> Twenty Two

32 9 0
                                    

Sejak pulang diantarkan Taehyun tadi, niat awal Yeona yang ingin tidur langsung hilang karena rasa kantuknya entah sudah pergi ke mana, atau mungkin terhempas angin saat di perjalanan. Jadi, ia sedari tadi dengan bosan duduk di depan televisi yang menyala. Tidak peduli televisi itu menayangkan apa, yang penting di rumah ada suara dan tidak sepi.

Tok tok tok tok tok

Yeona terkejut pintu rumah diketuk tengah malam begini, padahal di samping pintu itu ada bel yang masih menyala jika ditekan. Yeona berjalan menuju jendela untuk melihat siapa yang datang, setelah melihat siapa yang datang, ia langsung membuka kunci pintu. Sebuah kejutan lagi melihat Soobin merangkul Yeonjun yang berdiri saja tidak terlihat tegak.

"Yeonjun mabuk," jelas Soobin menjawab pertanyaan yang bisa ia tebak ada di dalam pikiran Yeona. "Dia kalah main, dan hukumannya harus minum minuman sialan itu. Dia dipaksa, dan gue gak tau gimana kejadiannya sampai dia malah minum sendiri minuman itu sampai setengah botol lebih."

Yeona sempat diam tak percaya bahwa kakaknya mabuk, tetapi bukti nyata ada di depan matanya langsung, bagaimana keadaan kakaknya yang bahkan untuk berdiri perlu bantuan Soobin.

"Lo juga mabuk, Kak?" tanya Yeona ke Soobin dengan nada curiga.

"Gak," elak Soobin. "Gue seratus persen gak mabuk."

"Lo yakin?"

Soobin berdecak, mana mungkin ia berani mengendarai mobil jika ia mabuk. "Setetes pun gue gak minum!"

Setelah yakin dengan Soobin, segera Yeona mengambil posisi di sebelah Yeonjun, niatnya ingin membantu Soobin membawa Yeonjun ke sofa. Namun, Yeonjun malah menepis kasar tangan Yeona saat hendak menggapai tangan Yeonjun.

"Kak?"

Bukan hanya Yeona yang terkejut, Soobin juga. Baru kali ini melihat Yeonjun menolak bantuan Yeona apalagi secara kasar.

Mata sayu Yeonjun menatap nyalang.
"Lo. Lo ngapain?"

"Mau bantu Kak—"

"Stop! Jangan deket-deket gue!"

Yeona mengerutkan keningnya, tercium bau asing yang tidak mengenakan saat Yeonjun berucap. Namun, di sisi lain, ia tidak mengerti apa yang dimaksud kakaknya. Juga tatapan itu, tatapan yang tidak pernah sekali pun Yeonjun tunjukkan padanya, kini ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Kenapa, sih? Lo selalu ada di pikiran gue? Kemana pun gue pergi, lo selalu kurang ajar tiba-tiba muncul di pikiran gue. Gue gak bisa tenang, asal lo tau. Kenapa gue selalu khawatir kalo lo gak ada di sekitar gue?!"

Nada bicara Yeonjun tidak lancar, masih tersendat-sendat di setiap ucapannya, tetapi setiap kata yang terucap berhasil Yeona cerna baik-baik.

"Gue capek, Na... Serasa gak punya waktu sendiri... Lo apa-apa selalu sama gue, selalu nyita waktu sendiri gue. Bahkan gue rela batalin janji jalan sama pacar gue, cuma buat nemenin lo!!"

"Gak tau kenapa gue bisa se-khawatir ini, tapi lo ngerepotin gue!! Rasanya gak bebas mau nikmatin waktu tanpa lo! Tolong, gue juga mau bebas tanpa kepikiran sama lo lagi... Stop jadi beban pikiran gue, Na."

"Kak—" Suara Yeona tercekat. Sakit rasanya mendengar Yeonjun meluapkan apa yang selama ini ia pendam, apalagi persoalan ini mengenai dirinya. Inikah kejujuran yang tidak pernah Yeonjun utarakan? Disaat kesadaran dirinya tersita sebab alkohol, semuanya meluap tepat di depan Yeona.

"Yeonjun, udah." Soobin berujar, tidak tega saat melihat air mata Yeona mengalir. Rasa sakitnya bisa Soobin rasakan.

Mengabaikan Soobin, Yeonjun malah terkekeh setelahnya. "Kok dulu gue mau, sih, suruh ngerawat lo?" tanyanya dengan nada jenaka.

Brother || CYJTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang