"Ini terakhir kali gue mau ketemu sama lo!"
"Let me see."
"Ryan!"
Shenina membelalakan matanya, tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh cowok di hadapannya itu. Bibir cowok itu menyeringai, membuatnya geram setengah mati.
"He's married Shenina."
"Tapi dia cintanya sama gue shut your mouth!"
"Kalo dia cintanya sama lo, dia nggak bakal nikah sama cewek lain!"
"Lo cuma nggak tau kebenarannya Ryan!"
Ryan, cowok yang namanya disebut itu hanya bisa tersenyum mengejek. Ia mendekati Shenina, gadisnya yang dikejarnya sampai ke Indonesia itu.
"Kalo ngomongin cinta, gue juga cinta sama lo." Ujarnya berbisik di telinga Shenina.
Gadis itu terdiam, pucat wajahnya saat ini membayangkan bagaimana ia dan Ryan faktanya pernah menghabiskan waktu lumayan lama di Paris.
"Lo dulu bilang ke gue pas di Paris, kalo dia ngabisin terlalu banyak waktu buat bandnya, dan waktu itu siapa yang ada buat lo? Gue kan?? Dia? Dia ngapain waktu lo susah dulu di Paris? Waktu lo tiap hari dapet masalah disana, dirampok, dicap nggak pantes buat dapet beasiswa itu, waktu lo tiap hari nangis di depan kanvas. Dan lukisan apa yang bikin lo selamat dari ancaman drop out? Lukisan gue Shen, lukisan gue." Ujar Ryan.
Shenina terdiam, ia membenarkan. Apa yang dikatakam Ryan itu benar adanya. Ia tak mengada-ada, ia tak berbohong.
"Dan gue minta maaf soal kelakuan gue yang bikin lo kabur ke Indonesia itu, gue sama Jane nggak ada apa-apa. Dia cuma adek kelas gue yang butuh bantuan. Udah itu aja. Kita nggak seperti yang lo pikirin."
"So pleasee Shenina." Ryan meraih pergelangan tangan Shenina, menggenggamnya erat.
"Lo mau kan balik lagi sama gue?" Lanjutnya.
______
"Lo mau sarapan nggak?"
"Nggak usah gue langsung ke studio aja."
"Oh..oke."
"Oke."
Pagi ini canggung. Arina biasanya terbangun dengan posisi sendirian. Kali ini, saat ia bangun, sudah ada Sagara yang terlihat menonton televisi di ruang tengah.
Arina terdiam sambil berlalu begitu saja, kejadian semalam nyatanya membuatnya tidak tahu harus mengatakan apa kepada Sagara. Sagara pun nampaknya juga sama, ia buru-buru membuang muka saat ia dan Arina kebetulan saling tatap. Keduanya berusaha saling menghindar.
"Tadi gue udah bilang Keenan buat masang generator set di rumah ini. Biar lo nggak takut mati lampu lagi." Ujar Sagara.
"Oke thanks."
"Gue jalan dulu."
"Lo pulang nggak? Eh...m...maksud gue lo balik ke sini apa ke tempat Shenina?"
"Kenapa emang?"
"Nanya doang."
"Gue pulang kesini."
"O..oh."
Arina tersenyum kecil, namun buru-buru mengubah ekspresinya saat Sagara menatapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unwanted, Wound
FanfictionSagara tidak mengharapkan Arina di kehidupannya begitu pula sebaliknya, namun tidak ada yang tahu bagaimana skenario ini berakhir pada akhirnya. ______ menangis di jalan pulang (1:38 - 2:18) -was aksaramantra-
