai bersujud dilantai 3 jam.
"Pergi kau," Usir Mashiho menyenggol bahu Junkyu agar pemuda itu menyingkir didepan pintu.
"Ya ampun, sayang!" Seru Junkyu terkejut.
Sedangkan Mashiho tidak perduli, dia lebih memilih pergi menuju kamarnya untuk mengambil barang lainnya.
Junkyu mendengus, matanya menatap Haruto yang sedang mengangkat sekotak kardus ditangannya.
"Mau aku bantu?"
Haruto menatap Junkyu sinis, lalu melengos pergi begitu saja tanpa sepatah katapun.
Hal itu membuat Junkyu mengacak-acak rambutnya frustasi, "Mereka berdua sudah mendiamiku dalam seminggu!" Keluhnya lelah.
"Aku menyesal tidak jadi mati" Junkyu mengusap jejak air mata, tak kasat mata dipipinya.
"Sialan!"
Jaehyuk yang sejak tadi melihat perdebatan Junkyu, hanya tertawa terbahak-bahak, kasihan sekali pria itu.